Sering tampil, politikus banci tampil
Sabtu, 06 Oktober 2012 - 18:29 WIB
Sering tampil, politikus banci tampil
A
A
A
Sindonews.com - Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiharto menilai, politikus yang sering tampil di dan memberikan komentar di media massa tentang sejumlah persoalan yang bukan domainnya, merupakan banci tampil.
Karakter politikus macam ini, sambung Bima, sangat rawan dengan perilaku korup. "Saya sepakat Parpol harus dibenahi. Politisi itu harus tahu kapan harus tampil, kalau sering tampil, lebay, kalau enggak banci tampil," ujar Bima di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (6/10/2012).
Lebih lanjut, Bima melihat, fenomena banyaknya politikus yang terjebak kasus korupsi karena faktor kurang selektifnya partai dalam melakukan pengkaderan. Hal ini mengakibatkan krisisnya kepemimpinan dalam partai tersebut.
"Parpol harus lebih seleksi dalam merekrut anggotanya, tidak asal comot orang populer tanpa diketahui dan diuji intergritasnya," terangnya.
Senada diungkapkan pengamat politik Arbi Sanit. Menurutnya pola pengkaderan yang asal comot dan mementingkan gaya pencitraan hanya akan membuat suatu partai bobrok, dan kadernya rawan korupsi.
"Kompetisi politiknya tidak fair dan tidak jujur. Semuanya mengandalkan politik pencitraan sebagai pengibulan massal terhadap politik," tukasnya.
Karakter politikus macam ini, sambung Bima, sangat rawan dengan perilaku korup. "Saya sepakat Parpol harus dibenahi. Politisi itu harus tahu kapan harus tampil, kalau sering tampil, lebay, kalau enggak banci tampil," ujar Bima di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (6/10/2012).
Lebih lanjut, Bima melihat, fenomena banyaknya politikus yang terjebak kasus korupsi karena faktor kurang selektifnya partai dalam melakukan pengkaderan. Hal ini mengakibatkan krisisnya kepemimpinan dalam partai tersebut.
"Parpol harus lebih seleksi dalam merekrut anggotanya, tidak asal comot orang populer tanpa diketahui dan diuji intergritasnya," terangnya.
Senada diungkapkan pengamat politik Arbi Sanit. Menurutnya pola pengkaderan yang asal comot dan mementingkan gaya pencitraan hanya akan membuat suatu partai bobrok, dan kadernya rawan korupsi.
"Kompetisi politiknya tidak fair dan tidak jujur. Semuanya mengandalkan politik pencitraan sebagai pengibulan massal terhadap politik," tukasnya.
(san)