Petani Nelayan Terlempar dari Lahannya oleh Pinokio Sudah Biasa

Senin, 27 Januari 2025 - 15:51 WIB
Menyimak ”drama laut di pagar” pemberitaan, mungkin sebagian masyarakat termasuk penulis, kecewa (pemerintah) negara lama bertindak pada kasus tersebut, terkesan membela pemagar laut.

Padahal sebelumnya juga banyak pemberitaan di media sosial soal tanah milik masyarakat yang ”dipaksa” untuk dijual dengan berbagai dalih untuk pembangunan sebuah proyek.

Bila memperhatikan ”drama pemberitaan” jadi teringat tokoh dongeng Petualangan Pinokio, apakah aparatur kita sudah jadi ”pinokio” semuanya. Pinokio adalah tokoh sentral dalam cerita Petualangan Pinokio karangan Carlo Collodi dari Italia pada 7 Juli 1881.

Pinokio adalah sebuah boneka kayu yang hidungnya akan memanjang jika sedang berbohong. Hidung Pinokio tidak jadi panjang lagi, jika berbicara jujur.

Seorang penyair dan pengarang dongeng dari Yunani, Claudius Aesopus (620-564 SM), pernah mengatakan, ”Seorang pembohong tidak akan dipercaya bahkan ketika ia berbicara tentang kebenaran.”

Di zaman yang lain, Robert Green Ingersoll, pengacara dan politikus dari AS (1833-1899), mengatakan hal yang hampir sama dengan rumusan yang lain, ”Sebuah kebohongan tidak akan cocok dengan apa pun, kecuali dengan kebohongan lainnya.”

Friedrich Nietzsche (1844-1900), ilmuwan dan filsuf asal Jerman yang hidup sezaman dengan Robert Green Ingersoll, juga berbicara soal kebohongan. ”Saya tidak sedih kalau Anda telah membohongi saya, tetapi saya justru sedih karena sejak saat itu saya tidak bisa percaya lagi kepada Anda.”

Namun, petinggi Partai Nazi yang juga tangan kanan Adolf Hitler, Paul Joseph Goebbels (1897-1945), tidak peduli dengan omongan Nietzche itu walau sama-sama orang Jerman. Goebbels bahkan mengatakan, ”Kebohongan yang diucapkan terus-menerus niscaya akan dipercaya sebagai sebuah kebenaran.”

Kebohongan, pemutarbalikan fakta, berita-berita hoaks, dan semacamnya menimbulkan dampak buruk di masyarakat, misalnya memunculkan sifat saling membenci, tidak percaya, dan kesombongan. Apalagi masalah kepentingan publik, dan kewibawaan negara sudah direndahkan, tidak dianggap lagi.

Berlarut-larutnya penanganan pemagaran laut ini, menimbulkan berbagai spekulasi dan ketidaknyamanan di masyarakat, khususnya masyarakat pesisir kabupaten Tangerang yang menggantungkan hidupnya pada laut, tambak, sungai dan persawahan.

Akankah masyarakat pesisir Tangerang akan terlempar juga dari habitatnya, seperti digambarkan Cliffoord Geertz, dalam penelitiannya di Mojokuto.

Petani terlempar dari lahan persawahan bukan merupakan gejala baru di Indonesia. Penelitian Cliffoord Geertz di Mojokuto menunjukkan bahwa sekurang-kurangnya sudah terjadi sejak zaman kolonial, sekitar abad 19 (Geertz, 1964).

Dalam beberapa dekade terakhir gejala yang sama muncul akibat dari berbagai kebijakan yang diambil pemerintah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!