Akil & Hambit adu mulut di depan hakim

Selasa, 18 Maret 2014 - 08:30 WIB
Akil & Hambit adu mulut...
Akil & Hambit adu mulut di depan hakim
A A A
Sindonews.com - Sidang lanjutan terdakwa mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) M Akil Mochtar berjalan panas di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Senin 17 Maret 2014.

Dalam sidang, Akil dan Bupati Gunung Mas, Kalimantan Tengah (Kalteng) nonaktif, Hambit Bintih tampak bertenggkar lewat sesi tanya jawab. Akil yang diberikan kesempatan langsung berusaha mencecar Hambit yang dihadirkan sebagai saksi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hambit yang juga menjadi menjadi terdakwa ini menguraikan soal pertemuan dan pengurusan perkara lewat anggota Komisi II DPR Fraksi Golkar Chairun Nisa dan Ketua Harian Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Cabang Kalteng Dodi Sitanggang.

Berikut petikan tanya jawab Akil dan Hambit dalam sidang:

Akil (A) : Saudara saksi pertama ketemu Chairun Nisa (CN) tanggal berapa?

Hambit (H) : Tanggal 19 di Hotel Sahid.

A: Dalam pertemuan itu apakah Chairun Nisa tunjukkan SMS? Kalau saat itu tidak ada SMS. Karena pukul 15.00 WIB sore. Chairun Nisa itu pertama kali karena SMS pada saya tanggal 12.

H : Saya kurang tahu urusan Bapak dan Chairun Nisa.

A : Apakah tanggal 20 Chairun Nisa ke Palangkaraya?

H : Tidak tahu.

A : Kapan ketemu Nisa? Tanggal 26. Antara tanggal 19-26 ada komunikasi?

H : Enggak ada sama sekali.

A : Pada tanggal 26 apa Nisa sampaikan SMS pada saudara?

H : Di Hotel Borobudur Lantai 18.

A : Tanggal 25 kan sidang perdana, saudara hadir di situ?

H : Hadir.

A : Tanggal 19 sodara ketemu Nisa tidak minta dia untuk hubungi saya?

H : Saya sudah ketemu, setelah itu Nisa bilang, udahlah saya harus SMS beliau (Akil) dulu.

A : Kenapa dia harus SMS saya?

H : Saya ndak tahu. Dia kan yang SMS bapak.

A : Tidak mungkin.

H : Jangan tanya saya.

A : Saya tanya apa sodara ada minta tolong pada Chairun Nisa?

H : Saya bilang perkaranya, nanti mau ketemu terdakwa (Akil) apa tidak.

A : Intinya minta tolong apa tidak?

H : Ya Ibu Nisa. Iya kalau tidak kan dia tidak mungkin SMS saya. Kata Bu Nisa, ...saya bilag jaga-jaga aja Nu. Memang ada rencana ketemu, tanya Bu Nisa. Saya jawab ya kalau memang bisa.

A : Ibu Chairun Nisa tawarkan pada Anda mau ketemu saya?

H : Iya.

A : Kenapa saudara tidak bertanya lagi kapan bertemu?

H : Saya kontak dulu, minta waktu jawabnya.

A : Tanggal 19-26 tidak ada komunikasi?

H : Tidak ada.

A : Saudara ke rumah saya sama Dodi yang pertama kali tanggal berapa?

H : Hari Kamis, 19.

A : Apa saudara saya terima?

H : Tidak

A : Kenapa saya tidak terima? Apa yang disampaikan Dodi pada saudara?

H : Pak, Bapak tidak bisa terima sore ini. Ya udah balik.

A : Saudara tunggu di taksi lama? Kurang lebih setengah jam?

H : Iya, ndak juga. 15 menit.

A : Pada saat itu ada sama siapa saja?

H : Yang jelas ada dari Kalbar dan Aceh ikut. Bersama-sama satu mobil.

A : Saudara katakan, saudara marah sebagai pejabat bupati ditolak?

H : Saya ndak ada marah. Justru Dodi bilang saya kecewa banget Babe enggak nerima kita.

A : Sebelumnya saya tanya, saudara pernah jadi ketua umum panjat tebing provinsi?

H : Baru dapat SK.

A : Dodi ada sekretaris?

H : Ya, tapi ndak pernah dilantik.

A : Ya karena pada saat itu pertemuan dengan Aceh, Kalteng, Kalbar. Pada saat itu saudara Dodi juga ketemu saya tanggal 19, dia tidak bilang bahwa saudara akan ketemu saya.

A : Tanggal 20 hari Jumat, itu kan saudara sudah ketemu CH tanggal 19. Tanggal 20 saudara ikut Dodi lagi, selama pertemuan di dalam, sodara nunggu di mobil?

H : Iya. Ndak ada sebentar saja. Saya enggak tahu ada pertemuan. Dodi masuk sebentar kurang lebih 10 menit. Dia bilang saya boleh masuk.

A: Lalu Dodi antarkan saudara pada saya. Dodi katakan ini Pak Bupati Gunung Mas?

H : Betul.

A : Dan juga ketua umum panjat tebing?

H : Ndak ada itu.

A : Oke saudara boleh bantah ndak apa-apa karena tidak ada saksinya.

H : Setelah itu dia keluar.

A : Ada saya katakan seharusnya kita enggak ketemu?

H : Ada.

A: Saya bilang saudara incumbent, kalau incumbent selalu berat kalau sidang?

H : Bukan berat kalau sidang, berat ya kasusnya.

A : Iya, saya bilang incumbent itu selalu, berat.

H : Saya bilang, gimana tahu berat baca aja belum.

A : Bagaimana saudara tahu saya sudah baca atau belum?

H : Kan baru berkas di atas meja.

Mendengar tanya jawab seperti ini, majelis hakim langsung menegur Akil, "saya ingatkan supaya lancar ya. Tidak saling memotong. Pikir pertanyaan dan jawabannya dulu."

H : Saya tidak ada masalah, saya apa adanya. Persoalannya ndak ada saksi, hanya kami berdua. Silakan yang mulia, para jaksa, PH menilai.

Majelis Hakim : sekarang kita tanya jawab yang sehat saja. Saudara jawab saja.

A : Saudara tadi katakan RI 9, Ketua MK, saya takut, sekarang saudara bisa omong seperti itu di hadapan saya, masuk akal enggak itu?

H : Kalau sudah Ketua MK bilang berat, siapa yang tidak takut dalam perkara.

A : Itu persepsi saudara. Kalau saudara mau katakan lain, silakan saja. Saudara yang minta tolong pada Dodi atau Dodi yang hubungi saudara?

H : Dodi kan sampai sudah menghubungi.

A : Kalau saudara ragu pada Dodi kenapa saudara datang ke rumah saya? Padahal Chairun Nisa sudah saudara minta tolong juga dan saudara ketemu saya?

H : Saya ragu antara Dodi dan Chairun Nisa. Saya check and balance.

A: Itu kan bukan pertama kali, sudah ditolak. Saudara biaya beri uang pada Dodi untuk ke Jakarta, untuk jumpa saya?

H : Sebenarnya uang itu sekadar saya kasih pada orang bertiga, saat ngobrol-ngobrol. Dodi juga minta. Selaku manusia biasa saya kasih lah. Saya memberi. Sekali Rp10 juta, lalu mereka mau pulang saya kasih Rp20 juta. Ada yang ke Aceh, ada yang ke Kalbar.

A : Dia beri uang pada Dodi untuk fasilitasi bisa ketemu saya, itu persepsi saya. Sama juga dia persepsi lain. Nah saudara minta tolong Chairun Nisa juga Dodi? Kenapa dua-duanya?

H : Saya check and balance, coba cek lewat Dodi.

A : Saudara tidak yakin Dodi karena anak-anak.

H : Dodi saya pikiran, karena dia kan masih anak-anak.

A : Tapi saudara minta ketemu juga, minta tolong Nisa juga. Minta diurus ke saya.

H : Saya check and balance.

A : Jadi sodara percaya Dodi atau Chairun Nisa ?

H : Saya cek kebenaran dua-duanya.

A : Ketika Dodi minta pada saya saudara mau ketemu saya dengan melas-melas, sebenarnya saya tidak mau terima saudara. Itu saya sampaikan, saya bilang saya tidak bisa ketemu saudara. Saudara percaya sama Dodi?

H : Setelah Dodi perkenalkan, saya pikir bener juga. Dodi dekat.

A : Apa kita ada bicara masalah uang dalam pertemuan?

H : Tidak ada

A : Tidak ada kan, saya bilang nanti kita liat perkara saudara, saksi, bukti yang dipersiapkan. Kemudian pada saat itut saudara katakan, urus melalui Ibu tidak melalui Dodi.

H : Kan saya pamit pulang. Gimana Pak urusan yang itu?

A : Anda yang bilang (nada marah), urusan tadi sama Ibu (Chairun Nisa).

H : Ya terserah bapak.

A : Saudara berbohong tapi Tuhan kan tahu. Saudara beriman kan?

H : Sama-sama kita.

A : Budaya lagi, nanti anda disumpah secara adat lho.

H : Malah bapak menghina Dayak kan.

A : Karena saudara, saya ingatkan, saudara.

Jaksa langsung memotong Akil. Baru disebut, "majelis ini...", Akil langsung menyelak.

A : Saya juga punya hak untuk bertanya.

Jaksa : Tapi jangan maksa kehendak.

A : Bukan memaksa, saya hanya tanya percaya Dodi atau Chairun Nisa? (Nada suara Akil meninggi).

Kemudian Akil melanjutkan pertanyaannya kepada Hambit.

A : Lalu kenapa Chairun Nisa SMS minta tolong pada saya? Siapa Chairun Nisa, saya tidak pernah menyuruh Chairun Nisa.

H : Urusan tidak pernah itu urusan bapak dan Chairun Nisa.

A : Saudara kan logikanya tidak masuk. Kalau saya nyuruh Dodi, saya pasti sudah bilang Dodi.

H : Mungkin saja. Dari mana Dodi nagih-nagih kalau enggak dari Bapak. Kalau bisa Dodi dihadirkan di sini.

A : Okelah. Saudara boleh katakan seperti itu. Saudara tetap berhubungan dengan Chairun Nisa tanggal 26?

H : Iya. Perlihatkan SMS pada saya, ini Pak Hambit Rp3 M (miliar). Saya bilang, Rp3 M ya bu, enggak Rp500jt? Chairun Nisa bilang enggak main Rp500an (Juta) itu. Begitu cerita.

A : Lalu kenapa percaya pada Chairun Nisa, padahal saudara Dodi sudah bisa pertemukan? Saya ketemu saudara itu dalam kapasitas sebagai ketua panjat tebing.

H : Itu Dodi rnggak kasih tahu saya.

Baca berita:
Akil siap lancarkan pembuktian terbalik
(kri)
Berita Terkait
Gugatan Jaksa Dipecat...
Gugatan Jaksa Dipecat Karena Korupsi Ditolak Mahkamah Konstitusi
Perbedaan Mahkamah Konstitusi...
Perbedaan Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung
Menjaga Martabat Mahkamah...
Menjaga Martabat Mahkamah Konstitusi
Mahkamah Konstitusi...
Mahkamah Konstitusi Kembali Diuji
Menimbang Mahkamah Konstitusi...
Menimbang Mahkamah Konstitusi Hari Ini
Mahkamah Konstitusi...
Mahkamah Konstitusi dalam Pusaran Politik
Berita Terkini
WNI Dianiaya di Malaysia,...
WNI Dianiaya di Malaysia, Kemlu Sebut 4 Pelaku Sudah Diamankan
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
PBNU Gelar Munas dan...
PBNU Gelar Munas dan Konbes di Ploso Kediri pada 20-23 Juni 2026, Presiden Prabowo Diundang
PKB Jabar Fest, Gus...
PKB Jabar Fest, Gus Muhaimin: Kita Tak Butuh Pemimpin Pencitraan
Denny JA Sebut Algoritma...
Denny JA Sebut Algoritma Lahirkan Kelas Baru Pekerja Digital yang Rentan
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved