Konsumsi dan sistem pembayaran

Kamis, 16 Januari 2014 - 06:44 WIB
Konsumsi dan sistem...
Konsumsi dan sistem pembayaran
A A A
AWAL tahun 2014 akan menjadi saksi apakah strategi China meningkatkan agregat demand domestik akan berhasil membawa perekonomian China menjadi perekonomian superpower di masa depan, ketika negara berkembang lainnya kesulitan menghadapi pengurangan operasi quantitative easing Amerika Serikat yang dimulai awal tahun ini.

Konsumsi telah menjadi strategi utama dari China untuk menghadapi krisis global saat ini, dan bersamaan dengan itu China mengembangkan sistem pembayaran yang mendukung tingkat konsumsi tinggi termasuk melakukan liberalisasi perbankan dan sosial. Intinya perekonomian China akan sangat bergantung pada kepercayaan (trust).

Adam Smith mengatakan: “forcefully that we would do better to trust in the pursuit of selfinterest than in the good intentions of those who pursue the general interest. If everyone looked out for just himself, we would reach an equilibrium that was not just comfortable but also productive, in which the economy was fully efficient. To the morally uninspired, it’s an appealing idea: selfishness as the ultimate form of selflessness”. Dengan kata lain, trustdapat diperoleh melalui liberalisasi.

Tiga model liberalisasi berbasis sistem pembayaran itu bertujuan untuk meningkatkan daya kompetisi produk-produk buatan China di dalam negeri. Tiga metode yang digunakan untuk mengurangi biaya dan kenaikan harga adalah sebagai berikut: Pertama, menurunkan biaya produk, karena apabila biaya produsen dapat diturunkan, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh saluran distribusi. Inilah salah satu alasan utama perusahaan memproduksi barang di China.

Kedua, menurunkan tarif. Ketika tarif berperan dalam kenaikan harga, yang biasanya memang demikian, perusahaan akan mencari cara untuk menurunkannya. Sebagian produk dapat dikategorikan ulang menjadi kategori yang berbeda, lebih rendah, dan beragam.

Bagaimana sebuah produk diklasifikasikan kadang bergantung pada penilaian tertentu saja. Perbedaan antara sebuah jenis barang yang tergolong perhiasan atau benda seni berarti membayar tarif nol untuk benda seni dan tarif sebesar 26 persen untuk perhiasan.

Selain melakukan klasifikasi ulang menjadi produk yang tarifnya lebih murah, terdapat kemungkinan lain berupa memodifikasi produk agar sesuai dengan kategori tarif yang diinginkan. Sering kali terdapat perbedaan antara produk yang telah sepenuhnya dirakit, siap pakai, dengan produk yang perlu dirakit, membutuhkan proses lebih lanjut, tambahan komponen yang berasal dari produsen lokal, atau proses lain yang menambah nilai produk dan dapat dilakukan di luar negeri.

Ketiga, menurunkan biaya produksi. Saluran distribusi yang lebih pendek membuat perusahaan dapat mengendalikan harga produk. Merancang sebuah saluran distribusi dengan hanya beberapa perantara mungkin akan menurunkan biaya distribusi, yaitu dengan cara mengurangi atau menghilangkan kenaikan harga perantara.

Selain menghilangkan kenaikan harga, jumlah perantara yang lebih sedikit juga memungkinkan penarikan pajak secara umum yang lebih rendah. Sebagian negara menarik pajak untuk tiap penambahan nilai produk yang melalui saluran distribusi. Barang-barang dikenakan pajak setiap kali berpindah tangan.

Dengan demikian, secara simultan China bukan saja menciptakan daya saing ekonomi yang lebih tinggi tetapi juga surplus konsumen yang juga lebih tinggi ketika tingkat konsumsi meningkat. Langkah liberalisasi yang sangat luar biasa.

Bukan hanya itu, China juga mengembangkan sistem pembayaran untuk mendukung itu dengan metode payment gateway yang lebih unggul ketimbang sistem yang dikembangkan oleh Amerika Serikat. Reformasi ekonomi yang baru saja dilakukan oleh China telah pula dirasakan oleh Hong Kong di mana harga-harga sahamnya segera meningkat dengan pesat. Proyeksi peningkatan konsumsi di dalam negeri diiringi dengan internasionalisasi mata uang mereka sesuai dengan preferensi utilitas yang diterangkan oleh constantelasticity ofsubstitution.

Artinya peningkatan konsumsi di dalam negeri merupakan komplementer dari internasionalisasi mata uang Yuan. Kondisi ini pernah juga terjadi di Amerika Serikat pada fase awal internasionalisasi dolar, khususnya setelah Perang Dunia Kedua.

Tak heran Modigliani pada tahun 1950 mengembangkan teori konsumsinya life cycle hyphotesis setelah teori konsumsi dikembangkan oleh Keynes dan Milton Friedman. Teori konsumsi tersebut mengasumsikan teknologi sistem pembayaran bersifat netral terhadap peningkatan konsumsi. Pola konsumsi rumah tangga merupakan salah satu indikator kesejahteraan rumah tangga/ keluarga.

Selama ini, berkembang pengertian bahwa besar-kecilnya proporsi pengeluaran untuk konsumsi makanan terhadap seluruh pengeluaran rumah tangga dapat memberikan gambaran kesejahteraan rumah tangga tersebut.

Rumah tangga dengan proporsi pengeluaran yang lebih besar untuk konsumsi makanan mengindikasikan rumah tangga yang berpenghasilan rendah. Makin tinggi tingkat penghasilan rumah tangga, makin kecil proporsi pengeluaran untuk makanan terhadap seluruh pengeluaran rumah tangga.

Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa rumah tangga/keluarga akan semakin sejahtera bila persentase pengeluaran untuk makanan jauh lebih kecil dibandingkan persentase pengeluaran untuk bukan makanan.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, perlu ada kebijakan yang terfokus pada usaha pengurangan kesenjangan, termasuk upaya berkesinambungan untuk memperbaiki infrastruktur publik, khususnya transportasi, sistem pembayaran dan listrik.

Infrastruktur sistem pembayaran yang unggul adalah hubungan antar perangkat pembayaran di mana setiap perangkat pembayaran terhubung secara langsung ke perangkat pembayaran lainnya yang ada di dalam jaringan sistem pembayaran. Akibatnya, setiap perangkat pembayaran dapat berkomunikasi langsung dengan perangkat pembayaran yang dituju (dedicated links) melalui payment gateway yang sangat aman.

Dengan demikian, maksimal banyaknya koneksi antar perangkat pembayaran pada jaringan sistem pembayaran ini dapat dihitung yaitu sebanyak n (n-1)/ 2 di mana n adalah banyaknya perangkat pembayaran. Selain itu karena setiap perangkat pembayaran dapat terhubung dengan perangkat pembayaran lainnya yang ada di dalam jaringan sistem pembayaran maka setiap perangkat pembayaran harus memiliki sebanyak “n-1” port input/output (I/O ports).

Inilah dasar pengembangan sistem pembayaran China yang berbasis konsumsi yang juga komplementer terhadap internasionalisasi Yuan.

ACHMAD DENI DARURI
President Director Center for Banking Crisis
(nfl)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Pengadilan Negeri Jakarta...
Pengadilan Negeri Jakarta Timur Larang Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Mensesneg Jelaskan Maksud...
Mensesneg Jelaskan Maksud Prabowo terkait 4 Kali Kalah Pemilu Tak Ganggu Pemegang Mandat
Salam Prabowo Disampaikan...
Salam Prabowo Disampaikan Jumhur, Raja Charles Beri Pujian untuk Indonesia
Prabowo Singgung Pihak...
Prabowo Singgung Pihak Bikin Gaduh usai Pemilu: Kapan Kita Mau Menuju Kesejahteraan untuk Rakyat?
Ajukan Kasasi, Kuasa...
Ajukan Kasasi, Kuasa Hukum Harap MA Vonis Bebas Kerry Anak Riza Chalid
Jokowi Pede PSI Masuk...
Jokowi Pede PSI Masuk Parlemen Senayan di Pemilu 2029
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved