Ketua MPR kaget Australia enggan minta maaf
Selasa, 19 November 2013 - 16:23 WIB
Ketua MPR kaget Australia enggan minta maaf
A
A
A
Sindonews.com - Ketua MPR RI, Sidharto Danusubroto terlihat kaget, ketika diminta komentar, bahwa Australia tak mau meminta maaf atas penyadapan yang dilakukan kepada Indonesia.
"Benar itu (Australia tidak mau minta maaf), kapan?," kata Sidharto dengan raut wajah terkejut di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2013).
Dirinya berpendapat, dengan tidak mau meminta maaf, membuktikan bahwa Australia sengaja menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginannya termasuk dengan cara menyadap.
"Itu tujuan dengan menggunakan segala cara ya seperti itu. The end justify all means, untuk tujuan negara yang bersangkutan, halal atau haram itu dibenarkan sama mereka. Kalau negara ngaku sahabat tapi melakukan tindakan haram ini, ini sangat tidak etis. Apa nyadap, apa nyolong, kalau perlu merampok, semua dihalalkan," tegasnya.
Dirinya juga menyampaikan, kalau sikap pemerintah yang meminta Duta Besar (Dubes) Indonesia di Australia untuk pulang adalah langkah yang tepat. "Dengan kita menarik dubes kita di sana supaya mereka tahu," terangnya.
Ketika ditanya apakah perlu Dubes Australia untuk Indonesia dipulangkan, dia menjawab. "Saya tidak tahu prosedur dubes asing di sini, tapi dengan kita tarik dubes kita di sana, dia harus tahu posisinya di sana," tuntasnya.
Berita terkait:
Soal penyadapan, Yusril bandingkan dengan era Soeharto.
"Benar itu (Australia tidak mau minta maaf), kapan?," kata Sidharto dengan raut wajah terkejut di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2013).
Dirinya berpendapat, dengan tidak mau meminta maaf, membuktikan bahwa Australia sengaja menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginannya termasuk dengan cara menyadap.
"Itu tujuan dengan menggunakan segala cara ya seperti itu. The end justify all means, untuk tujuan negara yang bersangkutan, halal atau haram itu dibenarkan sama mereka. Kalau negara ngaku sahabat tapi melakukan tindakan haram ini, ini sangat tidak etis. Apa nyadap, apa nyolong, kalau perlu merampok, semua dihalalkan," tegasnya.
Dirinya juga menyampaikan, kalau sikap pemerintah yang meminta Duta Besar (Dubes) Indonesia di Australia untuk pulang adalah langkah yang tepat. "Dengan kita menarik dubes kita di sana supaya mereka tahu," terangnya.
Ketika ditanya apakah perlu Dubes Australia untuk Indonesia dipulangkan, dia menjawab. "Saya tidak tahu prosedur dubes asing di sini, tapi dengan kita tarik dubes kita di sana, dia harus tahu posisinya di sana," tuntasnya.
Berita terkait:
Soal penyadapan, Yusril bandingkan dengan era Soeharto.
(maf)