Robohnya Etika Pemimpin Negeri Kami
Selasa, 14 November 2023 - 19:44 WIB
Politik dan seni tumbuhmenjadi satu tatkala yang etis dibaca dalam tubuh sosok dan karya-karya mereka bertiga. Sebut saja Jean-Jacques Rousseau seorang komposer musik ciamik yang meneguhkan tentang prinsip bahwa penguasa—yakni, Raja Perancis— wajib diikat sebagai aturan ketat mengenai kekuasaannya, semata-mata berbasis kontrak-sosial dengan publik, tak lagi menyoal keturunan-darah.
Demikian juga, cendikia serta filsuf ternama Montesque yang bergiat sebagai dramawan tenar dan kritikus cerlang tentang estetika dalam seni. Jelas-jelas ia meneruskan filsuf John Locke dari Inggris tentang teori Trias Politica yang fenomenal itu. Layaknya penguasa, dalam hal ini penyelenggara negara seharusnya terbagi atas tiga kuasa, yakni legislatif, yudikatif dan eksekutif. Seperti kita tahu, justru di Indonesia ketiga-nya tak saling mengingatkan, namun semua bersatu dalam “kegelapan-kegelapan kebangsaan”.
Sementara, Voltaire dengan tajam surat-suratnya, karya esai-esainya, sebagai sastrawan dan cendikia politik membawa ia sebuah keyakinan bahwa semestinya penguasa wajib dikontrol, bahkan raja sekalipun, tak ada kekuasaan di muka bumi ini yang absolut dalam diri manusia.
Tangisan Tardji dan Air Mata Rakyat
Sebagai koordinator dan kurator seni pada bulan sakral yang bersisihan, Oktober (Sumpah Pemuda) dan juga November (Hari Pahlawan), penulis dan tim panitia penyelenggara eksibisi mengundang penyair hebat Melayu kontemporer kita, Sutardji Colzum Bachri dalam rangkaian acara Orasi Budaya oleh Anies Rasyid Baswedan dan Cak Muhaimin Iskandar serta sejumlah pelukis dan penari juga sastrawan.
Penulis benar-benar tercenung tatkala puisi Tanah Air Mata, yang diciptakan tahun 1991 yang menggambarkan perlawanan sosial dari seorang sastrawan atas realitas kehidupan yang dihadapi oleh rakyat, yang tentunya sangat kontekstual pada saat ini.
Tanah Air Mata
tanah airmata tanah tumpah darahku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
Demikian juga, cendikia serta filsuf ternama Montesque yang bergiat sebagai dramawan tenar dan kritikus cerlang tentang estetika dalam seni. Jelas-jelas ia meneruskan filsuf John Locke dari Inggris tentang teori Trias Politica yang fenomenal itu. Layaknya penguasa, dalam hal ini penyelenggara negara seharusnya terbagi atas tiga kuasa, yakni legislatif, yudikatif dan eksekutif. Seperti kita tahu, justru di Indonesia ketiga-nya tak saling mengingatkan, namun semua bersatu dalam “kegelapan-kegelapan kebangsaan”.
Sementara, Voltaire dengan tajam surat-suratnya, karya esai-esainya, sebagai sastrawan dan cendikia politik membawa ia sebuah keyakinan bahwa semestinya penguasa wajib dikontrol, bahkan raja sekalipun, tak ada kekuasaan di muka bumi ini yang absolut dalam diri manusia.
Tangisan Tardji dan Air Mata Rakyat
Sebagai koordinator dan kurator seni pada bulan sakral yang bersisihan, Oktober (Sumpah Pemuda) dan juga November (Hari Pahlawan), penulis dan tim panitia penyelenggara eksibisi mengundang penyair hebat Melayu kontemporer kita, Sutardji Colzum Bachri dalam rangkaian acara Orasi Budaya oleh Anies Rasyid Baswedan dan Cak Muhaimin Iskandar serta sejumlah pelukis dan penari juga sastrawan.
Penulis benar-benar tercenung tatkala puisi Tanah Air Mata, yang diciptakan tahun 1991 yang menggambarkan perlawanan sosial dari seorang sastrawan atas realitas kehidupan yang dihadapi oleh rakyat, yang tentunya sangat kontekstual pada saat ini.
Tanah Air Mata
tanah airmata tanah tumpah darahku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
Lihat Juga :