Mewaspadai ancaman di Poso
Jum'at, 21 Desember 2012 - 06:30 WIB
Mewaspadai ancaman di Poso
A
A
A
Kabar duka kemarin datang dari Korps Brigade Mobil (Brimob) Polri. Personelnya yang tengah berpatroli di Poso,Sulawesi Tengah, tepatnya di Desa Kalora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, tewas diberondong kelompok sipil bersenjata.
Akibatnya tiga orang tewas dan tiga lainnya harus mendapat perawatan intensif akibat luka tembak. Tewasnya personel Polri saat bertugas diwilayah Poso bukanlah kali pertama. Pada pertengahan Oktober lalu dua polisi ditemukan meninggal dan terkubur dalam satu lubang dengan luka leher terluka diduga karena senjata tajam. Mereka tewas saat menyelidiki adanya laporan kelompok bersenjata di daerah itu.
Rangkaian aksi penembakan terhadap polisi bukan hanya menunjukkan bahwa wilayah yang pernah mengalami konflik horizontal pada awal reformasi tersebut belumlah aman. Ribuan polisi yang telah dikerahkan pascapembunuhan dua anggotanya belum sepenuhnya mampu menegakkan keamanan.
Jika menilik agresivitas kelompok bersenjata yang dengan berani menyasar aparat keamanan, apa yang ingin ditunjukkan mereka pun bukan sebatas karena motif balas dendam terhadap personel polisi akibat penggerebekan maupun pembunuhan terhadap anggota kelompok bersenjata.
Lebih dari itu, terasa juga adanya upaya untuk menyeret kembali daerah tersebut sebagai battle field. Dalam logika sederhana, jika mereka hanya sekadar memanfaatkan Poso dan sekitarnya sebagai tempat latihan karena kondisi alam dan geografis yang sangat strategis, tentu mereka akan memilih bersembunyi atau kabur begitu mengetahui polisi kini memburu mereka, bukan malah menantang mereka.
Inilah yang harus diwaspadai. Jangan sampai Poso yang sebenarnya secara umum kondisinya kondusif,kembali menjadi berstatus daerah konflik seperti pernah dialami.
Jangan sampai Poso yang saat ini menjadi medan latihan berubah menjadi medan pertempuran dalam arti sesungguhnya. Ibarat bara dalam sekam, walaupun gerakan yang ditunjukkan kelompok bersenjata masih terhitung sangat kecil, bukan berarti kemudian dianggap sepele.
Lazimnya kelompok kecil, apalagi jika dilandasi keyakinan akan ideologi yang kuat,kelompok bersenjata ini tentu tidak akan tinggal diam. Mereka akan terus menyebarkan pengaruh dan menghimpun kekuatan.
Apalagi kini mereka sudah mempunyai keyakinan diri dengan persenjataan yang mereka miliki dan kemampuan melumpuhkan personel Brimob. Karena itu, melihat perkembangan gerakan kelompok bersenjata tersebut, pemerintah harus mengambil langkah lebih tegas. Siapa pun mereka, terlebih jika mereka benar-benar kelompok teroris seperti diyakini selama ini, pemerintah harus mengerahkan kekuatan optimal untuk menutup ruang gerak mereka dan kemudian memberangusnya.
Kalau dianggap perlu, TNI, terutama kekuatan intelijennya, diturunkan untuk membantu tugas Polri. Selain melakukan pendekatan keamanan, pemerintah harus memberi perhatian pada pendekatan sosio-kultural kepada masyarakat.
Dalam kasus di Poso, kelompok teroris memanfaatkan daerah ini sebagai medan latihan bukan karena faktor alam dan geografis. Tampaknya, ada faktor lain yang membuat mereka lebih nyaman di daerah ini ketimbang di daerah lain.
Faktor itu mungkin bisa berupa adanya sel-sel kekuatan yang memberi ruang gerak dan jaminan kepada mereka, karena masyarakat permisif dengan gerakan-gerakan semacam itu, atau karena memang masyarakat benar-benar tidak tahu ada aktivitas itu. Semua kemungkinan harus diteliti dan dipilah.
Muaranya adalah memberikan pemahaman akan ancaman di lingkungan mereka, dan menggerakkan masyarakat menjadi bagian integral dari upaya memberantas kelompok bersenjata. Bagaimanapun, tidak mungkin menyerahkan tugas tersebut hanya kepada Polri.
Akibatnya tiga orang tewas dan tiga lainnya harus mendapat perawatan intensif akibat luka tembak. Tewasnya personel Polri saat bertugas diwilayah Poso bukanlah kali pertama. Pada pertengahan Oktober lalu dua polisi ditemukan meninggal dan terkubur dalam satu lubang dengan luka leher terluka diduga karena senjata tajam. Mereka tewas saat menyelidiki adanya laporan kelompok bersenjata di daerah itu.
Rangkaian aksi penembakan terhadap polisi bukan hanya menunjukkan bahwa wilayah yang pernah mengalami konflik horizontal pada awal reformasi tersebut belumlah aman. Ribuan polisi yang telah dikerahkan pascapembunuhan dua anggotanya belum sepenuhnya mampu menegakkan keamanan.
Jika menilik agresivitas kelompok bersenjata yang dengan berani menyasar aparat keamanan, apa yang ingin ditunjukkan mereka pun bukan sebatas karena motif balas dendam terhadap personel polisi akibat penggerebekan maupun pembunuhan terhadap anggota kelompok bersenjata.
Lebih dari itu, terasa juga adanya upaya untuk menyeret kembali daerah tersebut sebagai battle field. Dalam logika sederhana, jika mereka hanya sekadar memanfaatkan Poso dan sekitarnya sebagai tempat latihan karena kondisi alam dan geografis yang sangat strategis, tentu mereka akan memilih bersembunyi atau kabur begitu mengetahui polisi kini memburu mereka, bukan malah menantang mereka.
Inilah yang harus diwaspadai. Jangan sampai Poso yang sebenarnya secara umum kondisinya kondusif,kembali menjadi berstatus daerah konflik seperti pernah dialami.
Jangan sampai Poso yang saat ini menjadi medan latihan berubah menjadi medan pertempuran dalam arti sesungguhnya. Ibarat bara dalam sekam, walaupun gerakan yang ditunjukkan kelompok bersenjata masih terhitung sangat kecil, bukan berarti kemudian dianggap sepele.
Lazimnya kelompok kecil, apalagi jika dilandasi keyakinan akan ideologi yang kuat,kelompok bersenjata ini tentu tidak akan tinggal diam. Mereka akan terus menyebarkan pengaruh dan menghimpun kekuatan.
Apalagi kini mereka sudah mempunyai keyakinan diri dengan persenjataan yang mereka miliki dan kemampuan melumpuhkan personel Brimob. Karena itu, melihat perkembangan gerakan kelompok bersenjata tersebut, pemerintah harus mengambil langkah lebih tegas. Siapa pun mereka, terlebih jika mereka benar-benar kelompok teroris seperti diyakini selama ini, pemerintah harus mengerahkan kekuatan optimal untuk menutup ruang gerak mereka dan kemudian memberangusnya.
Kalau dianggap perlu, TNI, terutama kekuatan intelijennya, diturunkan untuk membantu tugas Polri. Selain melakukan pendekatan keamanan, pemerintah harus memberi perhatian pada pendekatan sosio-kultural kepada masyarakat.
Dalam kasus di Poso, kelompok teroris memanfaatkan daerah ini sebagai medan latihan bukan karena faktor alam dan geografis. Tampaknya, ada faktor lain yang membuat mereka lebih nyaman di daerah ini ketimbang di daerah lain.
Faktor itu mungkin bisa berupa adanya sel-sel kekuatan yang memberi ruang gerak dan jaminan kepada mereka, karena masyarakat permisif dengan gerakan-gerakan semacam itu, atau karena memang masyarakat benar-benar tidak tahu ada aktivitas itu. Semua kemungkinan harus diteliti dan dipilah.
Muaranya adalah memberikan pemahaman akan ancaman di lingkungan mereka, dan menggerakkan masyarakat menjadi bagian integral dari upaya memberantas kelompok bersenjata. Bagaimanapun, tidak mungkin menyerahkan tugas tersebut hanya kepada Polri.
(ysw)