Aneh, kalau pemerintah puas dengan surat Abbot
Rabu, 27 November 2013 - 12:53 WIB
Aneh, kalau pemerintah puas dengan surat Abbot
A
A
A
Sindonews.com - Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya menilai, surat jawaban yang dikirimkan Perdana Menteri (PM) Australia Tony Abbott belum mengindikasikan permintaan maaf atas penyadapan yang telah mereka lakukan.
"Saya menduga isi surat SBY memang tidak mendesak Australia untuk minta maaf. Kalau benar demikian, SBY tidak menyampaikan suara rakyat Indonesia. Ini patut disesali," kata Tantowi saat dihubungi, Rabu (27/11/2013).
Politikus Partai Golkar ini menegaskan Australia harus mendapatkan pelajaran dari perbuatan yang telah mereka lakukan, dan permintaan maaf dinilainya cara yang paling tepat.
"Pembinaan kembali hubungan hanya dengan menorehkan kesepakatan diatas protokol dan <>code of conduct tidak akan menjamin apa-apa," tegasnya.
"Apakah dengan adanya protokol tersebut, mereka tidak akan menyadap lagi? Protokol tersebut sama seperti surat nikah antarpasangan suami-istri. Apakah surat tersebut menjamin keduanya tidak akan menyeleweng? Permohonan maaflah yang membuat jera," sambungnya.
Karena itu, Ia pun berpendapat kalau persoalan penyadapan yang dilakukan Australia kepada Indonesia belum selesai hanya karena Abbot telah membalas surat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Saya menganggap aneh kalau Pemerintah merasa puas dengan jawaban tersebut dan dengan demikian hubungan bisa dinormalisasi. Jelas sekali, kita kecil, rendah dan tidak signifikan di mata Australia," pungkasnya.
Abbott senang amarah SBY mereda
"Saya menduga isi surat SBY memang tidak mendesak Australia untuk minta maaf. Kalau benar demikian, SBY tidak menyampaikan suara rakyat Indonesia. Ini patut disesali," kata Tantowi saat dihubungi, Rabu (27/11/2013).
Politikus Partai Golkar ini menegaskan Australia harus mendapatkan pelajaran dari perbuatan yang telah mereka lakukan, dan permintaan maaf dinilainya cara yang paling tepat.
"Pembinaan kembali hubungan hanya dengan menorehkan kesepakatan diatas protokol dan <>code of conduct tidak akan menjamin apa-apa," tegasnya.
"Apakah dengan adanya protokol tersebut, mereka tidak akan menyadap lagi? Protokol tersebut sama seperti surat nikah antarpasangan suami-istri. Apakah surat tersebut menjamin keduanya tidak akan menyeleweng? Permohonan maaflah yang membuat jera," sambungnya.
Karena itu, Ia pun berpendapat kalau persoalan penyadapan yang dilakukan Australia kepada Indonesia belum selesai hanya karena Abbot telah membalas surat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
"Saya menganggap aneh kalau Pemerintah merasa puas dengan jawaban tersebut dan dengan demikian hubungan bisa dinormalisasi. Jelas sekali, kita kecil, rendah dan tidak signifikan di mata Australia," pungkasnya.
Abbott senang amarah SBY mereda
(lal)