Ini penyebab partisipasi pemilu luar negeri jeblok

Selasa, 06 Mei 2014 - 14:32 WIB
Ini penyebab partisipasi...
Ini penyebab partisipasi pemilu luar negeri jeblok
A A A
Sindonews.com - Migrant Care memperkirakan partisipasi pemilih luar negeri pada Pemilu 2014 lebih rendah dari Pemilu 2009. Data Migrant Care menyebutkan, partisipasi pemilih luar negeri diperkirakan hanya sekira 20 persen, lebih rendah dari pemilu sebelumnya yang mencapai 23 persen.

Peneliti dari Migrant Care Syaiful Anas membeberkan sejumlah penyebab terkait rendahnya partisipasi pemilih ini. Pertama, sosialisasi yang minim sehingga tidak semua TKI tahu jadwal pemilu.

"Pemilih di Hongkong misalnya, mereka mengira pemilu digelar 9 April, padahal 30 Maret. Pemilih yang datang ke TPS juga banyak yang mencari gambar capres karena mengira ini pilpres," ujar Syaiful dalam diskusi di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Selasa (6/5/2014)

Selain itu, pemilih juga mengaku kecewa dengan kinerja legislator Dapil 2 DKI Jakarta yang dipilih pada Pemilu 2009. "Mereka mengaku tidak tahu apa kinerja wakilnya selama ini. Ada juga yang mengatakan buat apa saya memilih caleg dari DKI sedangkan saya dari daerah lain," ujar Syaiful.

Sistem dropbox juga tidak maksimal karena sering hanya disimpan begitu saja tanpa memberi tahu warga di mana titik penyimpanannya. "Bahkan temuan kami di Western Union, Kuala Lumpur, dropbox justru dijaga oleh warga Malaysia," katanya.

Menurut dia, surat suara yang dikirim lewat pos juga banyak dikembalikan karena tidak ditemukan alamatnya. "Ini yang perlu diperjelas KPU untuk pilpres nanti. Kalau memang WNI itu pulang ke Indonesia, namanya harus dihapus di DPT," ujarnya.

Selain itu, banyak WNI yang di penjara di berbagai negara juga tidak terdaftar. Pada pilpres mendatang, Syaiful meminta panitia pemilihan luar negeri (PPLN) mendata WNI yang menjalani hukuman di penjara.

Syaiful juga mempertanyakan apa pegangan PPLN dalam menentukan seseorang memilih lewat pos, dropbox atau TPS. "Ternyata, walau sudah konfirmasi ke KBRI bahwa mereka akan memilih lewat pos, tapi tetap saja ada yang belum menerima surat suara sehingga tidak bisa memilih.

Sejumlah WNI juga mengeluh karena mereka yang hanya membawa KTP tidak bisa memilih karena waktu yang diberikan hanya satu jam, yakni di atas jam 12.

"Mereka akhirnya sulit memilih karena mereka hanya diberi waktu sebentar oleh majikannya," ujarnya. Ia pun berharap kelemahan pada pileg lalu dapat diperbaiki pada pilpres mendatang agar pemilih luar negeri bisa meningkat.
(kri)
Berita Terkait
Sistem Proporsional...
Sistem Proporsional Terbuka Dinilai Hadirkan Praktik Pasar Bebas
Bakal Caleg Partai Hanura...
Bakal Caleg Partai Hanura Diminta Tidak Boleh Menyerah
Eep Saefullah Fatah:...
Eep Saefullah Fatah: Sekolah Politik Bina Insan Mulia Dongkrak Suara PKB di 2024
Relawan Sobat Bang Hendra...
Relawan Sobat Bang Hendra Perkuat Pondasi Tim se-Jakpus dan Jaksel
Hari Pertama Pendaftaran,...
Hari Pertama Pendaftaran, Belum Ada Ajukan Gugatan Sengketa Pileg 2024 ke MK
MK Gelar Sidang Sengketa...
MK Gelar Sidang Sengketa Pileg 2024 Pekan Depan, Dibagi dalam 3 Panel
Berita Terkini
Hari Ini Kortas Tipikor...
Hari Ini Kortas Tipikor Polri Panggil Eks Wakapolri Oegroseno untuk Klarifikasi Lahan Sepolwan
Gantikan Febrie Adriansyah,...
Gantikan Febrie Adriansyah, Kuntadi Diharapkan Pulihkan Kepercayaan Publik
Kejagung Terbitkan Sprindik...
Kejagung Terbitkan Sprindik Baru Dugaan TPPU 74 Kg Emas dan Uang di Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Bos FBI Temui Prabowo,...
Bos FBI Temui Prabowo, Artefak Papua yang Diselundupkan ke AS Kembali ke Indonesia
Pengamat Soroti Rumor...
Pengamat Soroti Rumor Privat di Kasus Febrie: Jangan Geser Fokus dari Substansi Hukum
Hangat dan Haru, Prabowo...
Hangat dan Haru, Prabowo Jamu Perwira TNI-Polri dan Orang Tua di Istana Usai Praspa 2026
Infografis
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Bakal Bangun 11 Rusun Baru, Ini Lokasinya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved