Tatkala orang berebut kekuasaan

Senin, 15 Oktober 2012 - 12:25 WIB
Tatkala orang berebut...
Tatkala orang berebut kekuasaan
A A A
Pemilu 2014 untuk presiden dan anggota legislatif masih lama. Namun, persiapan untuk meraih kekuasaan eksekutif dan legislatif telah dimulai. Beberapa kandidat presiden dan calon anggota legislatif mulai rajin melakukan survei untuk mengetahui popularitas dan elektabilitasnya.

Tidak hanya itu, mereka pun semakin intensif menyapa calon pemilih dengan cara turun langsung atau melalui media massa. Ada juga yang memasang baliho di beberapa tempat strategis. Meski sangat mengganggu pemandangan kota dan bahkan menyakiti pepohonan, mereka seakan tak mau peduli. Dalam situasi ini, jurus tebar pesona sebagai bagian dari investasi politik untuk pemilu mendatang semakin marak.

Bahkan, saat ini beberapa calon juga telah membentuk tim sukses mulai tingkat pusat hingga basis massa. Tentu bukan hanya tim sukses yang disiapkan. Semua kebutuhan mulai finansial hingga logistik lainnya telah diperhitungkan dengan matang. Seperti dimaklumi, bahwa dalam setiap pemilu persoalan “gizi”menjadi wajib disiapkan calon jika ingin sukses.

Dan, persiapan untuk pemenangan pemilu ini ternyata bukan hanya dilakukan elite politik tingkat pusat, melainkan juga mereka yang ada di provinsi, kabupaten, dan kota. Pertanyaannya, mengapa dalam proses meraih kekuasaan eksekutif dan legislatif mereka harus bersusah payah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita berkaca pada kisah pengusiran Nabi Adam dan Hawa dari surga.

Mengapa Adam dan Hawa terusir dari surga yang penuh kenikmatan? Jawabnya adalah karena keduanya tergoda oleh bujuk rayu setan. Seperti diketahui, sejak lama setan memiliki sifat iri dengki pada Adam. Maka setan pun berusaha mencari jalan untuk menggelincirkan Adam. Setan lantas menemukan cara dengan merayu agar Adam dan Hawa mau makan buah dari syajarah al-khuldi (pohon keabadian).

Menurut bisikan jahat setan, jika Adam dan Hawa mau makan buah khuldi maka keduanya akan merasakan kenikmatan surga dalam waktu yang sangat lama dan memperoleh kekuasaan yang tidak pernah binasa. Singkat kisah, Adam dan Hawa akhirnya tergoda bujuk rayu setan. Keduanya pun memakan buah khuldi. Akibatnya dari perbuatan ini keduanya harus menerima kenyataan terusir dari surga (QS.Thaha: 120-121).

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari kisah pengusiran Adam dan Hawa? Paling tidak ada dua pelajaran penting yang dapat diambil. Pertama, ternyata manusia sangat mudah tergoda kekuasaan yang dipersepsikan akan dapat membawa pada kenikmatan hidup di dunia. Orang yang memiliki syahwat politik tinggi akan selalu berpikir untuk dapat menikmati kekuasaan di dunia ini dalam waktu yang sangat lama.

Kedua, bahwa keinginan orang untuk mempertahankan kekuasaan itu dikarenakan tidak rela jika kekuasaan yang telah diraih dengan susah payah harus berpindah tangan pada orang lain. Karena itu, kekuasaan yang telah diraih harus dipertahankan selama mungkin. Misalnya kekuasaan harus berpindah tangan maka diusahakan agar kekuasaan itu jatuh orangorang terdekatnya,seperti istri, anak, menantu, kerabat, dan teman.

Fenomena inilah yang terjadi dalam banyak kasus pemilihan kepala daerah. Indikatornya, banyak kepala daerah yang tidak boleh maju lagi karena sudah berkuasa dua periode kemudian mencalonkan orang-orang terdekatnya.

Selain bertujuan agar kekuasaan tidak berpindah tangan, strategi mencalonkan orang-orang terdekat dalam pemilu adalah untuk menjamin dirinya selamat dari persoalan hukum setelah tidak lagi berkuasa.

Itu dapat dimaklumi karena ada sekian banyak mantan pejabat publik yang harus berurusan dengan hukum hingga harus rela meringkuk di tahanan setelah purnatugas. Dengan demikian dapat dipahami penyebab orang saling berebut kekuasaan.

Bahkan terkadang dalam persaingan memperebutkan kekuasaan itu, seseorang harus melakukan segala cara termasuk kampanye hitam (black campaign) pada kompetitornya.

Jelas tidak ada larangan bagi seseorang untuk memperebutkan kekuasaan, apalagi jika dalam perebutan kekuasaan itu dilakukan secara fair dengan persaingan yang sehat dan bermartabat. Pasalnya, pilihan berjuang melalui jalur politik dan kekuasaan itu merupakan hak setiap warga negara. Apalagi, jika tujuan yang ingin dicapai adalah memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

Yang terpenting, jika kekuasaan telah berhasil diraih maka yang harus dilakukan adalah mendekatkan diri pada Tuhan.Hal ini penting karena seseorang yang berhasil meraih kekuasaan berarti sedang berada dalam puncak karier politik. Dalam kondisi sedang berada di puncak ini,seseorang harus membangun kedekatan pada Tuhan agar tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu kekuasaan.

Peringatan ini layak dikemukakan pada setiap calon presiden, wakil presiden, gubernur,wakil gubernur, bupati, wakil bupati, wali kota, wakil wali kota, dan calon anggota legislatif yang sedang melakukan persiapan untuk running dalam pemilu agar berhati-hati dengan bujuk rayu kekuasaan. Dalam bahasa Alquran dikatakan bahwa kekuasaan itu mutlak milik Tuhan.

Dia akan memberikan kekuasaan pada orang yang dikehendaki dan juga mencabut kekuasaan dari orang yang dikehendaki. Dia akan memuliakan orang yang dikehendaki dan juga menghinakan orang yang dikehendaki (QS.Ali Imran: 26).

Perspektif ilahi tersebut penting dikedepankan agar orang berhati-hati dalam mengemban amanah berupa kekuasaan. Apalagi Jimly Asshiddiqie, mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK), mensinyalir bahwa dalam semua jabatan publik yang dikompetisikan secara terbuka selalu digunakan orang sebagai ajang mencari pekerjaan. Pernyataan ini memang dikemukakan untuk merespons keterlibatan beberapa pejabat publik yang bersifat ad hoc dalam kasus korupsi dan suap.

Meski demikian, rasanya substansi pernyataan ini layak dijadikan peringatan bagi mereka yang sedang berjuang untuk meraih kekuasaan. Akhirnya penting dipesankan pada mereka yang sedang antre di bawah pohon khuldi, agar dalam berkompetisi meraih kekuasaan mampu memberikan teladan pada rakyat. Pasalnya, kekuasaan yang diraih dengan cara terhormat pasti akan melahirkan pemimpin dan pejabat publik yang dicintai rakyat.


BIYANTO

Dosen IAIN Sunan Ampel dan
Ketua Majelis Dikdasmen PWM Jatim
(kur)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Komisi IX DPR Cecar...
Komisi IX DPR Cecar BGN usai Pamer Dapat WTP dari BPK: Jangan-jangan Dibikin-bikin
ICW Soroti Mutasi ASN...
ICW Soroti Mutasi ASN Kementerian PU, Diduga Hanya Jadi Alat Balas Dendam
Febrie Adriansyah Dicecar...
Febrie Adriansyah Dicecar 18 Pertanyaan, Hotman: Sebatas Kasus PT Asabri
Prabowo: Anggaran Pertahanan...
Prabowo: Anggaran Pertahanan dan Polri jika Perlu Dikurangi untuk Hapus Kemiskinan
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Usai Diperiksa Kejagung...
Usai Diperiksa Kejagung sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan
Infografis
Menkes: Orang Gaji Rp15...
Menkes: Orang Gaji Rp15 Juta Pasti Lebih Sehat dan Pintar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved