Hilangnya Sense of Social Crisis
Minggu, 31 Agustus 2025 - 22:45 WIB
Di sinilah, rakyat mulai menyampaikan ketidaksetujuan atas kenaikan gaji yang tidak setara dengan kinerja anggota Dewan. Mereka menyuarakan melalui berbagai platform media digital yang kemudian cepat menyebar dan dapat direspons oleh anggota Dewan. Namun apa yang terjadi, tanpa kita duga beberapa oknum anggota Dewan justru merespons dengan kalimat-kalimat kasar, kalimat menyindir, dan bahkan mereka mempertontonkan euphoria kegembiraan mereka dengan berjoget di rumah wakil rakyat. Secara etis, tentu ini sangat menyakitkan bagi warga. Bukannya mereka menunjukkan sensitivitas mereka dengan kondisi ketimpangan sosial ekonomi masyarakat, mereka justru, berkata dan bersikap dengan sangat tidak menunjukkan empati.
Sebagai masyarakat yang sudah mulai kritis dan teredukasi, kita dapat melihat bahwa pemerintah tidak memiliki rasa keberpihakan terhadap keadilan sosial (sense of social justise) dan kepanikan sosial (social crisis). Rakyat tentu protes atas ketidakkonsistenan pemerintah, satu sisi semua diminta untuk melakukan efisiensi, atau bahasa orang awam "ngiritisasi" anggaran, namun justru anggota DPR dan para pejabat tetap hidup bermewah-mewah.
Pada tanggal 25 Agustus 2025, massa yang kebanyakan mengatasnamakan mahasiswa mulai bergerak menuju Gedung DPR RI untuk menuntut pembatalan kenaikan gaji dan berbagai tunjangan bagi anggota Dewan. Aksi demo kemudian meluas, tidak hanya mahasiswa, namun juga dari komponen buruh. Salah satu peserta demo yang saat itu ditanya oleh wartawan (BBC News Indonesia), Alfin, pengemudi ojek online yang ikut demo bersama rekan-rekannya menyatakan, "Saya sengaja ikut demo karena di mata saya kebijakan pemerintah tidak mendukung rakyat. Kami susah mencari uang, tapi gaji mereka besar sekali."
Ia mengaku mengetahui informasi demo dari media sosial. Alfin juga menyesalkan sikap aparat keamanan (polisi) yang berjaga saat aksi demo yang memakai atribut lengkap dan senjata. Benar, awalnya pendemo tidak melakukan aksi anarkis, mereka hanya turut berkumpul dan saling mendengarkan atau menyampaikan orasi menuntut pembatalan kenaikan gaji bagi anggota Dewan di tengah kemiskinan rakyat. Namun, saat aparat bertindak kasar, para demonstran berteriak agar polisi tidak menggunakan gas air mata. Mereka juga berteriak "kalian digaji pakai uang kami".
Isu kenaikan gaji yang ternyata direspons oleh beberapa anggota Dewan yang sayangnya mereka berasal berlatar belakang artis dengan sikap dan kalimat yang membuat rakyat marah. Maka eskalasi tuntutan rakyat menjadi "Bubarkan DPR". Maka aksi demonstrasi semakin meluas dilakukan oleh massa di Gedung DPR, tidak hanya mahasiswa yang datang, mereka juga berasal dari kalangan pelajar, buruh, driver ojol, dan rakyat umum (tampak emak-emak bahkan berorasi di barisan paling depan).
Sebagai masyarakat yang sudah mulai kritis dan teredukasi, kita dapat melihat bahwa pemerintah tidak memiliki rasa keberpihakan terhadap keadilan sosial (sense of social justise) dan kepanikan sosial (social crisis). Rakyat tentu protes atas ketidakkonsistenan pemerintah, satu sisi semua diminta untuk melakukan efisiensi, atau bahasa orang awam "ngiritisasi" anggaran, namun justru anggota DPR dan para pejabat tetap hidup bermewah-mewah.
Pada tanggal 25 Agustus 2025, massa yang kebanyakan mengatasnamakan mahasiswa mulai bergerak menuju Gedung DPR RI untuk menuntut pembatalan kenaikan gaji dan berbagai tunjangan bagi anggota Dewan. Aksi demo kemudian meluas, tidak hanya mahasiswa, namun juga dari komponen buruh. Salah satu peserta demo yang saat itu ditanya oleh wartawan (BBC News Indonesia), Alfin, pengemudi ojek online yang ikut demo bersama rekan-rekannya menyatakan, "Saya sengaja ikut demo karena di mata saya kebijakan pemerintah tidak mendukung rakyat. Kami susah mencari uang, tapi gaji mereka besar sekali."
Ia mengaku mengetahui informasi demo dari media sosial. Alfin juga menyesalkan sikap aparat keamanan (polisi) yang berjaga saat aksi demo yang memakai atribut lengkap dan senjata. Benar, awalnya pendemo tidak melakukan aksi anarkis, mereka hanya turut berkumpul dan saling mendengarkan atau menyampaikan orasi menuntut pembatalan kenaikan gaji bagi anggota Dewan di tengah kemiskinan rakyat. Namun, saat aparat bertindak kasar, para demonstran berteriak agar polisi tidak menggunakan gas air mata. Mereka juga berteriak "kalian digaji pakai uang kami".
Isu kenaikan gaji yang ternyata direspons oleh beberapa anggota Dewan yang sayangnya mereka berasal berlatar belakang artis dengan sikap dan kalimat yang membuat rakyat marah. Maka eskalasi tuntutan rakyat menjadi "Bubarkan DPR". Maka aksi demonstrasi semakin meluas dilakukan oleh massa di Gedung DPR, tidak hanya mahasiswa yang datang, mereka juga berasal dari kalangan pelajar, buruh, driver ojol, dan rakyat umum (tampak emak-emak bahkan berorasi di barisan paling depan).
Lihat Juga :