Bersikap tertutup, Sri Mulyani terkesan cari aman
Sabtu, 03 Mei 2014 - 07:05 WIB
Bersikap tertutup, Sri Mulyani terkesan cari aman
A
A
A
Sindonews.com - Tak sedikit yang merasa kecewa dengan kesaksian mantan Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani yang berlangsung datar di Pengadilan Tipikor kemarin. Apalagi, sidang itu tak mengungkap fakta baru kasus bailout Bank Century.
Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman mengatakan, Sri Mulyani terkesan menutup-nutupi sesuatu dalam kesaksiannya. Sehingga, banyak informasi yang tidak terungkap seperti yang diharapkan publik.
"Sri Mulyani sangat cari aman karena dia tidak mau buka-bukaan. Masih banyak yang ditutup-tutupi. Kenapa rapat sampai semalam penuh, padahal bank yang sakit cuma Century, masih bisa dibahas dalam jam-jam kerja setelahnya," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (3/5/2014).
Menurutnya, yang belum terjawab dari kesaksian Sri Mulyani kenapa bailout Century tidak segera dilaporkan kepada DPR sehingga baru ramai setelah tahun 2008.
"Sebagai orang yang profesional mestinya Sri Mulyani tidak mau seperti ditodong semalaman untuk tentukan bank gagal berdampak sistemik sebelum semua data disajikan dengan baik, terbukti kemudian dana yang harus dikucurkan sangat membengkak sampai Rp6,7 triliun."
"Sri Mulyani saat tadi seperti dalam sepakbola berperan sebagai bek, hanya bertahan saja. Mestinya sebagai profesional SMI tunjukkan kapasitasnya dengan menjelaskan minimal seperti yang saya katakan tadi," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Sri Mulyani merasa kesal dan mengancam akan mencabut terkait pemberian Penyertaan Modal Sementara (PMS) ke Bank Century. "Dalam posisi kesal, saya mungkin sampaikan seluruh keputusan harus di-review (ditinjau) kembali," kata Sri Mulyani saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat 2 April 2014.
Dia mengaku kesal lantaran Bank Indonesia (BI) tidak memberikan data yang valid mengenai kondisi kesehatan Bank Century. Bahkan, mantan Sri Mulyani mengambil keputusan Bank Century sebagai bank gagal dalam keadaan terdesak.
"Saya didesak oleh situasi, betul. Iya harus memutuskan sebelum jam delapan, meski lelah, saya rasa masih bisa membikin judgement yang baik. KSSK memutuskan sebelum jam empat pagi," ucap.
Menurutnya, keputusan itu sudah dipertimbangkan secara matang. "Sebagai pengambil keputusan berdasarkan pikiran, perasaan, dan mungkin insting," pungkasnya.
Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman mengatakan, Sri Mulyani terkesan menutup-nutupi sesuatu dalam kesaksiannya. Sehingga, banyak informasi yang tidak terungkap seperti yang diharapkan publik.
"Sri Mulyani sangat cari aman karena dia tidak mau buka-bukaan. Masih banyak yang ditutup-tutupi. Kenapa rapat sampai semalam penuh, padahal bank yang sakit cuma Century, masih bisa dibahas dalam jam-jam kerja setelahnya," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Sabtu (3/5/2014).
Menurutnya, yang belum terjawab dari kesaksian Sri Mulyani kenapa bailout Century tidak segera dilaporkan kepada DPR sehingga baru ramai setelah tahun 2008.
"Sebagai orang yang profesional mestinya Sri Mulyani tidak mau seperti ditodong semalaman untuk tentukan bank gagal berdampak sistemik sebelum semua data disajikan dengan baik, terbukti kemudian dana yang harus dikucurkan sangat membengkak sampai Rp6,7 triliun."
"Sri Mulyani saat tadi seperti dalam sepakbola berperan sebagai bek, hanya bertahan saja. Mestinya sebagai profesional SMI tunjukkan kapasitasnya dengan menjelaskan minimal seperti yang saya katakan tadi," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Sri Mulyani merasa kesal dan mengancam akan mencabut terkait pemberian Penyertaan Modal Sementara (PMS) ke Bank Century. "Dalam posisi kesal, saya mungkin sampaikan seluruh keputusan harus di-review (ditinjau) kembali," kata Sri Mulyani saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat 2 April 2014.
Dia mengaku kesal lantaran Bank Indonesia (BI) tidak memberikan data yang valid mengenai kondisi kesehatan Bank Century. Bahkan, mantan Sri Mulyani mengambil keputusan Bank Century sebagai bank gagal dalam keadaan terdesak.
"Saya didesak oleh situasi, betul. Iya harus memutuskan sebelum jam delapan, meski lelah, saya rasa masih bisa membikin judgement yang baik. KSSK memutuskan sebelum jam empat pagi," ucap.
Menurutnya, keputusan itu sudah dipertimbangkan secara matang. "Sebagai pengambil keputusan berdasarkan pikiran, perasaan, dan mungkin insting," pungkasnya.
(kri)