Ampunan FIFA
Rabu, 19 Desember 2012 - 10:07 WIB
Ampunan FIFA
A
A
A
FEDERASI sepak bola dunia atau FIFA memberikan toleransi kepada Indonesia untuk menyelesaikan kekisruhan yang terjadi hingga Maret 2013. Bisa dikatakan, pemberian waktu dari FIFA ini sebuah ampunan karena sepak bola Tanah Air semestinya sudah layak untuk mendapatkan sanksi.
Ada kompetisi di luar sistem, ada organisasi di luar sistem, kepengurusan yang kurang capable untuk menyelenggarakan kompetisi, klubklub yang tidak layak mengikuti kompetisi karena minim dana atau fasilitas yang tidak menunjang, dan sebagainya. Salah siapa kisruh sepak bola Tanah Air ini? Tentu salah mereka yang terlalu memaksakan kehendak, mendompleng kepentingan, dan merasa paling benar dalam mengelola sepak bola negeri ini.
Padahal, jika kita mau melihat sebenarnya, subjek dari sepak bola Tanah Air adalah pemain. Sedangkan penonton, pelatih ofisial, dan tentu klub yang menaungi pemain-pelatih adalah penunjang utama. Lalu, pengurus klub dan organisasi sepak bola menjadi supporting yang semestinya bisa melayani pemain. Namun, yang terjadi di Tanah Air tidak demikian. Pemain seolah hanya sebagai objek yang bisa didikte sedemikian rupa oleh klub, pengurus klub, dan organisasi.
Yang terjadi saat ini, pemain seolah tidak berdaya apa-apa dan hanya mau menuruti permintaan klub. Ini tentu bukan sesuatu yang ideal karena pemain harus mempunyai kedudukan yang sama dengan klub. Nah, tenggat waktu yang diberikan FIFA bisa dijadikan ampunan bagi kita semua untuk membenahi yang kurang benar. Sebuah ampunan yang seharusnya dijadikan momentum untuk melakukan rekonsiliasi demi sepak bola Indonesia yang lebih baik.
Ampunan yang semestinya bisa memberikan angin segar bagi semua pihak yang terlibat di sepak bola Indonesia. Ampunan yang bisa menghilangkan pemaksaan kehendak, kepentingan di luar sepak bola, dan perasaan paling benar. Ini dikembalikan kepada mereka yang benar-benar ingin melihat sepak bola Tanah Air lebih baik. Masih ada waktu beberapa bulan untuk melakukan pembenahan ke arah yang lebih baik.
Semua berharap pembenahan bisa menghasilkan sebuah organisasi sepak bola yang bersih dari kepentingan serta capable dalam mengelola sepak bola. Kunci pembenahan yang harus ditekankan adalah menempatkan pemain sepak bola kita sebagai subjek, bukan lagi sebagai objek. Dengan menempatkan pemain sebagai subjek, pemain akan lebih merasa aman dan nyaman dalam bermain sepak bola dan arahnya akan jelas–sebuah sepak bola yang indah dan berkualitas.
Masa ampunan ini diharapkan bisa digunakan untuk menghilangkan keangkuhan klub dan pengurus agar pemain leluasa membela tim nasional. Masa ampunan yang ada bisa digunakan untuk menghilangkan kasus gaji yang telat dibayar. Masa ampunan ini diharapkan bisa memberikan pemain kesejahteraan. Masa ampunan ini semestinya bisa memberikan peluang klub untuk mengelola keuangan dengan bagus sehingga bisa profit untuk menumbuhkembangkan profesionalitas mereka.
Dengan cara-cara itu, penggemar sepak bola Tanah Air akan mendapatkan suguhan laga sepak bola berkualitas. Kita yakin, jika hal tersebut bisa dicapai, sepak bola Tanah Air bisa melanglang buana ke dunia internasional. Task Force, PSSI, KPSI, ataupun asosiasi pemain profesional Indonesia harus bisa duduk bersama dan hanya fokus pada sepak bola Indonesia.
Masa tenggat yang diberikan FIFA harus digunakan mereka untuk bergandengan tangan untuk menuju sepak bola Indonesia yang lebih baik. Sepak bola Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk menjadi jauh lebih baik. Masih ada waktu untuk menjadi jauh lebih baik, bukan malah semakin karut-marut.
Ada kompetisi di luar sistem, ada organisasi di luar sistem, kepengurusan yang kurang capable untuk menyelenggarakan kompetisi, klubklub yang tidak layak mengikuti kompetisi karena minim dana atau fasilitas yang tidak menunjang, dan sebagainya. Salah siapa kisruh sepak bola Tanah Air ini? Tentu salah mereka yang terlalu memaksakan kehendak, mendompleng kepentingan, dan merasa paling benar dalam mengelola sepak bola negeri ini.
Padahal, jika kita mau melihat sebenarnya, subjek dari sepak bola Tanah Air adalah pemain. Sedangkan penonton, pelatih ofisial, dan tentu klub yang menaungi pemain-pelatih adalah penunjang utama. Lalu, pengurus klub dan organisasi sepak bola menjadi supporting yang semestinya bisa melayani pemain. Namun, yang terjadi di Tanah Air tidak demikian. Pemain seolah hanya sebagai objek yang bisa didikte sedemikian rupa oleh klub, pengurus klub, dan organisasi.
Yang terjadi saat ini, pemain seolah tidak berdaya apa-apa dan hanya mau menuruti permintaan klub. Ini tentu bukan sesuatu yang ideal karena pemain harus mempunyai kedudukan yang sama dengan klub. Nah, tenggat waktu yang diberikan FIFA bisa dijadikan ampunan bagi kita semua untuk membenahi yang kurang benar. Sebuah ampunan yang seharusnya dijadikan momentum untuk melakukan rekonsiliasi demi sepak bola Indonesia yang lebih baik.
Ampunan yang semestinya bisa memberikan angin segar bagi semua pihak yang terlibat di sepak bola Indonesia. Ampunan yang bisa menghilangkan pemaksaan kehendak, kepentingan di luar sepak bola, dan perasaan paling benar. Ini dikembalikan kepada mereka yang benar-benar ingin melihat sepak bola Tanah Air lebih baik. Masih ada waktu beberapa bulan untuk melakukan pembenahan ke arah yang lebih baik.
Semua berharap pembenahan bisa menghasilkan sebuah organisasi sepak bola yang bersih dari kepentingan serta capable dalam mengelola sepak bola. Kunci pembenahan yang harus ditekankan adalah menempatkan pemain sepak bola kita sebagai subjek, bukan lagi sebagai objek. Dengan menempatkan pemain sebagai subjek, pemain akan lebih merasa aman dan nyaman dalam bermain sepak bola dan arahnya akan jelas–sebuah sepak bola yang indah dan berkualitas.
Masa ampunan ini diharapkan bisa digunakan untuk menghilangkan keangkuhan klub dan pengurus agar pemain leluasa membela tim nasional. Masa ampunan yang ada bisa digunakan untuk menghilangkan kasus gaji yang telat dibayar. Masa ampunan ini diharapkan bisa memberikan pemain kesejahteraan. Masa ampunan ini semestinya bisa memberikan peluang klub untuk mengelola keuangan dengan bagus sehingga bisa profit untuk menumbuhkembangkan profesionalitas mereka.
Dengan cara-cara itu, penggemar sepak bola Tanah Air akan mendapatkan suguhan laga sepak bola berkualitas. Kita yakin, jika hal tersebut bisa dicapai, sepak bola Tanah Air bisa melanglang buana ke dunia internasional. Task Force, PSSI, KPSI, ataupun asosiasi pemain profesional Indonesia harus bisa duduk bersama dan hanya fokus pada sepak bola Indonesia.
Masa tenggat yang diberikan FIFA harus digunakan mereka untuk bergandengan tangan untuk menuju sepak bola Indonesia yang lebih baik. Sepak bola Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk menjadi jauh lebih baik. Masih ada waktu untuk menjadi jauh lebih baik, bukan malah semakin karut-marut.
(hyk)