Menyiapkan Energi Terbarukan

Senin, 07 September 2020 - 06:45 WIB
Target tersebut terbilang berat mengingat pasokan energi primer Indonesia saat ini masih didominasi sumber-sumber yang berasal dari fosil. Maklum, sumber energi primer untuk pembangkit listrik saat ini masih didominasi oleh batu bara, gas, dan minyak.

Namun demikian, bukan berarti penggunaan EBT dalam bauran energi primer tidak bisa dilakukan. Buktinya, jika pada 2019 lalu porsi penggunaan EBT masih berkutat di angka 9,15%, tahun ini hingga Mei lalu, kontribusnya mencapai 14,9%. Energi yang berasal dari batu bara masih mendominasi yakni 63,9%, gas 18% dan lainnya.

Secara terperinci, dari angkat 14,95% porsi EBT dalam produksi listrik nasional, sebanyak 8,17% berasal dari pembangkit bertenaga hydro (air), 5,84% panas bumi, 0,74% bahan bakar nabati, dan 0,20% dari jenis EBT lainnya.

Melihat komposisi seperti di atas, tantangan berat jelas menanti para pemangku kepentingan untuk merealisasikan rasio EBT. Namun, di satu sisi kita perlu mengembangkan energi yang lebih bersih, di sisi lain harus diperhatikan tingkat keandalan sebuah pembangkit jika ingin digunakan sebagai beban dasar (base load) dalam sebuah sistem kelistrikan.

Bicara EBT, ada banyak faktor yang mesti diperhatikan. Salah satunya tadi, keandalan. Sebuah pembangkit listrik bisa dikatakan andal apabila mampu menyuplai daya secara terus menerus sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Nah, pembangkit EBT yang sumber energinya bergantung pada kondisi alam seperti air, angin, atau surya, jelas menjadi tantangan tersendiri dalam hal suplainya.

Tidak semua sumber-sumber energi tersebut tersedia sepanjang tahun. Angin misalnya, dalam setahun hanya pada bulan-bulan tertentu saja yang bisa optimal. Air juga demikian, jika musim kemarau suplainya sudah pasti berkurang. Sementara matahari, paling lama hanya bisa bisa diserap energinya maksimal delapan jam sehari, itu pun hanya di daerah tertentu. Pembangkit listrik tenaga surya ini bisa lebih optimal apabila memiliki perangkat baterai berkapasitas besar untuk menyimpan listriknya. Konsekuensinya, biaya investasi akan lebih mahal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!