Kalau Islah Tak Berujung, Nasib PPP Bisa Seperti PKB
Selasa, 06 Januari 2015 - 12:38 WIB
Kalau Islah Tak Berujung, Nasib PPP Bisa Seperti PKB
A
A
A
JAKARTA - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merayakan hari lahirnya yang ke-42, pada Senin 5 Januari 2014.
Ironisnya, kubu Muktamar Surabaya dengan Ketua Umum (Ketum) Romahurmuziy (Romi) merayakan Harlah di Gedung Joang 45. Sementara kubu Muktamar Jakarta merayakan Harlah di Kantor DPP PPP.
Pengamat politik LIPI Siti Zuhro mengatakan, peringatan Harlah partai berlambang Kakbah yang dilakukan dua kubu berbeda dan di dua tempat yang berbeda, mengisyaratkan islah antara dua kubu masih jauh panggang dari api.
"(Islah) kelihatan sulit dicapai," kata Siti saat berbincang dengan Sindonews, Selasa (6/1/2015).
Meski Romi mengaku telah mengirimkan utusan kepada kubu Djan Faridz untuk menempuh proses islah dan memperingati Harlah PPP ke-42 secara bersama-sama, namun menurut Siti, dirinya belum melihat konflik internal ini akan segera mereda.
"Jika mereka mau damai, tidak perlu perayaan di tempat berbeda, di tempat masing-masing," kata dia.
Dia memperingatkan bahwa konflik dan dualisme kepengurusan yang berlarut-larut akan berujung pada perpecahan permanen.
Siti pun mencontohkan nasib Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sebelumnya pernah berkonflik hingga berujung di pengadilan.
"Kalau konflik terus, nasib PPP bisa seperti PKB," tutup Siti.
Ironisnya, kubu Muktamar Surabaya dengan Ketua Umum (Ketum) Romahurmuziy (Romi) merayakan Harlah di Gedung Joang 45. Sementara kubu Muktamar Jakarta merayakan Harlah di Kantor DPP PPP.
Pengamat politik LIPI Siti Zuhro mengatakan, peringatan Harlah partai berlambang Kakbah yang dilakukan dua kubu berbeda dan di dua tempat yang berbeda, mengisyaratkan islah antara dua kubu masih jauh panggang dari api.
"(Islah) kelihatan sulit dicapai," kata Siti saat berbincang dengan Sindonews, Selasa (6/1/2015).
Meski Romi mengaku telah mengirimkan utusan kepada kubu Djan Faridz untuk menempuh proses islah dan memperingati Harlah PPP ke-42 secara bersama-sama, namun menurut Siti, dirinya belum melihat konflik internal ini akan segera mereda.
"Jika mereka mau damai, tidak perlu perayaan di tempat berbeda, di tempat masing-masing," kata dia.
Dia memperingatkan bahwa konflik dan dualisme kepengurusan yang berlarut-larut akan berujung pada perpecahan permanen.
Siti pun mencontohkan nasib Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sebelumnya pernah berkonflik hingga berujung di pengadilan.
"Kalau konflik terus, nasib PPP bisa seperti PKB," tutup Siti.
(maf)