Tengok Sejarah untuk Solusi Pertanian

Rabu, 18 Maret 2015 - 08:49 WIB
Tengok Sejarah untuk...
Tengok Sejarah untuk Solusi Pertanian
A A A
Jas merah. Jangan sekalikali melupakan sejarah. Sebuah istilah populis Bung Karno yang sama sekali bukan isapan jempol.

Masalah negeri dewasa ini agaknya bisa ditengok di masa lalu solusinya, termasuk masalah agraris kita yang cukup ironis. Pada tahun 2013, impor pertanian Indonesia menurut BPS mencapai angka sebesar USD14,9 miliar, meningkat empat kali lipat dibanding 2003 yakni USD3,34 miliar. Sungguh merupakan ironi tersendiri mengingat sudah sejak lama kita berpredikat negara agraris.

Negara dengan mayoritas penduduknya bermata pencarian cocok tanam. Padahal, kita bisa mencari solusi di masa lalu yang mungkin masih relevan hingga kini. Selain contoh pada masa swasembada beras Presiden Soeharto, ternyata kita mempunyai program pertanian yang cukup menarik. Pada tahun 1960-an, terdapat program yang bernama Nucleus Estate Small-holders (NES).

Dibentuknya semacam perkumpulan petani semacam koperasi (plasma ) yang ketika itu petani singkong untuk membentuk suatu usaha inti (nucleus) berupa pabrik tapioka. Dengan usaha tersebut, petani tidak hanya memperoleh nilai tambah primer seperti panen tanaman, tetapi juga memperoleh nilai sekunder seperti tepung yang keuntungannya berkali lipat.

Sayangnya ketika program tersebut berubah menjadi Perkebunan Inti Rakyat (PIR), pemilik usaha bukan lagi koperasi petani melainkan para pemodal, sehingga hanya menguntungkan segelintir orang. Atau bahkan yang lebih menginspirasi, 200 tahun yang lalu ketika nama Indonesia masih Hindia Belanda.

Van Den Bosch, gubernur jenderal VOC, memerintahkan sebuah titah legendaris yaitu cultuurstelsel atau tanam paksa. Begitu dicanangkan, VOC yang defisit kasnya hampir menyebabkan kebangkrutan malah berubah menjadi raksasa penyumbang devisa Kerajaan Belanda.

Indonesia yang setelah merdeka justru tertatih-tatih memenuhi kebutuhan pangan negaranya sendiri ternyata ketika dijajah merupakan juru selamat negara lain. Terlepas dari penderitaan dan kesengsaraan cultuurstelsel, kita dapat belajar dan mengambil kebaikan-kebaikan yang masih relevan. Seperti dalam hal efektivitas dan efisiensi birokrasi pelaksanaan kebijakan.

Menariknya, ketika cultuurstelsel orang-orang Belanda yang populasinya jauh lebih sedikit berhasil menggerakkan para bangsawan untuk menjadi ”pegawai” pemungut pajak yang outstanding. Padahal, kondisi finansial mereka sendiri sebenarnya masih krisis.

Sayangnya bukan kebaikan, tetapi sisi negatif dari cultuurstelsel berupa prinsip subordinasi-parokial dan korupsi yang sedihnya justru tetap lestari sampai saat ini. Sejarah memang dialami semua bangsa. Namun, hanya bangsa besarlah yang bisa mengambil pelajaran darinya.

Ghozali Imaduddin
Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Islam, Fakultas EkonomiUniversitas Indonesia
(ftr)
Berita Terkait
Tiga Poros di Pilpres...
Tiga Poros di Pilpres 2024 Dinilai Rasional dan Memungkinkan
Mahasiswa Doktoral Unhan...
Mahasiswa Doktoral Unhan Sebut Pentingnya Pengembangan Pertahanan Maritim
Lokalisasi Terbesar...
Lokalisasi Terbesar di Pantura Timur Dirobohkan, Situasi Sempat Memanas
Capres Poros Ketiga...
Capres Poros Ketiga Pilpres 2024 Belum Terlihat
Soal Poros Partai Islam,...
Soal Poros Partai Islam, Inisiator Partai Ummat Bilang Begini
Poros Islam Ingin Usung...
Poros Islam Ingin Usung Capres-Cawapres di Pilpres 2024? PKB Jadi Penentu
Berita Terkini
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Pengadilan Tinggi Singapura...
Pengadilan Tinggi Singapura Tolak Gugatan Paulus Tanos, Menkum Koordinasi KPK dan Polri
Eks Wakil Kepala BGN...
Eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Masih Syok setelah Jadi Tersangka Korupsi
Bahas RUU Polri, Habiburokhman...
Bahas RUU Polri, Habiburokhman Soroti Polisi Aktif di Ormas
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved