Sosok Jokowi ingatkan politik pencitraan SBY
Rabu, 19 Maret 2014 - 01:30 WIB
Sosok Jokowi ingatkan politik pencitraan SBY
A
A
A
Sindonews.com - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengingatkan, betatapun tingginya elektabilitas calon presiden (capres), tetap harus diuji kelayakannya.
Menurutnya, capres yang dihasilkan melalui pencitraan sudah gampang ditebak masyarakat. Maka itu, politik pencitraan sudah seharusnya dihindari.
Siti berharap, sosok Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) yang memiliki tingkat elektabilitas paling tinggi tidak mengulangi tokoh yang dihasilkan lewat pemilu 2014 lalu.
Menurutnya, masyarakat cenderung lupa, bahwa kekuasaan hasil Pemilu 2014 adalah produk dari proses politik pencitraan, di mana saat itu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih menjadi Presiden RI.
"Makanya kita melihat pada periode Pemilu 2014 yang lalu. Kita kan jangan sampai lupa dengan sejarah yang sudah-sudah," kata Siti, saat dihubungi Sindonews, Jakarta, Selasa 18 Maret 2014 malam.
Siti menambahkan, kenapa sosok Jokowi mencuat menjadi capres yang paling dipopulerkan. Menurutnya, karena selama ini figur penguasa yang ditampilkan cenderung mengingkari.
Kata Siti, kesalahan tersebut membuat masyarakat berpindah kepada sosok yang dianggap baru dan populer. "Karena antitesa terhadap situasi kondisi saat ini, ditambah intensitas pemberitaan Jokowi melalui kabar berita di media hari ini," pungkasnya.
Menurutnya, capres yang dihasilkan melalui pencitraan sudah gampang ditebak masyarakat. Maka itu, politik pencitraan sudah seharusnya dihindari.
Siti berharap, sosok Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) yang memiliki tingkat elektabilitas paling tinggi tidak mengulangi tokoh yang dihasilkan lewat pemilu 2014 lalu.
Menurutnya, masyarakat cenderung lupa, bahwa kekuasaan hasil Pemilu 2014 adalah produk dari proses politik pencitraan, di mana saat itu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpilih menjadi Presiden RI.
"Makanya kita melihat pada periode Pemilu 2014 yang lalu. Kita kan jangan sampai lupa dengan sejarah yang sudah-sudah," kata Siti, saat dihubungi Sindonews, Jakarta, Selasa 18 Maret 2014 malam.
Siti menambahkan, kenapa sosok Jokowi mencuat menjadi capres yang paling dipopulerkan. Menurutnya, karena selama ini figur penguasa yang ditampilkan cenderung mengingkari.
Kata Siti, kesalahan tersebut membuat masyarakat berpindah kepada sosok yang dianggap baru dan populer. "Karena antitesa terhadap situasi kondisi saat ini, ditambah intensitas pemberitaan Jokowi melalui kabar berita di media hari ini," pungkasnya.
(maf)