Indonesia Kembali di Panggung Dunia: Dari Luka Kolonial ke Lumbung Pangan Global

Rabu, 01 Oktober 2025 - 10:55 WIB
Indonesia, dengan luka kolonial yang belum sepenuhnya sembuh, menjadikan solidaritas bukan pilihan tambahan, melainkan kewajiban moral. Itulah fondasi mengapa isu Gaza menyentuh hati rakyat Indonesia sedemikian rupa: karena penderitaan mereka mengingatkan pada sejarah kita sendiri.

Konflik Geopolitik dan Nurani Prabowo!

Bayangkan ketika dunia sedang besitegang, Prabowo mengurai kompleksitas itu dihadapan konstituen dunia dengan pidatonya. Ibaratnya dalam teori realisme klasik—dari Hans Morgenthau sampai Kenneth Waltz—politik internasional dilihat sebagai pertarungan kepentingan, kekuasaan, dan stabilitas. Negara bergerak seperti bidak catur: maju mundur sesuai kepentingan nasional, menjaga keseimbangan kekuatan, menghindari kadang menghadapi chaos.

Tapi, Prabowo, menambahkan lapisan lain: Politik nurani. Inilah yang membuat pernyataannya terasa melampaui kerangka realisme. Ia seakan-akan sedang membalik logika Waltzian yang menekankan struktur sistem internasional, dengan menunjukkan bahwa ada hal yang lebih kuat daripada distribusi kekuatan: ingatan kolektif tentang penderitaan.

Di sini Alexander Wendt, hadir yang menegaskan bahwa identitas, norma, dan pengalaman historis membentuk perilaku negara. Bagi Indonesia, solidaritas dengan Palestina bukan sekadar strategi politik luar negeri, tetapi sebuah normative identity yang dibangun sejak era Sukarno. Ketika Prabowo bicara soal mengirim pasukan kemanusiaan, ia tidak sedang menegakkan klaim power projection, melainkan mengartikulasikan identitas bangsa yang menolak ditindas dan menolak melihat penindasan dibiarkan.

Wacana Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia sebagai Kekuatan Diplomasi

Bangsa Di ruangan yang biasanya dipenuhi jargon diplomasi kering, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lain. Bukan hanya soal pangan, bukan sekadar tentang kapal bantuan yang akan berlayar ke Gaza atau wilayah krisis lain, tapi sebuah pernyataan tentang siapa Indonesia itu—dan siapa kita ingin menjadi.

Indonesia lahir dari sejarah lapar berkepanjangan. Kolonialisme bukan hanya soal perbudakan tenaga dan tanah, tapi juga pengendalian perut. Dari cultuurstelsel yang memaksa petani menanam tebu, kopi, dan nila, hingga paceklik di Jawa Tengah abad ke-19 yang merenggut ribuan nyawa, pengalaman itu membekas dalam ingatan kolektif bangsa. Tak heran jika sejak awal kemerdekaan, Bung Karno sudah mengingatkan: revolusi tak berarti apa-apa jika rakyat masih berebut nasi.

Sejak itu, pangan selalu menjadi urusan politik. Tahun 1985, Soeharto berdiri di markas FAO Roma menerima penghargaan karena Indonesia berhasil swasembada beras. Itu bukan sekadar seremoni internasional, melainkan simbol bahwa negeri yang dulu kelaparan bisa bangkit dengan kepala tegak.

Kini, di era Prabowo, narasi itu diberi nyawa baru. Bedanya, kalau dulu swasembada lebih diarahkan untuk konsumsi domestik, sekarang ia dijadikan basis untuk memainkan peran global! Prabowo menyadari, kedaulatan pangan tidak berhenti pada soal beras cukup di gudang Bulog. Ia harus diproyeksikan ke level dunia, sebagai kekuatan diplomasi. Maka ketika ia berdiri di mimbar PBB dan bicara soal bantuan pangan, itu bukan sekadar janji karitatif. Itu adalah deklarasi: Indonesia ingin hadir sebagai lumbung pangan dunia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!