Bandara Soekarno - Hatta Butuh Perhatian
Selasa, 18 Desember 2012 - 06:32 WIB
Bandara Soekarno - Hatta Butuh Perhatian
A
A
A
Sepanjang tahun ini Bandara Soekarno-Hatta, yang dikelola PT Angkasa Pura (AP) II, ramai diberitakan di media massa. Sayangnya kabar yang beredar justru kondisi negatif bandara terbesar di negeri ini.
Dari listrik mati beberapa kali yang mengacaukan jadwal penerbangan, fasilitas umum yang terbatas dan semrawut, juga toilet yang kurang bersih sehingga “mengundang” Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berinisiatif membersihkannya.
Menjelang tutup tahun ini berita Bandara Soekarno-Hatta kembali menghiasi media massa dengan kabar yang kurang sedap, yakni perangkat pendukung pasokan energi listrik ke perangkat komputer pendukung kerja pemanduan pesawat yang lebih dikenal dengan istilah Uninterruptible Power Supply (UPS) terbakar.
Akibat tidak berfungsinya peralatan vital tersebut selama dua jam lebih, 64 jadwal penerbangan terganggu karena radar tidak berfungsi. Rinciannya, 39 penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta terganggu, tiga penerbangan dialihkan, 22 penerbangan menuju Bandara Soekarno-Hatta tak bisa tembus alias mendarat.
Manajemen AP II membeberkan bahwa kondisi darurat tersebut memaksa manajemen melakukan penggeseran jadwal penerbangan pada sistem pemanduan udara di menara kontrol demi keselamatan penerbangan. Sistem radar yang bermasalah dari pukul 16.55 WIB, Minggu (16/12) sore baru bisa dinormalkan pada pukul 19.30 WIB.
Manajemen AP II sudah menyampaikan permintaan maaf atas insiden mendadak tersebut yang membuat operator dan penumpang maskapai penerbangan tidak nyaman.
Tetapi tentu permintaan maaf itu harus dibarengi dengan pembenahan yang serius dari pihak manajemen. Atas insiden terbakarnya UPS tersebut, maskapai penerbangan Garuda Indonesia (GI) dan Lion Air harus mengalami kerugian.
Manajemen GI mengungkapkan, 30 jadwal penerbangan terganggu meliputi 20 penerbangan tertunda dari Cengkareng dan 10 penerbangan dari daerah yang tidak bisa mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
Penerbangan yang tertunda tersebut tidak hanya domestik, tapi juga internasional. Adapun Lion Air tercatat lebih banyak lagi, sekitar 50 penerbangan. Meski begitu, manajemen maskapai pelat merah dan maskapai swasta itu masih merahasiakan berapa kerugian yang diderita akibat amburadulnya jadwal penerbangan ini.
Kondisi Bandara Soekarno-Hatta yang selalu bermasalah bukan sekadar persoalan berapa kerugian yang harus ditanggung operator dan terganggunya kenyamanan para penumpang, tetapi citra Indonesia di mata internasional karena bandara adalah pintu gerbang.
Memang, insiden yang selalu terulang itu hal sepele, misalnya listrik mati dengan tempo singkat dalam hitungan menit, tetapi dampaknya begitu besar terhadap lalu lintas penerbangan di bandara yang sudah masuk kategori padat tersebut.
Kita berharap Komisi V DPR yang membidangi transportasi tidak lembek mengkritik persoalan Bandar Soekarno-Hatta. Saatnya, DPR menguliti pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan bandara, dari Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, hingga manajemen AP II sebagai operator.
Masyarakat rindu mendengar aksi nyata para wakil rakyat yang ada di Senayan dalam kapasitas sebagai pengawas pada pengelolaan negara, tak terkecuali terhadap BUMN, dalam hal ini AP II. Dalam tiga bulan terakhir masyarakat hanya diberi sajian perseteruan antara Menteri BUMN dan DPR terkait suap-menyuap.
Persoalan itu penting, tapi jangan kemudian sepak terjang BUMN seperti AP II yang selalu bermasalah dalam mengelola bandara kebanggaan masyarakat ini luput dari perhatian DPR. Peristiwa listrik mati dan radar Bandara Soekarno-Hatta tidak berfungsi semoga berakhir di ujung tahun ini.
Dari listrik mati beberapa kali yang mengacaukan jadwal penerbangan, fasilitas umum yang terbatas dan semrawut, juga toilet yang kurang bersih sehingga “mengundang” Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berinisiatif membersihkannya.
Menjelang tutup tahun ini berita Bandara Soekarno-Hatta kembali menghiasi media massa dengan kabar yang kurang sedap, yakni perangkat pendukung pasokan energi listrik ke perangkat komputer pendukung kerja pemanduan pesawat yang lebih dikenal dengan istilah Uninterruptible Power Supply (UPS) terbakar.
Akibat tidak berfungsinya peralatan vital tersebut selama dua jam lebih, 64 jadwal penerbangan terganggu karena radar tidak berfungsi. Rinciannya, 39 penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta terganggu, tiga penerbangan dialihkan, 22 penerbangan menuju Bandara Soekarno-Hatta tak bisa tembus alias mendarat.
Manajemen AP II membeberkan bahwa kondisi darurat tersebut memaksa manajemen melakukan penggeseran jadwal penerbangan pada sistem pemanduan udara di menara kontrol demi keselamatan penerbangan. Sistem radar yang bermasalah dari pukul 16.55 WIB, Minggu (16/12) sore baru bisa dinormalkan pada pukul 19.30 WIB.
Manajemen AP II sudah menyampaikan permintaan maaf atas insiden mendadak tersebut yang membuat operator dan penumpang maskapai penerbangan tidak nyaman.
Tetapi tentu permintaan maaf itu harus dibarengi dengan pembenahan yang serius dari pihak manajemen. Atas insiden terbakarnya UPS tersebut, maskapai penerbangan Garuda Indonesia (GI) dan Lion Air harus mengalami kerugian.
Manajemen GI mengungkapkan, 30 jadwal penerbangan terganggu meliputi 20 penerbangan tertunda dari Cengkareng dan 10 penerbangan dari daerah yang tidak bisa mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
Penerbangan yang tertunda tersebut tidak hanya domestik, tapi juga internasional. Adapun Lion Air tercatat lebih banyak lagi, sekitar 50 penerbangan. Meski begitu, manajemen maskapai pelat merah dan maskapai swasta itu masih merahasiakan berapa kerugian yang diderita akibat amburadulnya jadwal penerbangan ini.
Kondisi Bandara Soekarno-Hatta yang selalu bermasalah bukan sekadar persoalan berapa kerugian yang harus ditanggung operator dan terganggunya kenyamanan para penumpang, tetapi citra Indonesia di mata internasional karena bandara adalah pintu gerbang.
Memang, insiden yang selalu terulang itu hal sepele, misalnya listrik mati dengan tempo singkat dalam hitungan menit, tetapi dampaknya begitu besar terhadap lalu lintas penerbangan di bandara yang sudah masuk kategori padat tersebut.
Kita berharap Komisi V DPR yang membidangi transportasi tidak lembek mengkritik persoalan Bandar Soekarno-Hatta. Saatnya, DPR menguliti pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan bandara, dari Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, hingga manajemen AP II sebagai operator.
Masyarakat rindu mendengar aksi nyata para wakil rakyat yang ada di Senayan dalam kapasitas sebagai pengawas pada pengelolaan negara, tak terkecuali terhadap BUMN, dalam hal ini AP II. Dalam tiga bulan terakhir masyarakat hanya diberi sajian perseteruan antara Menteri BUMN dan DPR terkait suap-menyuap.
Persoalan itu penting, tapi jangan kemudian sepak terjang BUMN seperti AP II yang selalu bermasalah dalam mengelola bandara kebanggaan masyarakat ini luput dari perhatian DPR. Peristiwa listrik mati dan radar Bandara Soekarno-Hatta tidak berfungsi semoga berakhir di ujung tahun ini.
(lns)