Konsistensi Jokowi

Jum'at, 19 September 2014 - 20:55 WIB
Konsistensi Jokowi
Konsistensi Jokowi
A A A
Konsistensi presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) tengah diuji. Ini terkait dengan beberapa persoalan krusial yang menempatkan mantan Wali Kota Solo tersebut di tengah pusaran kepentingan. Sejauh mana dia bisa meneguhkan konsistensi yang menjadi tolak ukur kekuatan karakternya dan sejauh mana dia bisa mewujudkan janji-janjinya selama kampanye untuk kurun waktu lima tahun ke depan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) memaknai konsisten sebagai ”tetap atau tidak berubah; taat asas; atau ajek”. Ilmu logika menyebut konsisten terjadi jika sebuah semantic dengan semantik yang lain tidak mengandung kontradiksi. Jika dikaitkan dengan perilaku politik, dari dua pemahaman tersebut, secara sederhana konsisten bisa diartikan sebagai keselarasan antara apa yang dikampanyekan, dijanjikan, dan dipikirkan dengan apa yang diwujudkan. Dalam pencapaian suatu tujuan besar, konsistensi menjadi ukuran penting. Mengapa? Zig Ziglar, seorang motivator terkemuka asal Amerika Serikat, menyebutkan bahwa orang sering gagal bukan karena kurang mampu, tetapi karena tidak konsisten.

Tokoh besar seperti Thomas Alfa Edison membuktikan dengan konsistensinya yang sangat luar biasa dapat menghasilkan karya besar yang hingga kini bisa dinikmati umat manusia: lampu pijar. Begitu pun apa yang ditunjukkan Disney yang melahirkan Diseny Land dan Kol Harland D Sanders yang sukses membangun Kentucky Fried Chicken. Jokowi sendiri sudah sangat memahami pentingnya konsistensi. Pada momen Mengupas Visi dan Misi Cagub DKI Jakarta di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia (UI) Depok (27/04/2012), dia secara tegas menyatakan bahwa membangun Jakarta membutuhkan konsistensi yang sangat tinggi.

Dalam pandangannya, pemimpin di Jakarta boleh mempunyai gaya berbeda, tetapi blue print harus dijalankan dan ide jangan tiba-tiba ada yang baru langsung berubah. Begitu pula Jusuf Kalla (JK). Saat memberi kuliah umum Politik Indonesia di Era Industri Citra di Kampus Universitas Multimedia Nusantara (23/5), dia menyatakan pemimpin masa depan haruslah lebih konsisten. Pencitraan yang selama ini dijadikan andalan untuk memikat hati rakyat harus direalisasi dengan perbuatan nyata. Dia bahkan menyebut, di zaman sekarang, konsistensi menjadi komitmen paling krusial.

Seperti diakui JK, konsistensi tidaklah mudah dan sering kali berhenti pada pencitraan. Hal ini bisa dipahami karena konsisten membuktikan kesabaran dan daya tahan menghadapi banyak tantangan, godaan, ataupun kegagalan. Apalagi pada ranah politik yang sarat dengan pragmatisme, hanya pemimpin yang berkarakter kuatlah (tidak mempunyai tendensi pribadi atau kelompok politik dan sebaliknya berorientasi kuat pada tujuan jangka panjang dan kepentingan bangsa) yang bisa memegang teguh konsistensi. Realitas demikian kini diperlihatkan Jokowi.

Dalam beberapa momen krusial, dia membuktikan tidak mudah untuk konsisten mewujudkan komitmennya. Janji kabinet ramping tinggal wacana karena ternyata postur kabinet yang akan dibentuknya tidak ada bedanya dengan pemerintahan sebelumnya. Begitupun komitmen mewujudkan koalisi tanpa syarat, kabinet profesional, dan janji tidak ada rangkap jabatan sudah dikaburkan dengan seribu alasan. Saat memimpin DKI Jakarta, dia juga banyak memperlihatkan inkonsistensinya. Inkonsistensi yang terjadi mungkin bukan kemauan Jokowi.

Kondisi demikian bisa saja terjadi dengan beberapa asumsi. Misalnya, Jokowi saat kampanye asal bunyi dan tanpa melalui pengkajian mendalam, bisa jadi karena realitas sosial politik tidak memungkinkan idenya terwujud, karena JK lebih dominan, karena tidak bisa melawan kehendak Megawati Soekarnoputri dan PDIP, atau tidak mampu menghadapi tekanan partai pendukung seperti PKB. Namun, apa pun alasannya, sebagai seorang pemimpin, Jokowi sudah tidak konsisten mewujudkan komitmen yang pernah dia janjikan kepada masyarakat selama kampanye.

Secara tidak langsung dia juga gagal tampil sebagai pemimpin dengan karakter kuat, tapi malah menjadi pemimpin yang gampang ditaklukkan pragmatisme politik. Jika fakta demikian yang terjadi, revolusi mental yang digembar-gemborkan sebagai target besar pemerintahannya ke depan kini berada di persimpangan jalan.
(mhd)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Infografis
12 Terlapor dalam Kasus...
12 Terlapor dalam Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved