Bahaya kalau semua kepala daerah seperti Jokowi
Selasa, 18 Maret 2014 - 19:29 WIB
Bahaya kalau semua kepala daerah seperti Jokowi
A
A
A
Sindonews.com - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengaku sosok Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) dibesarkan melalui media atau sosok media darling. Maka itu, tingkat elektabilitasnya juga perlu diuji kembali.
Siti menyatakan, kendati Jokowi boleh dikatakan sebagai ikon perubahan, tetapi langkahnya meninggalkan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan memilih sebagai Calon Presiden (Capres) 2014 perlu dipertanyakan ulang.
Bagaimana tidak, sebagai ikon perubahan seharusnya Jokowi tetap konsisten untuk menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur. Dia khawatir langkah Jokowi akan diikuti oleh tokoh daerah lainnya.
"Memang tidak melanggar tapi tidak baik. Karena akan ada dampaknya birokrasi dan etika pemerintahan," kata Siti saat dihubungi Sindonews, Jakarta, Selasa (18/3/2014).
Dia menjelaskan, sejak awal dirinya menanyakan sejumlah kepala daerah yang akhirnya memutuskan berkiprah di tingkat nasional, termasuk Jokowi. Menurutnya hal tersebut tak menjadi masalah, asalkan dibuktikan berdasarkan prestasi, bukan pemberitaan media.
Siti menegaskan, jika hal tersebut dibiarkan, maka akan ada istilah 'bosan' memerintah di daerah satu, kemudian berpindah ke daerah lain, termasuk mencoba keberuntungan menjadi capres.
"Ini (pilpres) bukan pertunjukan. Pilkada dipilih langsung oleh rakyat, kenapa lalu melamar pilkada di wilayah lain," ujarnya.
Oleh karena itu, masyarakat diminta kritis terkait hal tersebut. Sebab, jika dibiarkan, maka seorang pemimpin gemar melupakan janji dan sumpah yang sudah diucapkan. "Kalau kepala daerah mindset-nya seperti ini bakal pindah, bosen di Aceh ikut di Kalimantan, bosen di Papua pindah lagi, ini tidak akan selesai," ungkapnya.
Namun demikian, apakah pencapresan Jokowi karena faktor bosan dan ingin lari dari tanggung jawab sebagai kepala daerah? Dosen Universitas Indonesia (UI) ini meminta masyarakat berfikir jernih.
Menurutnya, pencapresan Jokowi karena momentum pemilu dan kepentingan PDIP. "Ini pertaruhan dari partai, kepada siapa nanti partai dalam mencalonkan capresnya, calonnya, dan taruhannya ada di pileg," tutupnya.
Siti menyatakan, kendati Jokowi boleh dikatakan sebagai ikon perubahan, tetapi langkahnya meninggalkan tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan memilih sebagai Calon Presiden (Capres) 2014 perlu dipertanyakan ulang.
Bagaimana tidak, sebagai ikon perubahan seharusnya Jokowi tetap konsisten untuk menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur. Dia khawatir langkah Jokowi akan diikuti oleh tokoh daerah lainnya.
"Memang tidak melanggar tapi tidak baik. Karena akan ada dampaknya birokrasi dan etika pemerintahan," kata Siti saat dihubungi Sindonews, Jakarta, Selasa (18/3/2014).
Dia menjelaskan, sejak awal dirinya menanyakan sejumlah kepala daerah yang akhirnya memutuskan berkiprah di tingkat nasional, termasuk Jokowi. Menurutnya hal tersebut tak menjadi masalah, asalkan dibuktikan berdasarkan prestasi, bukan pemberitaan media.
Siti menegaskan, jika hal tersebut dibiarkan, maka akan ada istilah 'bosan' memerintah di daerah satu, kemudian berpindah ke daerah lain, termasuk mencoba keberuntungan menjadi capres.
"Ini (pilpres) bukan pertunjukan. Pilkada dipilih langsung oleh rakyat, kenapa lalu melamar pilkada di wilayah lain," ujarnya.
Oleh karena itu, masyarakat diminta kritis terkait hal tersebut. Sebab, jika dibiarkan, maka seorang pemimpin gemar melupakan janji dan sumpah yang sudah diucapkan. "Kalau kepala daerah mindset-nya seperti ini bakal pindah, bosen di Aceh ikut di Kalimantan, bosen di Papua pindah lagi, ini tidak akan selesai," ungkapnya.
Namun demikian, apakah pencapresan Jokowi karena faktor bosan dan ingin lari dari tanggung jawab sebagai kepala daerah? Dosen Universitas Indonesia (UI) ini meminta masyarakat berfikir jernih.
Menurutnya, pencapresan Jokowi karena momentum pemilu dan kepentingan PDIP. "Ini pertaruhan dari partai, kepada siapa nanti partai dalam mencalonkan capresnya, calonnya, dan taruhannya ada di pileg," tutupnya.
(maf)