Whoosh di Rel Geopolitik
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 05:44 WIB
Eko Ernada, Dosen Hubungan Internasional, Universitas Jember. Foto/Dok.SindoNews
Eko Ernada
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Jember
REL KERETA, dalam sejarah peradaban, selalu lebih dari sekadar infrastruktur transportasi. Ia adalah metafora kekuasaan—cara manusia menundukkan ruang dan waktu, menghubungkan pusat dan pinggiran, serta menegaskan bahwa kemajuan selalu mengandung dimensi politik.
Sejak revolusi industri di Inggris abad ke-19, rel menjadi simbol ekspansi imperium: dari Trans-Siberia di bawah kekaisaran Rusia hingga rel-rel kolonial yang membelah Asia dan Afrika. Di mana ada rel, di situ kekuasaan sedang beroperasi.
Proyek Whoosh, kereta cepat Jakarta–Bandung, berdiri di simpul sejarah itu. Ia bukan hanya proyek teknik, melainkan juga simbol politik—menyatukan ambisi domestik dan kepentingan geopolitik global dalam satu lintasan baja. Diresmikan di penghujung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Whoosh menjadi tonggak warisan pembangunan berbasis logika konektivitas dan percepatan modernisasi—sebuah gagasan yang dulu diimpikan Soekarno sebagai “jembatan emas” menuju keadilan sosial.
Dosen Hubungan Internasional, Universitas Jember
REL KERETA, dalam sejarah peradaban, selalu lebih dari sekadar infrastruktur transportasi. Ia adalah metafora kekuasaan—cara manusia menundukkan ruang dan waktu, menghubungkan pusat dan pinggiran, serta menegaskan bahwa kemajuan selalu mengandung dimensi politik.
Sejak revolusi industri di Inggris abad ke-19, rel menjadi simbol ekspansi imperium: dari Trans-Siberia di bawah kekaisaran Rusia hingga rel-rel kolonial yang membelah Asia dan Afrika. Di mana ada rel, di situ kekuasaan sedang beroperasi.
Proyek Whoosh, kereta cepat Jakarta–Bandung, berdiri di simpul sejarah itu. Ia bukan hanya proyek teknik, melainkan juga simbol politik—menyatukan ambisi domestik dan kepentingan geopolitik global dalam satu lintasan baja. Diresmikan di penghujung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Whoosh menjadi tonggak warisan pembangunan berbasis logika konektivitas dan percepatan modernisasi—sebuah gagasan yang dulu diimpikan Soekarno sebagai “jembatan emas” menuju keadilan sosial.
Lihat Juga :