Kesepakatan Kerja Sama Saudi-Iran dan Jalan Moderatisme

Senin, 20 Maret 2023 - 13:41 WIB
Pada mulanya, ketiganya adalah sekutu yang saling menguntungkan dan "mengasihi". Hal demikian dengan apik digambarkan Andrew Scott Cooper dalamThe Oil Kings: How the US, Iran, and Saudi Arabia Changed The Balance of Power in The Middle East (2012).

Cooper menjelaskan, ketiga negara ini pada dasarnya memiliki kedekatan kepentingan yang dibalut dengan kemesraan politik untuk mengamankan bisnis minyak. Kedekatan mereka bahkan diyakini telah mengubah peta politik dan ekonomi Timur Tengah dengan efektif. Para "raja" ini bersekutu dalam kepentingan yang sama untuk mengamankan politik ekonomi mereka

Namun demikian, seiring perjalanan waktu dan perkembangan terkini, Saudi melihat kerugian besar dalam jejaring kerja sama tersebut. Hal demikian setidaknya terlihat dari wawancara Mohamad Bin Salman (MBS) denganThe Washington Postpada 2018, yang mengatakan bahwa Saudi didorong oleh Barat untuk menyebarkan paham Wahabisme yang kaku dan intoleran ke seluruh penjuru dunia, disertai dengan narasi kebencian pada syiah.

Inilah awal mula "ternak" paham dan tindakan radikalisme berkembang ke berbagai penjuru dunia. Tumbuhnya radikalisme-ekstremisme dan solusi militeristik untuk mengatasinya menjadi bagian dari strategi kepentingan Barat untuk menutupi motif kepentingan ekonomi dan dominasi pengaruh kawasan. Perang Afghanistan dan Suriah adalah contoh nyata pola seperti ini.

Cooper juga menunjukkan, Saudi dan AS mengembangkan kerja sama yang ekstensif dalam bidang ekonomi dan militer yang memungkinkan Saudi untuk mengintervensi negara tetangga, Yaman misalnya. Namun demikian, perang Rusia-Ukraina dan Suriah bisa jadi dalam beberapa hal membuka mata Saudi bahwa keberpihakan Amerika sering berada dalam situasi yang rumit dan sulit diterima. Dalam eskalasi tersebut, AS disinyalir menjadikan diri sebagai pusat kebutuhan minyak dan gas negara-negara Eropa dengan memanfaatkan konflik di wilayah tersebut.

Pada saat yang sama, Iran terus berkembang menjadi negara yang demikian maju secara teknologi. Dalam teknologi perang, penggunaan drone kamikaze Shaheed 136 milik Iran dalam perang Ukraina setidaknya menunjukkan "kelas" Iran dalam kancah teknologi perang di tengah embargo AS dan Barat.

Kini, dengan peran dan kecerdikan China dalam menjembatani perdamaian dan kerja sama Saudi-Iran, China dapat menjadi poros baru di tengah dominasi pengaruh dunia.

Bagi Saudi, jalan moderatisme dengan "melunakkan" Wahabisme dengan berbagai pendekatan adalah solusi tepat. Uniknya, dalam relasi tersebut, China juga memiliki peran dan kerja sama signifikan dengan Israel yang setidaknya terlihat dalam konteks Jalur Sutera China dan gagasan lingkar kawasan ekonomi Israel (Mediterranian High Speed Railwaydan pipa gas/minyak).

Proxy Kepentingan dan Konflik
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!