Otak-Atik Kebijakan Bendung Ancaman Inflasi
Senin, 04 Maret 2024 - 07:22 WIB
Penting untuk dicatat bahwa tidak semua tingkat inflasi memiliki dampak negatif yang sama. Inflasi yang moderat dan stabil, dalam beberapa kasus, dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan mendorong konsumsi dan investasi. Sejarah mencatat bahwa ada berbagai pandangan mengenai dampak inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi antara lain pada tahun 1958, Philips menyatakan bahwa inflasi yang tinggi secara positif mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan tingkat pengangguran.
Pendapat tersebut juga didukung oleh para tokoh perspektif struktural dan keynesian yang percaya bahwa inflasi tidak berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi sedangkan pandangan monetarist berpendapat bahwa inflasi berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut didukung oleh peristiwa pada tahun 1970 di mana negara-negara dengan inflasi yang tinggi terutama negara-negara Amerika Latin mulai mengalami penurunan tingkat pertumbuhan sehingga menyebabkan munculnya pandangan yang menyatakan bahwa inflasi memiliki efek negatif pada pertumbuhan ekonomi bukan efek positif.
Secara keseluruhan, inflasi adalah fenomena kompleks yang memiliki dampak yang luas terhadap masyarakat dan ekonomi secara keseluruhan. Pemahaman yang baik tentang sifat, penyebab, dan konsekuensi inflasi sangat penting bagi pembuat kebijakan untuk merancang strategi yang efektif dalam mengelola dan mengatasi tantangan ekonomi yang terkait dengan inflasi. Artinya, kebijakan moneter yang tepat, seperti kontrol suku bunga oleh bank sentral, dapat membantu menjaga inflasi pada tingkat yang dapat diterima.
Hal tersebut dipicu lantaran kenaikan harga bahan bakar minyak. Selanjutnya pada 2023, tingkat inflasi Indonesia berhasil terkendali di angka 2,61% secara tahunan. Capaian keberhasilan pengendalian inflasi Indonesia di tahun 2023 juga disebut menjadi salah satu yang terendah, di antara negara-negara G20 lainnya. Misalnya, Argentina (211 persen yoy), Turki (64,77 persen yoy), Rusia (7,40 persen yoy), India (5,69 persen yoy), Afrika Selatan (5,10 persen yoy), Inggris (4,00 persen yoy), dan Amerika Serikat (3,40 persen yoy). Meski demikian, tantangan masih tetap ada dan harus waspada, terutama dengan adanya faktor-faktor eksternal seperti fluktuasi harga minyak pangan dan energi akibat ketegangan politik, serta perubahan kebijakan global yang dapat memengaruhi inflasi di Indonesia.
Berkaca pada keberhasilan Indonesia dalam pengendalian inflasi di tahun 2023 lalu cukup memberikan optimisme bahwa laju inflasi di tahun 2024 pun akan terkendali di kisaran 2,5% plus minus satu persen. Target tersebut turun sedikit dari target inflasi tahun lalu yang dipatok di tiga persen plus minus satu persen. Upaya menjaga inflasi berfokus pada pengendalian harga pangan bergejolak dan penerapan program bantuan langsung tunai bernilai Rp11,25 triliun.
Saat ini, inflasi harga pangan bergejolak (volatile food), menjadi salah satu fokus pemerintah dalam upaya pengendalian inflasi untuk menjaga daya beli masyarakat. Hal tersebut lantaran selain berkontribusi signifikan terhadap inflasi inti, gejolak pangan juga langsung berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada Desember 2023 Indonesia mengalami inflasi makanan 6,18% (year-on-year/yoy). Angka itu menjadikan inflasi makanan Indonesia tertinggi ke-4 di ASEAN.
Pendapat tersebut juga didukung oleh para tokoh perspektif struktural dan keynesian yang percaya bahwa inflasi tidak berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi sedangkan pandangan monetarist berpendapat bahwa inflasi berbahaya bagi pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut didukung oleh peristiwa pada tahun 1970 di mana negara-negara dengan inflasi yang tinggi terutama negara-negara Amerika Latin mulai mengalami penurunan tingkat pertumbuhan sehingga menyebabkan munculnya pandangan yang menyatakan bahwa inflasi memiliki efek negatif pada pertumbuhan ekonomi bukan efek positif.
Secara keseluruhan, inflasi adalah fenomena kompleks yang memiliki dampak yang luas terhadap masyarakat dan ekonomi secara keseluruhan. Pemahaman yang baik tentang sifat, penyebab, dan konsekuensi inflasi sangat penting bagi pembuat kebijakan untuk merancang strategi yang efektif dalam mengelola dan mengatasi tantangan ekonomi yang terkait dengan inflasi. Artinya, kebijakan moneter yang tepat, seperti kontrol suku bunga oleh bank sentral, dapat membantu menjaga inflasi pada tingkat yang dapat diterima.
Dinamika Inflasi di Indonesia
Adapun laju inflasi global saat ini telah mencatatkan tren penurunan, namun masih berada pada level yang tinggi, di mana pada kuartal III/2023 tercatat sebesar 5,4% secara tahunan (yoy). Bank Indonesia mencatat bahwa di kuartal IV – 2023, inflasi global diperkirakan hanya akan turun tipis menjadi sebesar 5,1% (yoy). Di sisi lain, data BPS mencatat bahwa inflasi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung stabil dan mengalami penurunan. Indonesia mengalami kenaikan inflasi hingga menyentuh 5,51% pada 2022, melebihi target tahunan Bank Indonesia pada kisaran 2%-4%.Hal tersebut dipicu lantaran kenaikan harga bahan bakar minyak. Selanjutnya pada 2023, tingkat inflasi Indonesia berhasil terkendali di angka 2,61% secara tahunan. Capaian keberhasilan pengendalian inflasi Indonesia di tahun 2023 juga disebut menjadi salah satu yang terendah, di antara negara-negara G20 lainnya. Misalnya, Argentina (211 persen yoy), Turki (64,77 persen yoy), Rusia (7,40 persen yoy), India (5,69 persen yoy), Afrika Selatan (5,10 persen yoy), Inggris (4,00 persen yoy), dan Amerika Serikat (3,40 persen yoy). Meski demikian, tantangan masih tetap ada dan harus waspada, terutama dengan adanya faktor-faktor eksternal seperti fluktuasi harga minyak pangan dan energi akibat ketegangan politik, serta perubahan kebijakan global yang dapat memengaruhi inflasi di Indonesia.
Berkaca pada keberhasilan Indonesia dalam pengendalian inflasi di tahun 2023 lalu cukup memberikan optimisme bahwa laju inflasi di tahun 2024 pun akan terkendali di kisaran 2,5% plus minus satu persen. Target tersebut turun sedikit dari target inflasi tahun lalu yang dipatok di tiga persen plus minus satu persen. Upaya menjaga inflasi berfokus pada pengendalian harga pangan bergejolak dan penerapan program bantuan langsung tunai bernilai Rp11,25 triliun.
Saat ini, inflasi harga pangan bergejolak (volatile food), menjadi salah satu fokus pemerintah dalam upaya pengendalian inflasi untuk menjaga daya beli masyarakat. Hal tersebut lantaran selain berkontribusi signifikan terhadap inflasi inti, gejolak pangan juga langsung berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada Desember 2023 Indonesia mengalami inflasi makanan 6,18% (year-on-year/yoy). Angka itu menjadikan inflasi makanan Indonesia tertinggi ke-4 di ASEAN.
Memperkuat Sinergitas Pengendalian Inflasi
Inflasi yang kian melambung merupakan tanda bahaya bagi keberlangsungan negara. Tak hanya soal ekonomi, inflasi yang meroket berpotensi meningkatkan instabilitas politik. Beberapa kasus, seperti saat masa ”Musim Semi Arab” dan krisis di Sri Lanka, menunjukkan bahwa inflasi yang tidak terkontrol dapat memantik protes besar-besaran hingga berujung pada gejolak politik dan penggulingan rezim pemerintahan. Oleh sebab itu, tak heran bila upaya pengendalian tingkat inflasi menjadi agenda utama bagi pemerintah di banyak negara.Lihat Juga :