Presiden harus di depan berantas korupsi
Sabtu, 06 Oktober 2012 - 17:27 WIB
Presiden harus di depan berantas korupsi
A
A
A
Sindonews.com - Kendati Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam menyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak harus turun tangan dalam menangani polemik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri. Masyarakat tetap berkata lain, mereka ingin melihat kepala negaranya bersikap tegas.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiharto mengatakan, rakyat menunggu Presiden tampil untuk memberikan solusi. Bukan hanya diam dan duduk berpangku tangan.
"Dukungan rakyat sebegitu luar biasanya, menurut saya Presiden tidak boleh hanya berwacana. Rakyat ingin Pak SBY tampil memimpin pemberantasan korupsi seperti yang dia katakan sejak awal," ujar Bima di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (6/10/2012).
Dia juga mempertanyakan sikap Polri yang tiba-tiba melakukan penangkapan terhadap penyidik KPK Kompol Novel Baswedan, karena diduga terlibat langsung aksi penembakan sejumlah pencuri burung walet di Bengkulu pada tahun 2004.
"Bagaimana mungkin kasus yang tahun 2004 diangkat lagi, ini agak aneh. Rezim-rezim yang tidak khusnul qotimah diawali dengan hal-hal yang itu tadi. Logika itu dibohongi, kita mendorong Presiden jadi panglima tertinggi dapat keluar (sarang)," jelas Bima.
Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah anggota polisi berseragam bebas mendatangi gedung KPK, pada Jumat malam 5 Oktober 2012. Diduga kedatangan para polisi itu untuk menangkap lima orang penyidik Mabes Polri yang belum melapor dan habis masa tugasnya di KPK.
Namun kabar itu dibantah. Polisi beralasan, ingin melakukan koordinasi akan melakukan penangkapan terhadap seorang penyidik KPK, dengan tuduhan melakukan penembakan terhadap pencuri sarang burung walet pada 2004. Kontan, aksi polisi yang mengejutkan ini menuai reaksi keras masyarakat.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiharto mengatakan, rakyat menunggu Presiden tampil untuk memberikan solusi. Bukan hanya diam dan duduk berpangku tangan.
"Dukungan rakyat sebegitu luar biasanya, menurut saya Presiden tidak boleh hanya berwacana. Rakyat ingin Pak SBY tampil memimpin pemberantasan korupsi seperti yang dia katakan sejak awal," ujar Bima di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (6/10/2012).
Dia juga mempertanyakan sikap Polri yang tiba-tiba melakukan penangkapan terhadap penyidik KPK Kompol Novel Baswedan, karena diduga terlibat langsung aksi penembakan sejumlah pencuri burung walet di Bengkulu pada tahun 2004.
"Bagaimana mungkin kasus yang tahun 2004 diangkat lagi, ini agak aneh. Rezim-rezim yang tidak khusnul qotimah diawali dengan hal-hal yang itu tadi. Logika itu dibohongi, kita mendorong Presiden jadi panglima tertinggi dapat keluar (sarang)," jelas Bima.
Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah anggota polisi berseragam bebas mendatangi gedung KPK, pada Jumat malam 5 Oktober 2012. Diduga kedatangan para polisi itu untuk menangkap lima orang penyidik Mabes Polri yang belum melapor dan habis masa tugasnya di KPK.
Namun kabar itu dibantah. Polisi beralasan, ingin melakukan koordinasi akan melakukan penangkapan terhadap seorang penyidik KPK, dengan tuduhan melakukan penembakan terhadap pencuri sarang burung walet pada 2004. Kontan, aksi polisi yang mengejutkan ini menuai reaksi keras masyarakat.
(san)