Menangkal Hantu Resesi Ekonomi
Jum'at, 17 Juli 2020 - 07:19 WIB
Apakah Indonesia bakal terseret ke jurang resesi ekonomi? Akan terjawab dari angka pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga nanti. Sebagaimana penjelasan Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam berbagai kesempatan bahwa Indonesia tak bisa menghindar dari resesi ekonomi apabila pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga mencatatkan angka minus. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama masih positif di kisaran 2,97%. Lalu kuartal kedua diprediksi mencatat minus menyusul pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang membuat aktivitas ekonomi cenderung stagnan. Untuk pertumbuhan ekonomi kuartal kedua, Sri Mulyani Indrawati memprediksi sebesar minus 3,8% belakangan dikoreksi menjadi minus 4,3%. Pasalnya, kinerja sejumlah sektor industri mengalami kontraksi sangat tajam mulai dari transportasi, perdagangan, dan manufaktur, hingga pertambangan.
Sekadar menyegarkan ingatan bahwa resesi ekonomi adalah apabila pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun. Bila terjadi resesi, maka seluruh aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang signifikan. Adapun ciri-ciri menuju resesi ekonomi dapat dimonitori mulai dari pendapatan masyarakat yang turun karena sulit mendapatkan pekerjaan. Terjadi banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) karena aktivitas ekonomi sudah mulai melambat. Daya beli masyarakat melempem. Lalu, bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat terus berlangsung. Selanjutnya masyarakat kelas menengah mulai mengerem belanja.
Untuk menangkal resesi ekonomi, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tidak mencatat angka minus. Karena itu, pemerintah bagaimana caranya memaksimalkan belanja yang bisa memancing pergerakan ekonomi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan memantau setiap hari perkembangan anggaran belanja pada kementerian dan lembaga. Sebab, kuartal ketiga adalah pertaruhan bagi pemerintah apakah Indonesia tergelincir ke jurang resesi ekonomi atau tidak.
Pemerintah optimistis apabila anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang nyaris menembus sebesar Rp700 triliun terserap maksimal, maka bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,4% sehingga kuartal ketiga dan keempat pertumbuhan ekonomi bisa positif. Ingat, bila terjadi resesi ekonomi akan menimbulkan dampak PHK massal yang melahirkan pengangguran dan pada ujungnya meningkatkan angka kemiskinan.
Sekadar menyegarkan ingatan bahwa resesi ekonomi adalah apabila pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun. Bila terjadi resesi, maka seluruh aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang signifikan. Adapun ciri-ciri menuju resesi ekonomi dapat dimonitori mulai dari pendapatan masyarakat yang turun karena sulit mendapatkan pekerjaan. Terjadi banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) karena aktivitas ekonomi sudah mulai melambat. Daya beli masyarakat melempem. Lalu, bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat terus berlangsung. Selanjutnya masyarakat kelas menengah mulai mengerem belanja.
Untuk menangkal resesi ekonomi, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tidak mencatat angka minus. Karena itu, pemerintah bagaimana caranya memaksimalkan belanja yang bisa memancing pergerakan ekonomi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan memantau setiap hari perkembangan anggaran belanja pada kementerian dan lembaga. Sebab, kuartal ketiga adalah pertaruhan bagi pemerintah apakah Indonesia tergelincir ke jurang resesi ekonomi atau tidak.
Pemerintah optimistis apabila anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang nyaris menembus sebesar Rp700 triliun terserap maksimal, maka bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,4% sehingga kuartal ketiga dan keempat pertumbuhan ekonomi bisa positif. Ingat, bila terjadi resesi ekonomi akan menimbulkan dampak PHK massal yang melahirkan pengangguran dan pada ujungnya meningkatkan angka kemiskinan.
(ras)
Lihat Juga :