Mencontoh Jenderal Soemitro: Mundur dari Jabatan, Gagal Atasi Demo Malari 1974
Kamis, 11 September 2025 - 18:40 WIB
Permintaan dialog dengan mahasiswa disetujui oleh Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka, tetapi mahasiswa kemudian membatalkan rencana pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka dan memilih melakukan aksi jalanan.
Aksi jalanan mahasiswa sudah dingatkan oleh Wakil Panglima ABRI dan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro, aksi demonstrasi jalanan sangat berbahaya, sebab Jakarta adalah kota yang memiliki kesenjangan sosial,ekonomi,pendidikan yang tinggi, demonstrasi mahasiswa yang digelar dijalan akan dimanfatkan oleh berbagai pihak untuk melakukan kerusuhan, penjarahan, pembakaran.
Prediksi Jenderal Soemitro ternyata benar, saat mahasiswa melakukan demo diluar kampus UI Salemba dimanfaatkan oleh massa gelap, mereka muncul diberbagai titik di Jakarta, melakukan pembakaran, penjarahan. massa yang ikut dalam demonstrasi umumnya anak anak, seusia pelajar SMP dan SMA. Pembakaran, penjarahan terjadi di kawasan Senen,Glodok, Blok M.
Ibu Kota Jakarta berada dalam situasi genting, rumah Asisten Pribadi Soeharto, Ali Murtopo dan Soedjono Hoemardani nyaris menjadi sasaran penyerangan oleh massa. Jenderal Soemitro mengarakan pasukan tentara untuk mencegah jangan sampai rumah Asisten Pribadi Presiden Soeharto diserang massa, sebab akan menghancurkan kehormatan ABRI dan pemerintah
Aparat keamanan berusaha untuk menegosiasi agar massa demostrasi tidak mendekati Istana Negara.
Sebab, kalau mahasiswa bisa melakukan demo di depan Istana Negara akan membuat malu Presiden Soeharto di depan tamu negara Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka.
Peristiwa Malari 1974, bukan hanya menyebabkan kerugian materi akibat pembakaran dan penjarahan tetapi juga banyak korban jiwa. Sumber resmi pemeritah data Korban Malari 1974, 11 orang meninggal, 685 mobil terbakar, 120 toko dijarah dan dirusak, 120 terluka.755 orang di amankan oleh aparat keamanan.
Dalam wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan Mantan Pangkobkamtib Jenderal Pur Sudomo tahun 2002, Sudomo menjelaskan penahanan terhadap Ketua Dema UI Hariman Siregar, sebagai pembelajaran, sebagai pemimpin mahasiswa Hariman Siregar dinilai melepas tanggung jawab atas akibat yang terjadi akibat dari demonstrasi mahasiswa yang dilakukan di luar kampus, sebelumnya telah disepakati demonstrasi boleh dilakukan tetapi hanya didalam kampus.
Ketua Dema UI Hariman Siregar dijatuhkan hukum enam tahun penjara , dan sempat diancaman hukuman mati, Hariman hanya menjalani hukuman tiga tahun, bebas tahun 1976 (Arsip UI 2023).
Aksi jalanan mahasiswa sudah dingatkan oleh Wakil Panglima ABRI dan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro, aksi demonstrasi jalanan sangat berbahaya, sebab Jakarta adalah kota yang memiliki kesenjangan sosial,ekonomi,pendidikan yang tinggi, demonstrasi mahasiswa yang digelar dijalan akan dimanfatkan oleh berbagai pihak untuk melakukan kerusuhan, penjarahan, pembakaran.
Prediksi Jenderal Soemitro ternyata benar, saat mahasiswa melakukan demo diluar kampus UI Salemba dimanfaatkan oleh massa gelap, mereka muncul diberbagai titik di Jakarta, melakukan pembakaran, penjarahan. massa yang ikut dalam demonstrasi umumnya anak anak, seusia pelajar SMP dan SMA. Pembakaran, penjarahan terjadi di kawasan Senen,Glodok, Blok M.
Ibu Kota Jakarta berada dalam situasi genting, rumah Asisten Pribadi Soeharto, Ali Murtopo dan Soedjono Hoemardani nyaris menjadi sasaran penyerangan oleh massa. Jenderal Soemitro mengarakan pasukan tentara untuk mencegah jangan sampai rumah Asisten Pribadi Presiden Soeharto diserang massa, sebab akan menghancurkan kehormatan ABRI dan pemerintah
Aparat keamanan berusaha untuk menegosiasi agar massa demostrasi tidak mendekati Istana Negara.
Sebab, kalau mahasiswa bisa melakukan demo di depan Istana Negara akan membuat malu Presiden Soeharto di depan tamu negara Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka.
Peristiwa Malari 1974, bukan hanya menyebabkan kerugian materi akibat pembakaran dan penjarahan tetapi juga banyak korban jiwa. Sumber resmi pemeritah data Korban Malari 1974, 11 orang meninggal, 685 mobil terbakar, 120 toko dijarah dan dirusak, 120 terluka.755 orang di amankan oleh aparat keamanan.
Dalam wawancara yang dilakukan oleh penulis dengan Mantan Pangkobkamtib Jenderal Pur Sudomo tahun 2002, Sudomo menjelaskan penahanan terhadap Ketua Dema UI Hariman Siregar, sebagai pembelajaran, sebagai pemimpin mahasiswa Hariman Siregar dinilai melepas tanggung jawab atas akibat yang terjadi akibat dari demonstrasi mahasiswa yang dilakukan di luar kampus, sebelumnya telah disepakati demonstrasi boleh dilakukan tetapi hanya didalam kampus.
Ketua Dema UI Hariman Siregar dijatuhkan hukum enam tahun penjara , dan sempat diancaman hukuman mati, Hariman hanya menjalani hukuman tiga tahun, bebas tahun 1976 (Arsip UI 2023).
Pelajaran Berharga
Peristiwan Malari 1974, memberikan pelajaran berharga kepada bangsa Indonesia yang saat ini mengalami gejolak politik, akibat demontrasi mahasiswa dan masyarakat sipil yang berlangsung Agustus-September 2025.Lihat Juga :