Hilangnya Sense of Social Crisis

Minggu, 31 Agustus 2025 - 22:45 WIB
Dosen FDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Siti Napsiyah Ariefuzzaman. FOTO/IST
Siti Napsiyah Ariefuzzaman

Dosen FDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



Mengapa Harus Demo?

Gelombang demonstrasi di Jakarta dan di kota-kota besar di Indonesia di akhir bulan (25-29 Agustus 2025) menjadi peristiwa yang harus dijadikan sebagai pembelajaran bagi Indonesia. Banyak pemerhati, mantan politisi, dan pengamat sosial menilai peristiwa ini sebagai akumulasi kemarahan rakyat Indonesia atas perilaku para wakilnya yang saat ini duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), baik pusat maupun daerah. Misalnya, Jusuf Kalla (mantan Wakil Presiden RI) dan Nicky Fahrical (peneliti CSIS), keduanya menilai banyak kebijakan yang tidak sesuai dengan nalar publik dan tidak tepat sasaran. Ditambah sikap dan perkataan pejabat yang terkesan sangat arogan (dikutip dari berbagai sumber).

Kenaikan anggaran untuk gaji dan tunjangan bagi DPR, menurut penulis, merupakan wujud dari tidak adanya perasaan krisis sosial (sense of social crisis) di hati mereka yang menyebut dirinya wakil rakyat. Ini ketimpangan sosial namanya. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Hampir semua kelas merasakan impitan masalah ekonomi. Gaji pas-pasan, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di mana-mana, sulitnya mencari pekerjaan, mahalnya biaya hidup, dan kemiskinan di mana-mana, tapi gaji dan tunjangan anggota Dewan ratusan juta. Ini ironi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!