MPR: Selamatkan Masa Depan Anak Indonesia

Jum'at, 24 Juli 2020 - 08:08 WIB
Sejalan dengan semangat tersebut, MPR menyelenggarakan kegiatan pemasyarakatan empat pilar MPR dalam kerangka pembangunan karakter bangsa (nation character building). Empat pilar MPR adalah Pancasila sebagai dasar negara, landasan ideologi, falsafah, dan etika moral bangsa; Undang-Undang Dasar Negara Republik Tahun 1945 sebagai landasan konstitusional; Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai konsensus bentuk kedaulatan negara; dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat pemersatu dalam kemajemukan bangsa.

”MPR RI mengajak peran serta seluruh komponen bangsa, termasuk para guru dan orang tua, untuk senantiasa menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar MPR tersebut sebagai rujukan dan bagian tak terpisahkan dalam proses mendidik dan mengasuh anak,” tuturnya.

Bamsoet meyakini anak-anak Indonesia mempunyai kemampuan melebihi anak-anak di negara lain. Begitu banyak anak bangsa yang telah menorehkan prestasi internasional di tengah keterbatasan ekonomi dan sosial. Dia menyebut nama Joey Alexander, pianis berusia 13 tahun yang mendapatkan nominasi Grammy Award 2016. Ada juga Yuma Soerianto, programmer termuda di konferensi World Wide Developers Conference 2017, yang membuat CEO Apple Tim Cook terkagum-kagum. Ataupun Rafi Abdurrahman Ridwan, desainer disabilitas yang berhasil menjadi perancang busana untuk acara America's Next Top Model.

"Selain menjadi penyejuk jiwa, anak merupakan masa depan peradaban bangsa. Hal ini menunjukkan kuatnya korelasi antara upaya perlindungan anak dengan upaya memajukan bangsa dan negara. Karena itu, sangat penting bagi anak-anak Indonesia bisa lahir, tumbuh, dan berkembang dalam lingkungan sosial yang sehat," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Family and Women’s Specialist Forum Perkumpulan Lions Indonesia Multi Distrik 307 yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah dari Provinsi DKI Jakarta, Sylviana Murni, mengatakan, anak adalah aset masa depan bangsa. Mereka akan menjadi generasi emas pada 2045 mendatang. Karena itu, di tengah pandemi Covid-19 ini anak-anak harus tetap bisa belajar dengan baik, meski harus belajar di rumah. (Lihat videonya: Maling Kambing jadi Bulan-bulanan Warga)

”Bagaimana infrastruktur teknologi, gadget, kalau mau pendidikan jarak jauh? Jangan lupa dipikirkan pulsa mahal. Ingat, pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat, daerah, swasta dan masyarakat. PJJ sangat beda dengan belajar tatap muka. Mari, kita cari solusi supaya belajar tatap muka bisa dilakukan dengan tetap menjaga protokol kesehatan,” tuturnya. (Abdul Rochim)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!