Sambatan
Minggu, 26 Oktober 2014 - 16:34 WIB
Sambatan
A
A
A
JUNAIDI ABDUL MUNIF
Direktur el-Wahid Center
Universitas Wahid Hasyim Semarang
Rumah di desa merupakan simbol kebersamaan. Pembangunannya pun dilakukan secara gotongroyong, yang disebut dengan sambatan. Kultur agraris, di mana masyarakat desa masih menggunakan unsur kayu dalam pembangunan rumah, menjadikan sambatan menjadi cara bagi warga desa agar rumah cepat berdiri.
Ada dua tahap dalam sambatan. Pertama, sambatan kecil. Dalam kategori ini yang ikut hanya keluarga dan saudara dekat. Mereka membantu tukang utama dalam menyiapkan unsur-unsur penting pada rumah, ikut membantu memasang bata, atau mengaduk pasir dan semen.
Dalam model rumah papan, keluarga dekat ikut sambatan kecil saat memasang gedheg (dinding) dari papan. Pelibatan warga secara massal terjadi saat pemasangan usuk, reng, dan genteng.
Maka sambatan dilakukan ketika tiang-tiang utama sudah berdiri. Orang yang datang sambatan hanya memaku reng, usuk, dan memasang genteng. Tiga jenis pekerjaan ini tidak memerlukan keahlian khusus. Warga yang datang cuma perlu membawa palu dan sedikit keterampilan memukulkan palu.
Masih terawat
Dewasa ini ketika rumahrumah kayu di desa beralih ke model tembok bata, budaya sambatan ini masih tetap terawat. Pemasangan bata dilakukan oleh tukang bangunan. Saat pemasangan atap, tetangga diundang untuk sambatan.Tuan rumah menyediakan sarapan, makanan ringan, rokok, dan berkat untuk dibawa pulang.
Kaum ibu yang sudah berkeluarga, memiliki "kewajiban sosial" untuk menyumbang beras, gula, teh, dan lain- lain untuk meringankan beban yang punya hajat membangun rumah. Berbeda dengan model menyumbang upacara pernikahan dan sunatan, menyumbang untuk pembangunan rumah tidak melalui undangan. Artinya, tetangga dengan kesadaran dan kerelaan hati datang menyumbang.
Menurut Poeradisastra (Prisma, Desember 1978) gotongroyong atau sambatan di kota hanyalah ritus. Secara ekonomis, apa yang dikeluarkan oleh tuan rumah tak sebanding dengan "hasil kerja" orang yang datang untuk sambatan. Di desa pun, kini, sering ditemukan orangorang yang hanya duduk dan men g o b r o l , yang diakibatkan “surplus” penyambat (tenaga kerja).
Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar tuntutan hasil kerja dari tetangga, yakni terjaganya kohesi sosial antarwarga. Banyak masyarakat yang sehari-hari bekerja di sawah, memang masih dapat menjaga "institusi sosial" ini tetap kukuh berdiri. Tetapi di desa kini banyak masyarakat yang menjadi buruh harian di kota terdekat, berangkat pagi dan pulang sore. Hal ini menyebabkan tergerusnya ruang interaksi sosial akibat arus urbanisasi.
Mereka yang di luar hari Minggu bekerja di kota, pada hari sambatan rela izin tidak masuk kerja demi bisa memenuhi undangan sambatan. Seperti halnya mereka rela tidak masuk kerja saat tetangga menggelar pesta pernikahan atau khitanan.
Cermin sosial
Di dalam sambatan, tidak layakberpikirkalkulatifuntungrugi."Ritus" ini dilakukan semata untuk melekatkan kebersamaan antarwarga. Bahwa tradisi tersebut merupakan identitas primordial masyarakat agraris desa. Rumah adalah simbol komunalisme, baik saat membangun atau sudah jadi nanti.
Sambatan menjadi cara untuk melihat apakah seseorang memiliki budi baik di masyarakatnya. Jumlah orang yang sambatan maupun yang menyumbang merupakan cermin, apakah seseorang itu sebelumnya rajin ataukah malas sambatan. Kalau penyelenggara sambatan dan hajatan lainnya sebelumnya rajin, hampirdipastikan akan banyak yang datang.
Arus modernisasi dan industrialisasi membawa konsekuensi pada tata nilai sosial di masyarakat. Mereka perlu melakukan seleksi nilai dan memilih nilai yang sesuai, sekaligus menjaga agar nilai-nilai lama tetap berlangsung. Pada tahap inilah keunggulan masyarakat desa muncul sebagai antitesis masyarakat kota yang apa pun termasuk membangun rumah, memilih membayar tukang sampai rumah siap ditempati. Rumahpuntidakmerefleksikan komunalisme.
Direktur el-Wahid Center
Universitas Wahid Hasyim Semarang
Rumah di desa merupakan simbol kebersamaan. Pembangunannya pun dilakukan secara gotongroyong, yang disebut dengan sambatan. Kultur agraris, di mana masyarakat desa masih menggunakan unsur kayu dalam pembangunan rumah, menjadikan sambatan menjadi cara bagi warga desa agar rumah cepat berdiri.
Ada dua tahap dalam sambatan. Pertama, sambatan kecil. Dalam kategori ini yang ikut hanya keluarga dan saudara dekat. Mereka membantu tukang utama dalam menyiapkan unsur-unsur penting pada rumah, ikut membantu memasang bata, atau mengaduk pasir dan semen.
Dalam model rumah papan, keluarga dekat ikut sambatan kecil saat memasang gedheg (dinding) dari papan. Pelibatan warga secara massal terjadi saat pemasangan usuk, reng, dan genteng.
Maka sambatan dilakukan ketika tiang-tiang utama sudah berdiri. Orang yang datang sambatan hanya memaku reng, usuk, dan memasang genteng. Tiga jenis pekerjaan ini tidak memerlukan keahlian khusus. Warga yang datang cuma perlu membawa palu dan sedikit keterampilan memukulkan palu.
Masih terawat
Dewasa ini ketika rumahrumah kayu di desa beralih ke model tembok bata, budaya sambatan ini masih tetap terawat. Pemasangan bata dilakukan oleh tukang bangunan. Saat pemasangan atap, tetangga diundang untuk sambatan.Tuan rumah menyediakan sarapan, makanan ringan, rokok, dan berkat untuk dibawa pulang.
Kaum ibu yang sudah berkeluarga, memiliki "kewajiban sosial" untuk menyumbang beras, gula, teh, dan lain- lain untuk meringankan beban yang punya hajat membangun rumah. Berbeda dengan model menyumbang upacara pernikahan dan sunatan, menyumbang untuk pembangunan rumah tidak melalui undangan. Artinya, tetangga dengan kesadaran dan kerelaan hati datang menyumbang.
Menurut Poeradisastra (Prisma, Desember 1978) gotongroyong atau sambatan di kota hanyalah ritus. Secara ekonomis, apa yang dikeluarkan oleh tuan rumah tak sebanding dengan "hasil kerja" orang yang datang untuk sambatan. Di desa pun, kini, sering ditemukan orangorang yang hanya duduk dan men g o b r o l , yang diakibatkan “surplus” penyambat (tenaga kerja).
Tetapi ada yang lebih penting dari sekadar tuntutan hasil kerja dari tetangga, yakni terjaganya kohesi sosial antarwarga. Banyak masyarakat yang sehari-hari bekerja di sawah, memang masih dapat menjaga "institusi sosial" ini tetap kukuh berdiri. Tetapi di desa kini banyak masyarakat yang menjadi buruh harian di kota terdekat, berangkat pagi dan pulang sore. Hal ini menyebabkan tergerusnya ruang interaksi sosial akibat arus urbanisasi.
Mereka yang di luar hari Minggu bekerja di kota, pada hari sambatan rela izin tidak masuk kerja demi bisa memenuhi undangan sambatan. Seperti halnya mereka rela tidak masuk kerja saat tetangga menggelar pesta pernikahan atau khitanan.
Cermin sosial
Di dalam sambatan, tidak layakberpikirkalkulatifuntungrugi."Ritus" ini dilakukan semata untuk melekatkan kebersamaan antarwarga. Bahwa tradisi tersebut merupakan identitas primordial masyarakat agraris desa. Rumah adalah simbol komunalisme, baik saat membangun atau sudah jadi nanti.
Sambatan menjadi cara untuk melihat apakah seseorang memiliki budi baik di masyarakatnya. Jumlah orang yang sambatan maupun yang menyumbang merupakan cermin, apakah seseorang itu sebelumnya rajin ataukah malas sambatan. Kalau penyelenggara sambatan dan hajatan lainnya sebelumnya rajin, hampirdipastikan akan banyak yang datang.
Arus modernisasi dan industrialisasi membawa konsekuensi pada tata nilai sosial di masyarakat. Mereka perlu melakukan seleksi nilai dan memilih nilai yang sesuai, sekaligus menjaga agar nilai-nilai lama tetap berlangsung. Pada tahap inilah keunggulan masyarakat desa muncul sebagai antitesis masyarakat kota yang apa pun termasuk membangun rumah, memilih membayar tukang sampai rumah siap ditempati. Rumahpuntidakmerefleksikan komunalisme.
(bbg)