Optimisme Pendidikan ke Depan

Senin, 13 Oktober 2025 - 15:39 WIB
World Population Review (WPR) membuat peringkat negara dengan sistem pendidikan terbaik dengan mengompilasi Laporan Negara Terbaik Tahunan Dunia yang dilakukan US News and World Report, BAV Group dan Wharton School of the University of Pennsylvania.

Laporan tersebut mensurvei ribuan orang di 78 negara, kemudian memeringkat negara-negara tersebut berdasarkan tanggapan survei. Juga ada laporan UN News Best Countries dan yayasan nonprofit World Top 20. Masing-masing laporan menyediakan satu bagian khusus untuk pendidikan. World Population Review memeringkat 208 negara-negara di dunia, namun peringkatnya hanya sampai 203.

Menurut World Population Review (WPR), Indonesia berada di peringkat dunia 67 dengan tingkat literasi 96%. Untuk peringkat di Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat 4. Peringkat sistem pendidikan terbaik negara di Asia Tenggara berdasarkan WPR adalah Singapura (11), Brunei (47), Vietnam (53), Indonesia (67), Timor Leste (69), Filipina (71), Malaysia (89), Laos (102), Thailand (107), Myanmar (109), dan Kamboja (120).

Indikator Optimisme

Indikator optimisme utama terkait dengan revitalisasi satuan pendidikan dari PAUD sampai SMA/SMK dan SLB. Program dengan anggaran Rp16,97 triliun berhasil melampaui target, yaitu dari target 10.440 dapat dialokasikan untuk 15.523 satuan pendidikan. Dalam lingkup Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah target awal sasaran penerima manfaat program hanya sebanyak 9.429 sekolah, terdiri atas 1.241 PAUD, 4.053 SD, 2.753 SMP, dan 1.382 SMA. Namun, jumlah tersebut telah dioptimalkan menjadi 16.170 sekolah.

Pencapaian juga tercatat di lingkup Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) yaitu mengalami kenaikan sekitar 100 persen dari target awal yaitu 982 satuan pendidikan menjadi 1.943 satuan pendidikan. Adapun total anggaran untuk program ini mencapai Rp3,1 triliun dengan progres pembangunan keseluruhan per September 2025 telah mencapai sekitar 60 persen.

Selain berdampak pada peningkatan mutu pendidikan, Kemendikdasmen juga terus memastikan program ini berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Dengan prinsip swakelola, penggunaan bahan baku bangunan hingga pekerja lokal yang terlibat dalam program ini telah memberikan dampak positif pagi perekonomian masyarakat. Salah satu terkait revitalisasi SLB negeri di Sulawesi Selatan. Testimoni salah seorang yang bekerja selama hampir dua bulan, upah yang diterimanya dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar keperluan sekolah anaknya, tanpa ia harus merantau jauh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!