Kader ingin Golkar merapat ke PDIP
Minggu, 18 Mei 2014 - 21:30 WIB
Kader ingin Golkar merapat ke PDIP
A
A
A
Sindonews.com - Terkait arah koalisi Partai Golkar yang bergantung pada keputusan Aburizal Bakrie (ARB). Ternyata, mayoritas kader peserta Rapimnas ke VI Partai Golkar menginginkan, agar Golkar berkoalisi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
“Kami itu maunya Golkar merapat ke PDIP. Tapi kok keputusannya malah menggantung,” kata salah satu kader Golkar yang enggan disebut namanya itu di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Minggu (18/5/2014).
Menurut kader yang bergabung sejak 1998 itu, Golkar telah terbiasa menjadi partai penguasa, dan partai yang terlibat dalam pemerintahan. Maka pertimbangan ke PDIP karena, PDIP dipastikan akan menjadi partai pemenang dalam pemilu presiden (pilpres) Juli 2014 mendatang.
“Kami kan enggak biasa jadi oposisi, walau saya sendiri ingin Golkar menjadi oposisi,” jelas caleg Golkar daerah pemilihan (dapil) Banten III itu.
Terkait keputusan Rapimnas VI tersebut, dia mengaku kecewa karena, keputusan yang diambil tidak jelas, dan menggantung. Padahal, biasanya Ketua Umum (ARB) selalu tegas dalam memutuskan. “Ini ibaratnya orang pacaran, trus malah digantung,” pungkasnya.
“Kami itu maunya Golkar merapat ke PDIP. Tapi kok keputusannya malah menggantung,” kata salah satu kader Golkar yang enggan disebut namanya itu di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta, Minggu (18/5/2014).
Menurut kader yang bergabung sejak 1998 itu, Golkar telah terbiasa menjadi partai penguasa, dan partai yang terlibat dalam pemerintahan. Maka pertimbangan ke PDIP karena, PDIP dipastikan akan menjadi partai pemenang dalam pemilu presiden (pilpres) Juli 2014 mendatang.
“Kami kan enggak biasa jadi oposisi, walau saya sendiri ingin Golkar menjadi oposisi,” jelas caleg Golkar daerah pemilihan (dapil) Banten III itu.
Terkait keputusan Rapimnas VI tersebut, dia mengaku kecewa karena, keputusan yang diambil tidak jelas, dan menggantung. Padahal, biasanya Ketua Umum (ARB) selalu tegas dalam memutuskan. “Ini ibaratnya orang pacaran, trus malah digantung,” pungkasnya.
(maf)