Di Hong Kong hanya 6.000 WNI yang nyoblos
Senin, 31 Maret 2014 - 12:07 WIB
Di Hong Kong hanya 6.000 WNI yang nyoblos
A
A
A
Sindonews.com - Penyelenggaraan Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 di luar negeri digelar lebih awal, yakni 30 Maret sampai 6 April 2014. Hal ini mengingat, tanggal 9 April merupakan hari kerja yang tidak dapat diliburkan seperti di Indonesia.
Dengan jumlah 13 Tempat Pemilihan Suara (TPS), Ketua Pokja Pemilihan Luar Negeri Wahid mengatakan, lokasi TPS salah satunya di Victoria Park, Hong Kong.
"Iya dipusatkan di situ. Kami menggelar pemilu di situ atas izin pemerintah Hong Kong. Di banyak negara lain, TPS di dalam kantor perwakilan saja, atau di gedung sekolah," kata Supriyadi saat dihubungi wartawan, Senin (31/3/2014).
"Tapi ini kami diizinkan, jadi kami sangat apresiasi pemerintah di negara itu (Hong Kong). Di Australia juga ada kota yang izinkan pemilu Indonesia di tempat umum dan terbuka," imbuhnya.
Dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Hong Kong 102.265 pemilih, proses pemungutan suara sudah mulai dilaksanakan. Namun dari DPT yang berjumlah 102.265, hanya 6.000 pemilih yang datang ke TPS.
"Jumlah pemilih yang datang memilih ke TPS sekitar 6.000 orang. Itu yang kami dapat laporan dari Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Hong Kong malam ini (Minggu malam)," ucapnya.
Wahid meyakinkan, dengan tiga sistem pemilihan, dia yakin pemilih melalui pos dan drop box akan lebih banyak di banding yang datang ke TPS.
"Iya, tapi pemilih dengan sistem TPS memang kecil. Selalu seperti itu. Nanti akan ada suara lebih besar yang datang dari pemilih yang menggunakan surat menyurat via pos. Bahkan PPLN Hong Kong memperkirakan pemilih lewat pos ini mencapai 15.000. Suara lewat drop box pasti lbh besar lagi," pungkasnya.
Dengan jumlah 13 Tempat Pemilihan Suara (TPS), Ketua Pokja Pemilihan Luar Negeri Wahid mengatakan, lokasi TPS salah satunya di Victoria Park, Hong Kong.
"Iya dipusatkan di situ. Kami menggelar pemilu di situ atas izin pemerintah Hong Kong. Di banyak negara lain, TPS di dalam kantor perwakilan saja, atau di gedung sekolah," kata Supriyadi saat dihubungi wartawan, Senin (31/3/2014).
"Tapi ini kami diizinkan, jadi kami sangat apresiasi pemerintah di negara itu (Hong Kong). Di Australia juga ada kota yang izinkan pemilu Indonesia di tempat umum dan terbuka," imbuhnya.
Dengan jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Hong Kong 102.265 pemilih, proses pemungutan suara sudah mulai dilaksanakan. Namun dari DPT yang berjumlah 102.265, hanya 6.000 pemilih yang datang ke TPS.
"Jumlah pemilih yang datang memilih ke TPS sekitar 6.000 orang. Itu yang kami dapat laporan dari Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Hong Kong malam ini (Minggu malam)," ucapnya.
Wahid meyakinkan, dengan tiga sistem pemilihan, dia yakin pemilih melalui pos dan drop box akan lebih banyak di banding yang datang ke TPS.
"Iya, tapi pemilih dengan sistem TPS memang kecil. Selalu seperti itu. Nanti akan ada suara lebih besar yang datang dari pemilih yang menggunakan surat menyurat via pos. Bahkan PPLN Hong Kong memperkirakan pemilih lewat pos ini mencapai 15.000. Suara lewat drop box pasti lbh besar lagi," pungkasnya.
(maf)