Resesi AS Ganggu Ekonomi Nasional
Rabu, 05 Agustus 2020 - 06:23 WIB
Selain AS dengan kekuatan ekonomi nomor satu di dunia yang kini masuk jurang resesi ekonomi karena dampak pandemi Covid-19, yang dikabarkan telah menelan korban jiwa sebanyak 662.095 berdasarkan publikasi data dari Word Helth Organization (WHO) per 30 Juli 2020, juga menyeret Singapura, Korea Selatan, Hong Kong, dan Jerman. Sejak 14 Juli lalu, negeri jiran Singapura sudah mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonominya mengalami kontraksi sekitar 41,2% pada kuartal kedua dan kontraksi sekitar 2,2% pada kuartal pertama 2020. Selanjutnya, Korea Selatan resmi memasuki resesi ekonomi yang dipublikasikan pada 23 Juli lalu. Salah satu kontribusi terbesar dalam perekonomian Negeri Ginseng itu adalah bidang ekspor hampir 40% menciut tinggal 16,6% atau terburuk sejak 1963. Lalu, ekonomi Hong Kong juga babak belur bukan hanya disebabkan pandemi Covid-19 juga dipicu maraknya demonstrasi antipemerintah dan perang dagang AS dengan China. Dan, Jerman dengan kontraksi ekonomi sekitar 10,1% pada kuartal kedua 2020.
Bagaimana dengan perekonomian Indonesia, bisakah selamat dari terjangan resesi ekonomi? Kuncinya terletak pada angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga. Karena itu, pemerintah berjibaku bagaimana merealisasikan penyerapan anggaran pemulihan ekonomi nasional yang besarannya mencapai sebesar Rp695 triliun. Pemerintah meyakini apabila daya serap anggaran PEN bisa dimaksimalkan maka akan berkontribusi sekitar 1,4% terhadap pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini. Artinya, dua triwulan ke depan diharapkan pertumbuhan ekonomi tidak negatif sehingga Indonesia bisa bebas dari hantu resesi ekonomi. Sayangnya, dari publikasi pemerintah, anggaran PEN yang terserap masih di bawah 30% hingga awal triwulan ketiga.
Jadi, untuk menghindari resesi ekonomi yang sudah di depan mata maka pemerintah harus bekerja ekstrakeras dengan jalan menggenjot belanja negara untuk menggerakkan roda perekonomian. Tak sedikit masyarakat awam bertanya apa yang akan terjadi bila Indonesia masuk jurang resesi ekonomi? Penjelasan sederhananya adalah bila terjadi resesi ekonomi menyebabkan aktivitas perekonomian melambat yang menghadirkan badai pemutusan hubungan kerja (PHK) dan ujung-ujungnya melahirkan pengangguran lalu menambah angka kemiskinan.
Bagaimana dengan perekonomian Indonesia, bisakah selamat dari terjangan resesi ekonomi? Kuncinya terletak pada angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan ketiga. Karena itu, pemerintah berjibaku bagaimana merealisasikan penyerapan anggaran pemulihan ekonomi nasional yang besarannya mencapai sebesar Rp695 triliun. Pemerintah meyakini apabila daya serap anggaran PEN bisa dimaksimalkan maka akan berkontribusi sekitar 1,4% terhadap pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun ini. Artinya, dua triwulan ke depan diharapkan pertumbuhan ekonomi tidak negatif sehingga Indonesia bisa bebas dari hantu resesi ekonomi. Sayangnya, dari publikasi pemerintah, anggaran PEN yang terserap masih di bawah 30% hingga awal triwulan ketiga.
Jadi, untuk menghindari resesi ekonomi yang sudah di depan mata maka pemerintah harus bekerja ekstrakeras dengan jalan menggenjot belanja negara untuk menggerakkan roda perekonomian. Tak sedikit masyarakat awam bertanya apa yang akan terjadi bila Indonesia masuk jurang resesi ekonomi? Penjelasan sederhananya adalah bila terjadi resesi ekonomi menyebabkan aktivitas perekonomian melambat yang menghadirkan badai pemutusan hubungan kerja (PHK) dan ujung-ujungnya melahirkan pengangguran lalu menambah angka kemiskinan.
(ras)