Sang pemimpin
Jum'at, 02 November 2012 - 08:46 WIB
Sang pemimpin
A
A
A
Sindonews.com - “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way". Bisa dibayangkan, jika sang pemimpin di Indonesia atau negara mana pun di dunia mampu menerapkan substansi yang dimaksud dalam pernyataan tersebut, negara yang dipimpinnya akan serasi dan harmonis.
Semua komponen bangsa di dalamnya,mulai politisi,menteri, hingga rakyat jelata akan berjalan beriringan dan saling mendukung untuk mengikuti dan mendorong “leader’s way” yang diyakini secara rasional adalah yang terbaik dan mampu membawa negara ke arah yang lebih baik. Persatuan dan kesatuan yang terbentuk tentu menjadi energi yang dahsyat untuk mewujudkan apa pun jalan untuk mencapai asa yang dimaksud. Namun, di Tanah Air, wujud filosofi kepemimpinan John C Maxwell, seorang motivator Paman Sam, baru sebatas harapan. Negeri ini seolah kehilangan arah.
Masing-masing komponen bangsa jalan sendiri-sendiri, tanpa ada pemimpin mengomandoi dan mampu mengatur irama. Bahkan, mereka saling bertabrakan satu sama karena melewati jalan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Celakanya, kepentingan itu jauh dari relevansinya dari kepentingan bangsa, seperti sekadar untuk pencitraan, mempertahankan diri, hingga demi mengejar harta dan kekuasaan.
Lihatlah kondisi di level elite yang tengah mengharu biru pemberitaan media: saling sodok di internal Mahkamah Agung, KPK bertarung dengan polisi, Menteri BUMN Dahlan Iskan saling sikut dengan DPR, Sekretaris Kabinet Dipo Alam adu mulut dengan parpol, dan sebagainya...dan sebagainya. Sementara di akar rumput lebih memprihatinkan. Mereka saling bunuh hanya gara-gara perkara sepele, seperti di Lampung Selatan pekan ini. Selain itu, kasus lain seperti buruh bentrok dengan pengusaha, aparat kepolisian baku pukul dengan masyarakat, masyarakat seagama atau beda agama saling serang, dan sebagainya.
Siapa yang tidak kelu menyaksikan sajian berita seperti itu yang silih berganti tanpa henti. Siapa yang tidak pilu melihat para elite dan pemimpin di atas saling tikam secara politik, sedangkan di masyarakat di bawah saling tikam secara fisik. Lantas, sampai kapan ini terus terjadi? Sekilas kondisi ingar-bingar yang mewarnai negeri ini tampak seperti wujud nyata demokrasi. Tetapi sejatinya, yang terjadi adalah residu demokrasi karena demokrasi itu sendiri mensyaratkan adanya etika, mekanisme, dan aturan main yang disepakati, bukan anarki dan semaunya sendiri.
Karena itu, hal tersebut harus ditertibkan dan ditata kembali, sebelum menjadi eskalasi yang kian tak terkendali dan sulit di atasi. Siapa berkewajiban mengambil inisiatif tersebut, siapa lagi kalau bukan pemimpin bangsa ini. Seperti petuah John C Maxwell tersebut, pemimpin negeri ini haruslah mampu mengetahui jalan yang terbaik untuk bangsanya, melewatinya, dan kemudian mengajak masyarakat dan seluruh komponen di dalamnya bersama-sama menapakinya menuju masa depan.
Di atas kertas, bangsa ini tengah dalam momentum emas yang boleh dibilang hanya dimiliki segelintir negara di dunia. Namun, harapan yang tinggal sejengkal lagi untuk mengulang fase kejayaan Sriwijaya dan Majapahit bisa meleset dan malah berantakan jika pemimpinnya tidak tahu, atau tidak mau, atau tidak mampu mengharmonisasi dan menyinergikan semua potensi energi bangsanya. Semoga pemimpin Indonesia menyadari kekeluan dan kepiluan ini!
Semua komponen bangsa di dalamnya,mulai politisi,menteri, hingga rakyat jelata akan berjalan beriringan dan saling mendukung untuk mengikuti dan mendorong “leader’s way” yang diyakini secara rasional adalah yang terbaik dan mampu membawa negara ke arah yang lebih baik. Persatuan dan kesatuan yang terbentuk tentu menjadi energi yang dahsyat untuk mewujudkan apa pun jalan untuk mencapai asa yang dimaksud. Namun, di Tanah Air, wujud filosofi kepemimpinan John C Maxwell, seorang motivator Paman Sam, baru sebatas harapan. Negeri ini seolah kehilangan arah.
Masing-masing komponen bangsa jalan sendiri-sendiri, tanpa ada pemimpin mengomandoi dan mampu mengatur irama. Bahkan, mereka saling bertabrakan satu sama karena melewati jalan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Celakanya, kepentingan itu jauh dari relevansinya dari kepentingan bangsa, seperti sekadar untuk pencitraan, mempertahankan diri, hingga demi mengejar harta dan kekuasaan.
Lihatlah kondisi di level elite yang tengah mengharu biru pemberitaan media: saling sodok di internal Mahkamah Agung, KPK bertarung dengan polisi, Menteri BUMN Dahlan Iskan saling sikut dengan DPR, Sekretaris Kabinet Dipo Alam adu mulut dengan parpol, dan sebagainya...dan sebagainya. Sementara di akar rumput lebih memprihatinkan. Mereka saling bunuh hanya gara-gara perkara sepele, seperti di Lampung Selatan pekan ini. Selain itu, kasus lain seperti buruh bentrok dengan pengusaha, aparat kepolisian baku pukul dengan masyarakat, masyarakat seagama atau beda agama saling serang, dan sebagainya.
Siapa yang tidak kelu menyaksikan sajian berita seperti itu yang silih berganti tanpa henti. Siapa yang tidak pilu melihat para elite dan pemimpin di atas saling tikam secara politik, sedangkan di masyarakat di bawah saling tikam secara fisik. Lantas, sampai kapan ini terus terjadi? Sekilas kondisi ingar-bingar yang mewarnai negeri ini tampak seperti wujud nyata demokrasi. Tetapi sejatinya, yang terjadi adalah residu demokrasi karena demokrasi itu sendiri mensyaratkan adanya etika, mekanisme, dan aturan main yang disepakati, bukan anarki dan semaunya sendiri.
Karena itu, hal tersebut harus ditertibkan dan ditata kembali, sebelum menjadi eskalasi yang kian tak terkendali dan sulit di atasi. Siapa berkewajiban mengambil inisiatif tersebut, siapa lagi kalau bukan pemimpin bangsa ini. Seperti petuah John C Maxwell tersebut, pemimpin negeri ini haruslah mampu mengetahui jalan yang terbaik untuk bangsanya, melewatinya, dan kemudian mengajak masyarakat dan seluruh komponen di dalamnya bersama-sama menapakinya menuju masa depan.
Di atas kertas, bangsa ini tengah dalam momentum emas yang boleh dibilang hanya dimiliki segelintir negara di dunia. Namun, harapan yang tinggal sejengkal lagi untuk mengulang fase kejayaan Sriwijaya dan Majapahit bisa meleset dan malah berantakan jika pemimpinnya tidak tahu, atau tidak mau, atau tidak mampu mengharmonisasi dan menyinergikan semua potensi energi bangsanya. Semoga pemimpin Indonesia menyadari kekeluan dan kepiluan ini!
(azh)