Posisi Golkar sulit untuk masuk dalam koalisi
Jum'at, 16 Mei 2014 - 04:15 WIB
Posisi Golkar sulit untuk masuk dalam koalisi
A
A
A
Sindonews.com - Hinggi kini hanya ada dua poros koalisi yang muncul. Di antaranya poros Prabowo Subianto dan poros Joko Widodo (Jokowi).
Poros Prabowo terdiri dari koalisi yang sudah dideklarasikan oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN).
Sedangkan poros Jokowi terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Nasional Demokrat (NasDem), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Sedangkan Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), sampai saat ini belum memutuskan untuk berkoalisi.
Mengenai wacana akan munculnya poros koalisi baru, di mana Golkar akan menggandeng Demokrat. Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, hal ini tidak mungkin terjadi jika kepentingan Demokrat tidak diakomodasi oleh Golkar.
Siti mengingatkan, Golkar akan berpacu dengan waktu. Ia menilai, Golkar harus berhati-hati karena mencoba bermain di banyak kaki.
“Dengan gaya komunikasi Ical yang seperti itu, belum tentu ia akan diterima oleh PDIP atau Partai Gerindra. Saya melihat, mungkin tenda besar (Gerindra) akan menerima, tapi kok tidak semudah itu,” kata Siti Zuhro di Galery Cave, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Kamis 15 Mei 2014.
Poros Prabowo terdiri dari koalisi yang sudah dideklarasikan oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN).
Sedangkan poros Jokowi terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Nasional Demokrat (NasDem), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Sedangkan Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), sampai saat ini belum memutuskan untuk berkoalisi.
Mengenai wacana akan munculnya poros koalisi baru, di mana Golkar akan menggandeng Demokrat. Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, hal ini tidak mungkin terjadi jika kepentingan Demokrat tidak diakomodasi oleh Golkar.
Siti mengingatkan, Golkar akan berpacu dengan waktu. Ia menilai, Golkar harus berhati-hati karena mencoba bermain di banyak kaki.
“Dengan gaya komunikasi Ical yang seperti itu, belum tentu ia akan diterima oleh PDIP atau Partai Gerindra. Saya melihat, mungkin tenda besar (Gerindra) akan menerima, tapi kok tidak semudah itu,” kata Siti Zuhro di Galery Cave, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Kamis 15 Mei 2014.
(maf)