Menanti kebijakan rupiah

Kamis, 22 Agustus 2013 - 06:45 WIB
Menanti kebijakan rupiah
Menanti kebijakan rupiah
A A A
PELEMAHAN nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai merisaukan kalangan pengusaha, terutama yang bergerak di bidang impor, sejak rupiah menembus level Rp10.500 per USD.

Para pengusaha tersebut berharap dalam waktu dekat pemerintah segera mempertajam kebijakan untuk mengantisipasi pelemahan rupiah tersebut. Ada kekhawatiran, rupiah yang terus terpuruk akan mengundang kepanikan di pasar, terutama di sektor keuangan, yang berdampak luas pada kelangsungan pertumbuhan perekonomian nasional.

Bak gayung bersambut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar rapat kabinet terbatas kemarin di Istana Negara yang khusus pembahas pelemahan nilai tukar rupiah dan anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sangat signifikan sejak awal pekan ini.

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri, pemerintah sedang menyiapkan sebuah paket kebijakan jangka pendek guna membendung tekanan terhadap sektor keuangan. Paket kebijakan yang masih digodok dan dirahasiakan tersebut akan diumumkan Jumat akhir pekan ini. Menkeu Chatib yang ditemui awak media usai menghadiri rapat kabinet terbatas memilih mengunci mulut rapat-rapat.

Yang pasti, ungkap Chatib yang masih merangkap sebagai kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) itu, pemerintah fokus menjaga stabilitas sistem keuangan dan mengejar target pertumbuhan ekonomi. Meski Menkeu merahasiakan kebijakan yang akan ditempuh pemerintah, bocoran yang berkembang dari hasil rapat kabinet terbatas adalah pemerintah akan melakukan mekanisme mitigasi dampak krisis ekonomi global seperti yang ditempuh pada 2008.

Sementara posisi rupiah berada di level Rp10.780 per USD pada penutupan perdagangan kemarin atau melemah Rp100 per USD dari posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang bertengger di level Rp10.680 per USD. Mengawali perdagangan, nilai tukar rupiah di pasar spot tercatat Rp10.959 per USD, nyaris melenggang di level Rp11.000 yang sempat memancing masyarakat mendatangi sejumlah tempat penukaran uang. Pelemahan rupiah dalam tiga bulan terakhir ini memang sudah mengundang kekhawatiran karena sudah mencapai 10,9%.

Penyebab pelemahan nilai tukar rupiah tersebut, selain dipengaruhi faktor eksternal, juga faktor internal. Sisi eksternal dipicu oleh spekulasi atas keputusan pembatasan stimulus moneter di Amerika Serikat dalam waktu dekat. Sedangkan secara internal tidak terlepas dari kondisi neraca perdagangan yang terus mencatatkan defisit. Selain kedua faktor tersebut, kalangan analis ekonomi juga menilai komentar Menkeu selama ini yang selalu menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih dalam batas wajar turut memperparah persepsi para pelaku pasar yang menilai pemerintah cenderung tidak bersikap, padahal rupiah terus melemah.

Pernyataan tersebut memang sensitif sebab bisa diterjemahkan bahwa pemerintah belum mengambil langkah strategis mengatasi masalah tersebut. Nilai tukar rupiah yang terus melemah tersebut berbanding terbalik dengan posisi IHSG. Setelah jeblok selama dua hari pada awal perdagangan pekan ini, indeks mencatat rebound 43 poin. Mengawali perdagangan pergerakan IHSG mengalami fluktuatif dengan rentang yang cukup lebar dan sempat berada di level tertinggi 4.261, namun kembali melemah saat penutupan perdagangan sesi pertama pada posisi 4.219.

Pada penutupan perdagangan indeks menguat sekitar 1,04% di level 4.218, berkat aksi borong saham investor domestik salah satunya dilakukan oleh BUMN. Apakah nilai tukar rupiah masih bisa balik pada level di bawah Rp10.000 per USD? Baik kalangan pengusaha maupun para pengamat ekonomi meragukan rupiah bakal berada di level tersebut.

Yang terpenting sekarang dilakukan pemerintah bagaimana rupiah tidak berfluktuatif tajam, batas toleransi atau keseimbangan baru yang disuarakan pengusaha pada level Rp10.500 per USD. Kita berharap kebijakan pemerintah untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah dapat menambah kencang otot rupiah segera.
(nfl)
Berita Terkait
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Mendata Masyarakat Miskin...
Mendata Masyarakat Miskin Baru
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Berita Terkini
Tumbuhkan Asa Jurnalis...
Tumbuhkan Asa Jurnalis Muda di Era Disruspi Digital, IJTI Gelar Konferensi Jurnalis Kampus se-Indonesia
Kemenag Catat 2 Juta...
Kemenag Catat 2 Juta Hewan Kurban Senilai Rp18,28 Triliun Dipotong saat Iduladha
KPK Kembali Geledah...
KPK Kembali Geledah Rumah Silmy di Jalan Brawijaya Jaksel
LPSK Siap Berikan Perlindungan...
LPSK Siap Berikan Perlindungan bagi Justice Collaborator Kasus BGN dan Imipas
Ditangkap Kejagung,...
Ditangkap Kejagung, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Masih Syok
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved