Rekapitulasi KPU diduga menyesuaikan hitung cepat

Senin, 05 Mei 2014 - 16:10 WIB
Rekapitulasi KPU diduga...
Rekapitulasi KPU diduga menyesuaikan hitung cepat
A A A
Sindonews.com - Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menduga lambannya rekapitulasi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terjadi lantaran rekapitulasi dilakukan dengan cara menyesuaikan hasil hitung cepat (quick count) seperti yang dilakukan sejumlah lembaga survei.

"Patut diduga, gejala lambannya kinerja KPU RI dalam mengesahkan rekapitulasi menyesuaikan dengan hasil quick count, yang mana sampelnya hanya di 2.000 TPS. Padahal, jumlah TPS ada 540 ribu lebih," kata Ketua Bidang Perguruan Tinggi Kepemudaan dan Kemahasiswaan (PTKP) PBHMI, Azhar Kahfi, di Kantor PBHMI, Jalan Diponegoro, Jakarta, Senin (5/5/2014).

Dia melanjutkan, lambannya rekapitulasi karena hampir separuh provinsi telah terjadi kecurangan, termasuk penggelembungan suara yang berubah dari tingkat PPS sampai provinsi. Katanya, penggelembungan itu baru diketahui setelah dilakukan rekapitulasi nasional tingkat pusat.

"Kurang dari separuh provinsi di seluruh Indonesia yang sudah terselesaikan. Artinya masih banyak rekapitulasi yang belum selesai," ujarnya.

Sementara itu, ia pun menyatakan bahwa penghitungan suara hanya dilakukan dengan metode ilmu statistik yang menyesuaikan dengan hasil quick count di hampir seluruh provinsi.

"Seperti. Di Kalimantan Barat yang angka golputnya rendah sekali. Karena mencoblos pada satu orang saja agar bisa menjadi karena memperoleh suara yang sangat tinggi," jelasnya.

Dia menambahkan, sejak awal seharusnya KPU dan Bawaslu bisa mencegah hal itu. Pasalnya, kecurangan terjadi secara sistematis dan bahkan melibatkan penyelenggara pemilu. Oleh karenanya, pantas jika dua lembaga itu dianggap gagal menjalankan fungsi dan proses penyelenggaraan pemilu.

"(Kecurangan) dalam bentuk yang sudah dilegalisir dan ditandatangi," ungkap Azhar menutup.
(kri)
Berita Terkait
Sistem Proporsional...
Sistem Proporsional Terbuka Dinilai Hadirkan Praktik Pasar Bebas
Bakal Caleg Partai Hanura...
Bakal Caleg Partai Hanura Diminta Tidak Boleh Menyerah
Eep Saefullah Fatah:...
Eep Saefullah Fatah: Sekolah Politik Bina Insan Mulia Dongkrak Suara PKB di 2024
Relawan Sobat Bang Hendra...
Relawan Sobat Bang Hendra Perkuat Pondasi Tim se-Jakpus dan Jaksel
Hari Pertama Pendaftaran,...
Hari Pertama Pendaftaran, Belum Ada Ajukan Gugatan Sengketa Pileg 2024 ke MK
MK Gelar Sidang Sengketa...
MK Gelar Sidang Sengketa Pileg 2024 Pekan Depan, Dibagi dalam 3 Panel
Berita Terkini
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Relawan Sebut Prabowo...
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
Ajakan Tobat Ekologis...
Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan
KPK Sebut Penerimaan...
KPK Sebut Penerimaan Murid Baru Masih Dibayangi Pungli
Ditetapkan Tersangka...
Ditetapkan Tersangka oleh KPK, Bupati Cilacap Syamsul Ajukan Praperadilan
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Infografis
3 Proyek Kereta Cepat...
3 Proyek Kereta Cepat Termahal di Dunia, Whoosh Tak Masuk Hitungan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved