Pasar modal dan dana asing
Kamis, 20 Desember 2012 - 06:28 WIB
Pasar modal dan dana asing
A
A
A
Sepanjang tahun ini tren pertumbuhan pasar modal meski tidak signifikan namun cukup menggembirakan, tercatat sekitar 14,5% hingga November 2012.
Secara internal, berdasarkan versi Bank Indonesia (BI) membaiknya kinerja pasar modal yang dibuktikan melalui penguatan indeks didorong oleh kondisi makro ekonomi domestik yang kondusif, didukung kebijakan perekonomian yang akomodatif, dan kinerja emiten domestik yang positif. Secara eksternal, aliran dana asing masih mengalir yang berperan besar menggerakkan indeks.
Karena itu, sangat disayangkan dalam kondisi pasar modal bertumbuh positif hanya satu badan usaha milik negara (BUMN) yang melakukan penawaran perdana saham (initial public offering/IPO), yakni PT Waskita Karya Tbk pada tahun ini. Hal itu disebabkan proses persetujuan IPO yangpanjang,antaralainsebagaimanadiungkapkan Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementerian BUMN, Pandu Djajanto, terkait persetujuan dan izin dari Komite Privatisasi sampai restu Dewan Perwakilan Rakyat(DPR).
Padahal privatisasi perusahaan pelat negara melalui skema IPO selalu dinanti-nantikan investor. Karena proses izin yang tiada ujung, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyerah. “Enggak tahu aku. Aku menyerah saja.Tidak IPO juga tidak apa-apa. Kalau izinnya tidak keluar bagaimana lagi?” katanya pasrahkepadamediamassabeberapa waktu lalu.Tahun ini, Kementerian BUMN menargetkan IPO lima BUMN beserta anak usahanya, meliputi PT Semen Baturaja, PT Pertamina Gas (Pertagas),PT Pertamina Drilling Services, PT GMF AeroAsia,dan PT PLN Enjiniring; tapi tak satu pun terealisasi.
Bagaimana dengan prospek dan peluang pasar modal tahun depan? Perpaduan fundamental ekonomi domestik yang positif dengan aliran dana asing yang diprediksi tetap menyerbu pasar Indonesia dinilai oleh sejumlah analis ekonomi bahwa pasar modal tetap akan dilirik para investor karena dianggap masih seksi.
Meski demikian, ancaman dampak krisis ekonomi global tetap harus diwaspadai sebab berbagai kemungkinan bisa membelokkan arah pertumbuhan ekonomi domestik bukan hanya di Indonesia tetapi di kawasan Asia. Para investor asing tidak segan menggelontorkan dananya di pasar modal Indonesia,sebab potensi returninvestasi masih jauh lebih menarik dibanding berinvestasi di negara kawasan Eropa yang masih terus terlilit kelesuan ekonomi global.
Tetapi ada catatan, sepanjang The Federal Reserve (bank sentral AS) tidak menaikkan suku bunganya. Sebelumnya, Gubernur The Fed Ben Bernanke menyatakan akan menahan suku bunga rendah 0,025% hingga dua tahun mendatang. Total aliran dana asing yang mengguyur pasar modal berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai sebesar Rp24,29 triliun sepanjang tahun lalu, dan tahun ini diperkirakan jumlahnya lebih besar lagi.
Meski demikian, serbuan dana asing tetap harus diwaspadai karena setiap saat akan terbang kembali ke negaranya atau negara yangbisamemberi returnin vestasi lebih besar. Persoalanmenahan dana asing agar tetap berputar di pasar domestik bukan persoalan gampang,apalagi instrumen yang ada masih jauh dari maksimal dibanding sejumlah negara Asia yang juga dibanjiri dana asing.
Selain itu, pengelola pasar modal senantiasa dituntut lebih profesional berkaitan dengan peningkatan daya saing terutama dalamberhadapandenganpasarmodaldalamkawasan ASEAN. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kondisi pasar modal negeri ini masih tertinggal jauh dibandingkan sejumlah pasar modal negeri tetangga. Pembenahan dari berbagai sektor harus selaras dan sejalan mulai dari regulasi yang bersahabat dengan investor,hingga penciptaan produk pasar modal yang merangsang investor untuk menanamkan modal.●
Secara internal, berdasarkan versi Bank Indonesia (BI) membaiknya kinerja pasar modal yang dibuktikan melalui penguatan indeks didorong oleh kondisi makro ekonomi domestik yang kondusif, didukung kebijakan perekonomian yang akomodatif, dan kinerja emiten domestik yang positif. Secara eksternal, aliran dana asing masih mengalir yang berperan besar menggerakkan indeks.
Karena itu, sangat disayangkan dalam kondisi pasar modal bertumbuh positif hanya satu badan usaha milik negara (BUMN) yang melakukan penawaran perdana saham (initial public offering/IPO), yakni PT Waskita Karya Tbk pada tahun ini. Hal itu disebabkan proses persetujuan IPO yangpanjang,antaralainsebagaimanadiungkapkan Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementerian BUMN, Pandu Djajanto, terkait persetujuan dan izin dari Komite Privatisasi sampai restu Dewan Perwakilan Rakyat(DPR).
Padahal privatisasi perusahaan pelat negara melalui skema IPO selalu dinanti-nantikan investor. Karena proses izin yang tiada ujung, Menteri BUMN Dahlan Iskan menyerah. “Enggak tahu aku. Aku menyerah saja.Tidak IPO juga tidak apa-apa. Kalau izinnya tidak keluar bagaimana lagi?” katanya pasrahkepadamediamassabeberapa waktu lalu.Tahun ini, Kementerian BUMN menargetkan IPO lima BUMN beserta anak usahanya, meliputi PT Semen Baturaja, PT Pertamina Gas (Pertagas),PT Pertamina Drilling Services, PT GMF AeroAsia,dan PT PLN Enjiniring; tapi tak satu pun terealisasi.
Bagaimana dengan prospek dan peluang pasar modal tahun depan? Perpaduan fundamental ekonomi domestik yang positif dengan aliran dana asing yang diprediksi tetap menyerbu pasar Indonesia dinilai oleh sejumlah analis ekonomi bahwa pasar modal tetap akan dilirik para investor karena dianggap masih seksi.
Meski demikian, ancaman dampak krisis ekonomi global tetap harus diwaspadai sebab berbagai kemungkinan bisa membelokkan arah pertumbuhan ekonomi domestik bukan hanya di Indonesia tetapi di kawasan Asia. Para investor asing tidak segan menggelontorkan dananya di pasar modal Indonesia,sebab potensi returninvestasi masih jauh lebih menarik dibanding berinvestasi di negara kawasan Eropa yang masih terus terlilit kelesuan ekonomi global.
Tetapi ada catatan, sepanjang The Federal Reserve (bank sentral AS) tidak menaikkan suku bunganya. Sebelumnya, Gubernur The Fed Ben Bernanke menyatakan akan menahan suku bunga rendah 0,025% hingga dua tahun mendatang. Total aliran dana asing yang mengguyur pasar modal berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai sebesar Rp24,29 triliun sepanjang tahun lalu, dan tahun ini diperkirakan jumlahnya lebih besar lagi.
Meski demikian, serbuan dana asing tetap harus diwaspadai karena setiap saat akan terbang kembali ke negaranya atau negara yangbisamemberi returnin vestasi lebih besar. Persoalanmenahan dana asing agar tetap berputar di pasar domestik bukan persoalan gampang,apalagi instrumen yang ada masih jauh dari maksimal dibanding sejumlah negara Asia yang juga dibanjiri dana asing.
Selain itu, pengelola pasar modal senantiasa dituntut lebih profesional berkaitan dengan peningkatan daya saing terutama dalamberhadapandenganpasarmodaldalamkawasan ASEAN. Kita tidak bisa menutup mata bahwa kondisi pasar modal negeri ini masih tertinggal jauh dibandingkan sejumlah pasar modal negeri tetangga. Pembenahan dari berbagai sektor harus selaras dan sejalan mulai dari regulasi yang bersahabat dengan investor,hingga penciptaan produk pasar modal yang merangsang investor untuk menanamkan modal.●
(mhd)