Demokrat berharap
Senin, 17 Desember 2012 - 07:29 WIB
Demokrat berharap
A
A
A
Partai Demokrat mencoba bangkit dari keterpurukan setelah dilanda persoalan pelik atas kader-kadernya yang tersangkut kasus korupsi.Pucuk pimpinan partai berkuasa ini berusaha menjadikan akhir tahun 2012 sebagai momentum untuk mengakhiri segala kemelut internal partai guna menghadapi Pemilu 2014 yang semakin dekat.
Namun, seperti kita tahu, konsolidasi partai lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Konflik internal partai adalah bagian dari dinamika politik yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Pertarungan kepentingan, faksi, kelompok-kelompok akan selalu membayangi upaya konsolidasi Demokrat.
Sosok Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dianggap sebagai figur pemersatu partai pun mulai diragukan keandalannya. Apalagi kabar kurang harmonisnya hubungan SBY dengan Ketua Umum Anas Urbaningrum yang beberapa waktu terakhir mencuat ke permukaan. Ditambah langkah DPP Demokrat memecat kadernya Ruhut Sitompul dari pengurus teras DPP.
Faktor ini menjadi tantangan serius SBY-Anas untuk bersama-sama membangkitkan kembali kejayaan Demokrat. SBY berjanji akan turun langsung untuk memenangkan Demokrat pada Pemilu 2014 di tengah popularitas partai yang terus menurun. SBY pasang target minimal Demokrat harus menjadi tiga besar pada pemilu nanti. Tentu saja ini bukan tugas mudah bagi Demokrat meskipun mereka saat ini sebagai partai yang sedang berkuasa.
Tantangan ke depan yang harus dihadapi Demokrat lebih besar daripada peluang yang bisa diraihnya. Akan sulit bagi Demokrat untuk bisa mendapatkan kembali momentum emas pada Pemilu 2004 dan 2009 yang membuktikan masa keemasan partai setelah memperoleh dukungan rakyat dengan suara meyakinkan pada pemilu legislatif dan pemilihan presiden.
Kerja keras pimpinan partai dan kader Demokrat adalah keharusan yang tidak boleh ditawar-tawar.Tapi itu saja tidak cukup. Kerja keras yang tidak diimbangi kesatuan visi misi internal elite Demokrat sendiri akan sulit mengulang kembali kejayaan partai. Pengurus harian dalam hal ini DPP yang dikomandani Anas Urbaningrum harus satu hati dengan Dewan Pembina yang dikontrol langsung SBY.
Jika kedua lembaga ini masih terlibat dalam rivalitas internal, baik yang terbuka maupun setengah terbuka, saling kunci, saling melemahkan, apa yang ditargetkan di Silatnas Bogor akan sia-sia. Bagaimana mungkin konsolidasi partai tercipta tanpa ada rekonsiliasi internal dari pihak-pihak yang terlibat. Sebagai partai yang relatif baru,Demokrat belum memiliki mekanisme penyelesaian konflik yang bisa jadi rujukan partai.
Pertentangan kubu-kubu di Demokrat yang meruncing adalah tantangan besar yang harus diselesaikan Anas dan SBY dalam waktu sesingkat mungkin jika energi partai tidak ingin dihabiskan hanya untuk urusan konflik. Demokrat saat ini sedang tersandera oleh problematika internal mereka sendiri.
Sementara di luar sana, partai-partai lain sedang kerja keras meraih simpati rakyat guna mencapai kemenangan dengan memanfaatkan kelengahan partai berkuasa. Saatnya bagi Demokrat untuk berbenah, memperbaiki citra di mata publik, terutama konstituennya.
Dua tahun bukanlah waktu yang terlalu lama untuk bersih-bersih diri dan berlatih sebelum menghadapi pertarungan sesungguhnya di 2014. Demokrat tidak bisa lagi hanya menunggu momentum emas itu datang lagi, mereka harus mengejar dan menciptakan momentum itu dengan sisa waktu yang teramat singkat.
Namun, seperti kita tahu, konsolidasi partai lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Konflik internal partai adalah bagian dari dinamika politik yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Pertarungan kepentingan, faksi, kelompok-kelompok akan selalu membayangi upaya konsolidasi Demokrat.
Sosok Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dianggap sebagai figur pemersatu partai pun mulai diragukan keandalannya. Apalagi kabar kurang harmonisnya hubungan SBY dengan Ketua Umum Anas Urbaningrum yang beberapa waktu terakhir mencuat ke permukaan. Ditambah langkah DPP Demokrat memecat kadernya Ruhut Sitompul dari pengurus teras DPP.
Faktor ini menjadi tantangan serius SBY-Anas untuk bersama-sama membangkitkan kembali kejayaan Demokrat. SBY berjanji akan turun langsung untuk memenangkan Demokrat pada Pemilu 2014 di tengah popularitas partai yang terus menurun. SBY pasang target minimal Demokrat harus menjadi tiga besar pada pemilu nanti. Tentu saja ini bukan tugas mudah bagi Demokrat meskipun mereka saat ini sebagai partai yang sedang berkuasa.
Tantangan ke depan yang harus dihadapi Demokrat lebih besar daripada peluang yang bisa diraihnya. Akan sulit bagi Demokrat untuk bisa mendapatkan kembali momentum emas pada Pemilu 2004 dan 2009 yang membuktikan masa keemasan partai setelah memperoleh dukungan rakyat dengan suara meyakinkan pada pemilu legislatif dan pemilihan presiden.
Kerja keras pimpinan partai dan kader Demokrat adalah keharusan yang tidak boleh ditawar-tawar.Tapi itu saja tidak cukup. Kerja keras yang tidak diimbangi kesatuan visi misi internal elite Demokrat sendiri akan sulit mengulang kembali kejayaan partai. Pengurus harian dalam hal ini DPP yang dikomandani Anas Urbaningrum harus satu hati dengan Dewan Pembina yang dikontrol langsung SBY.
Jika kedua lembaga ini masih terlibat dalam rivalitas internal, baik yang terbuka maupun setengah terbuka, saling kunci, saling melemahkan, apa yang ditargetkan di Silatnas Bogor akan sia-sia. Bagaimana mungkin konsolidasi partai tercipta tanpa ada rekonsiliasi internal dari pihak-pihak yang terlibat. Sebagai partai yang relatif baru,Demokrat belum memiliki mekanisme penyelesaian konflik yang bisa jadi rujukan partai.
Pertentangan kubu-kubu di Demokrat yang meruncing adalah tantangan besar yang harus diselesaikan Anas dan SBY dalam waktu sesingkat mungkin jika energi partai tidak ingin dihabiskan hanya untuk urusan konflik. Demokrat saat ini sedang tersandera oleh problematika internal mereka sendiri.
Sementara di luar sana, partai-partai lain sedang kerja keras meraih simpati rakyat guna mencapai kemenangan dengan memanfaatkan kelengahan partai berkuasa. Saatnya bagi Demokrat untuk berbenah, memperbaiki citra di mata publik, terutama konstituennya.
Dua tahun bukanlah waktu yang terlalu lama untuk bersih-bersih diri dan berlatih sebelum menghadapi pertarungan sesungguhnya di 2014. Demokrat tidak bisa lagi hanya menunggu momentum emas itu datang lagi, mereka harus mengejar dan menciptakan momentum itu dengan sisa waktu yang teramat singkat.
(rsa)