Riuh BUMN-DPR
Rabu, 07 November 2012 - 08:39 WIB
Riuh BUMN-DPR
A
A
A
Sindonews.com - Selain kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah,bangsa ini juga diriuhkan dengan “perang” BUMN dengan DPR. Menteri BUMN Dahlan Iskan menuding beberapa oknum anggota DPR memeras BUMN.
Tudingan ini membuat hubungan BUMN serta Dahlan dengan DPR memanas. Saling beradu argumen untuk mempertahankan kebenarannya terus menambah keriuhan tersebut. Dahlan mengaku mengantongi 10 nama oknum anggota DPR yang memeras, DPR pun menantang untuk membeberkan nama-nama tersebut. Terjadilah saur manuk (istilah bahasa Jawa yang saling bersahutan dalam memberikan komentar) antara Dahlan, beberapa pimpinan BUMN, dan beberapa anggota DPR. Harus diakui, citra DPR di mata masyarakat memang kurang bagus.
Banyak masyarakat yang menganggap para anggota DPR lebih banyak melakukan tindakan yang berseberangan dengan semangat reformasi. Namun, tidak semua anggota DPR melakukan hal itu,banyak juga anggota DPR yang bisa dipercaya menjadi perpanjangan suara rakyat. Namun, harus diakui, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap DPR masih rendah. Kondisi ini berbeda dengan pandangan masyarakat tentang Dahlan. Sosok yang satu ini mempunyai citra yang lebih bagus karena membawa gaya baru dalam memimpin.
Sejak menjabat menteri BUMN,Dahlan dikenal sebagai sosok pemimpin yang mau turun langsung ke lapangan, dekat dengan masyarakat, pekerja keras, jauh dari formalitas,outcome oriented,mencari persoalan ke intinya,dan mampu memberikan jalan keluar cepat. Masyarakat memang merindukan pemimpin yang memahami persoalan mereka dengan cara turun langsung melihat persoalan di lapangan dan bisa melakukan komunikasi langsung. Karena gayanya itu,citra Dahlan memang disukai masyarakat. Jadi tak salah jika akhirnya banyak masyarakat yang berada di belakang Dahlan ketika dia “menyerang” DPR.
Sedangkan DPR mendapat sebaliknya karena memang kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif negara ini masih rendah. Ada upaya mendukung dan tidak mendukung inilah yang akhirnya melahirkan keriuhan.Tak hanya di kalangan masyarakat, beberapa pejabat negara maupun petinggi parpol (meski mereka bagian masyarakat) juga ikut terseret dengan keriuhan tersebut. Sebenarnya bukan keriuhan itu yang diharapkan masyarakat. Isu-isu tentang ulah oknum-oknum anggota DPR, termasuk yang diungkapkan Dahlan, bukanlah hal yang baru.
Semua masyarakat mendengar itu sudah lama. Namun, yang didengar akhirnya hanyalah keriuhan itu, sedangkan ujung dari keriuhan yang merupakan tujuan utama justru tidak ada. Ini tidak terlepas dari pembelaan dari yang dituduh dan kurangnya kekuatan untuk membuktikan kebenaran isu utama. Selain itu, kepentingankepentingan yang ada dari yang menyerang dan diserang juga bisa menyebabkan tujuan dari keriuhan itu menjadi tidak ada. Kita tentu selalu mendukung upaya banyak pihak yang terus melakukan perang terhadap berbagai macam jenis korupsi atau penggunaan kesewenangan pejabat.
Namun, tidak sebatas keriuhan lantas kembali senyap karena kurangnya kekuatan untuk membuktikan, pembelaan sang tertuding yang kuat, serta kepentingan-kepentingan lainnya yang ikut bermain.Masyarakat membutuhkan hasil yang konkret. Jika memang ada yang memeras, langsung diberikan sanksi. Jika memang melanggar hukum pidana, ya harus dibawa ke ranah hukum.Jika melanggar secara kode etik atau kesalahan keorganisasian/kelembagaan, ya harus diberi sanksi administrasi.
Intinya masyarakat tidak hanya membutuhkan keriuhan BUMN dan DPR.Masyarakat tidak ingin jika ternyata keriuhan ini mempunyai maksud-maksud di baliknya. Masyarakat membutuhkan solusi yang konkret.Selanjutnya, kita patut terus mengawasi apakah keriuhan ini akan menghasilkan buah atau hanya menghasilkan kesenyapan? Kita tunggu.
Tudingan ini membuat hubungan BUMN serta Dahlan dengan DPR memanas. Saling beradu argumen untuk mempertahankan kebenarannya terus menambah keriuhan tersebut. Dahlan mengaku mengantongi 10 nama oknum anggota DPR yang memeras, DPR pun menantang untuk membeberkan nama-nama tersebut. Terjadilah saur manuk (istilah bahasa Jawa yang saling bersahutan dalam memberikan komentar) antara Dahlan, beberapa pimpinan BUMN, dan beberapa anggota DPR. Harus diakui, citra DPR di mata masyarakat memang kurang bagus.
Banyak masyarakat yang menganggap para anggota DPR lebih banyak melakukan tindakan yang berseberangan dengan semangat reformasi. Namun, tidak semua anggota DPR melakukan hal itu,banyak juga anggota DPR yang bisa dipercaya menjadi perpanjangan suara rakyat. Namun, harus diakui, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap DPR masih rendah. Kondisi ini berbeda dengan pandangan masyarakat tentang Dahlan. Sosok yang satu ini mempunyai citra yang lebih bagus karena membawa gaya baru dalam memimpin.
Sejak menjabat menteri BUMN,Dahlan dikenal sebagai sosok pemimpin yang mau turun langsung ke lapangan, dekat dengan masyarakat, pekerja keras, jauh dari formalitas,outcome oriented,mencari persoalan ke intinya,dan mampu memberikan jalan keluar cepat. Masyarakat memang merindukan pemimpin yang memahami persoalan mereka dengan cara turun langsung melihat persoalan di lapangan dan bisa melakukan komunikasi langsung. Karena gayanya itu,citra Dahlan memang disukai masyarakat. Jadi tak salah jika akhirnya banyak masyarakat yang berada di belakang Dahlan ketika dia “menyerang” DPR.
Sedangkan DPR mendapat sebaliknya karena memang kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif negara ini masih rendah. Ada upaya mendukung dan tidak mendukung inilah yang akhirnya melahirkan keriuhan.Tak hanya di kalangan masyarakat, beberapa pejabat negara maupun petinggi parpol (meski mereka bagian masyarakat) juga ikut terseret dengan keriuhan tersebut. Sebenarnya bukan keriuhan itu yang diharapkan masyarakat. Isu-isu tentang ulah oknum-oknum anggota DPR, termasuk yang diungkapkan Dahlan, bukanlah hal yang baru.
Semua masyarakat mendengar itu sudah lama. Namun, yang didengar akhirnya hanyalah keriuhan itu, sedangkan ujung dari keriuhan yang merupakan tujuan utama justru tidak ada. Ini tidak terlepas dari pembelaan dari yang dituduh dan kurangnya kekuatan untuk membuktikan kebenaran isu utama. Selain itu, kepentingankepentingan yang ada dari yang menyerang dan diserang juga bisa menyebabkan tujuan dari keriuhan itu menjadi tidak ada. Kita tentu selalu mendukung upaya banyak pihak yang terus melakukan perang terhadap berbagai macam jenis korupsi atau penggunaan kesewenangan pejabat.
Namun, tidak sebatas keriuhan lantas kembali senyap karena kurangnya kekuatan untuk membuktikan, pembelaan sang tertuding yang kuat, serta kepentingan-kepentingan lainnya yang ikut bermain.Masyarakat membutuhkan hasil yang konkret. Jika memang ada yang memeras, langsung diberikan sanksi. Jika memang melanggar hukum pidana, ya harus dibawa ke ranah hukum.Jika melanggar secara kode etik atau kesalahan keorganisasian/kelembagaan, ya harus diberi sanksi administrasi.
Intinya masyarakat tidak hanya membutuhkan keriuhan BUMN dan DPR.Masyarakat tidak ingin jika ternyata keriuhan ini mempunyai maksud-maksud di baliknya. Masyarakat membutuhkan solusi yang konkret.Selanjutnya, kita patut terus mengawasi apakah keriuhan ini akan menghasilkan buah atau hanya menghasilkan kesenyapan? Kita tunggu.
(azh)