Merdeka Berpikir

Jum'at, 28 Agustus 2020 - 06:30 WIB
Asep Sumaryana
Asep Sumaryana

Kepala Departemen Administrasi Publik FISIP-Unpad



BERPIKIR memang bisa bebas menembus ruang dan waktu. Namun, mewujudkan hasilnya pastilah terikat ruang dan waktu itu sendiri. Di dalamnya ada etika dan nilai yang berlaku di suatu tempat atau kurun waktu tertentu. Untuk mewujudkannya, hasil berpikir perlu diuji dan didiskusikan agar tidak melabrak kaidah yang ada. Tidak heran jika aspek kritis, skeptis, analitis dan objektif menjadi bagian dari diskusi tersebut agar hasil berpikirnya diterima banyak pihak.

Dalam kehidupan kampus, dikenal lama kebebasan mimbarnya. Tentu saja dengan aktivitas seperti itu, kampus menjadi lembaga yang independen dan netral yang sanggup memberikan solusi atas masalah yang ada. Boleh jadi pemikiran akademisi lebih keras ketimbang Jerinx yang berbuntut kasus. Namun, karena ada media dialog, pemikiran yang melangit pun diturunkan ke daratan agar membumi. Dosen dan mahasiswa menjadi aktor penting dalam kemerdekaan seperti itu. Tugas dosennya mendorong kemampuan anak asuhnya dengan cara andragogi. Di situlah letak pengasuhan sambil diasah dan dikasihi agar berbuat pemikiran cerdas.

Mentor
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!