Puasa dan Keberagamaan Autentik

Sabtu, 25 Maret 2023 - 17:22 WIB
Sedangkan orientasi ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan dan bukan untuk kehidupan. Orang dengan ciri orientasi ekstrinsik menggunakan agama sebagai penunjang motif-motif lain seperti kebutuhan akan status, rasa aman, atau harga diri.

Pribadi yang mampu mencapai pengalaman keberagamaan autentik akan merasakan universalitas keilahian dalam memandang manusia. Ia tidak lagi terjebak pada sekat-sekat manusia secara teologis, antropologis, sosiologis, psikis, biologis dan aspek lainnya. Ia tidak akan mudah menyalahkan, apalagi mengkafirkan orang lain, hanya karena perbedaan paham.

Keberagamaan autentik termanifestasi dalam bentuk dorongan perbuatan ihsan pada semua manusia tanpa kecuali. Perbuatan baik atas dasar kemanusiaan yang tulus tanpa embel-embel karena agama, ras, suku, kelompok, atau aliran tertentu.

Sebagaimana Tuhan memberikan karunia pada seluruh ciptaan-Nya tanpa terkecuali. Sebab dalam pandangan Tuhan, manusia hakikatnya adalah umat yang satu, Tuhannya satu, seperti difirmankan dalam QS. Al-Anbiya’ (21):92 dan Al-Mu’minun (23):52.

Ramadan adalah momentum tepat untuk mengasah dan menguatkan kembali keberagamaan autentik melalui puasa. Proses penyucian diri melalui puasa akan mengekstrak spiritualitas yang telah lama terbelenggu komunalisme dan materialisme.

Kedekatan dengan Tuhan melalui muraqabah akan memberikan kekuatan pengendalian diri (self control) dari berbagai perilaku negatif. Dengan demikian, misi puasa untuk mentransformasikan diri menjadi orang bertakwa dan menggapai kefitrahan hendaknya tercapai.
(bmm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!