Mudik ke kampung rohani

Rabu, 22 Agustus 2012 - 11:52 WIB
Mudik ke kampung rohani
Mudik ke kampung rohani
A A A
Masyarakat Indonesia saat ini dihadapkan dengan mobilitas masif yang bernama mudik. Nyaris tidak satu pun media cetak dan elektronik yang melewatkan sajian liputan tentang tradisi bertandakan aktivitas masyarakat urban yang meninggalkan tempat kerja, usaha, rumah, atau kantornya menuju asal tempatnya dilahirkan dan dibesarkan.

Boleh dikata bahwa zaman memang boleh berubah, tetapi gairah memelihara tradisi pulang kampung menjelang Lebaran tetap kuat untuk dilakukan. Kalkulasi rasio sulit mencari jawaban tentang urgensi mobilitas massal ini, terutama jika dikaitkan dengan segala risiko yang dihadapi dalam perjalanan.

Segala halangan, rintangan, kepayahan perjalanan, maupun mahalnya ongkos yang harus dikeluarkan, bukanlah masalah yang membuat mereka enggan melakukan mudik. Padahal, tidak sedikit pula di antara mereka yang bertemu dengan sanak familinya dalam hitungan beberapa jam saja, jauh lebih singkat dibandingkan waktu yang dihabiskan dalam perjalanan.

Satu hal yang jelas bagi pemudik, derita perjalanan panjang seakan-akan langsung hilang seiring pertemuannya dengan teman, famili, dan handai tolan di kampung. Mereka seperti mencapai puncak kebahagiaan dalam hidupnya saat dirinya bercengkerama dengan nilai-nilai tradisionalitas yang ada di kampung halamannya dalam suasana guyub dan kebersamaan.

Para pemudik menyadari bahwa mereka mempunyai orang tua, teman, famili, dan lain-lainnya sebagai tempat untuk berkeluh dan bercerita,dan begitu juga sebaliknya.

Mudik menjadi siklus hidup yang menggambarkan kemampuan manusia untuk melintasi berbagai budaya, tanpa melupakan budayanya sendiri. Mereka yang hidup di daerah urban masih tetap mempunyai identitas etnisnya, walaupun dia telah hidup di daerah yang mempunyai sistem budaya berbeda tersebut selama bertahun- tahun.

Betapapun seseorang telah lama berpisah dari akar tradisionalnya, dia tetap tidak mampu menanggalkan berbagai hal yang berkaitan yang asal muasalnya. Hakikat mudik menjelaskan bahwa pemenuhan kebutuhan manusia harus mencakup dua dimensi sekaligus, yaitu spiritual dan material.

Kebutuhan materiil harus dipenuhi dengan tercukupinya libidonomik seseorang dalam hal sandang, pangan, dan papan, sementara kebutuhan spiritual harus dipenuhi dengan kebahagiaan saat berkumpul dengan keluarga besar, handai tolan, dan teman sepermainan di masa kecil, selain tentunya kerinduan ketuhanan.

Dalam perspektif parenialisme,siklus mudik menggambarkan tentang kerinduan manusia akan keberadaan asal-muasal penciptaan. Manusia menyadari bahwa dirinya memang berasal dari zat yang kekal (Tuhan), yang pastinya manusia juga akan kembali kepada-Nya.

Seiring dengan datangnya Lebaran sebagai puncak pengembalian kesucian diri, maka mudik merupakan cermin perjalanan manusia dalam memenuhi rindunya kepada sang Khalik. Mudik merupakan gambaran manusia yang merindukan spiritual di sela-sela kehidupan yang cenderung dibuai rayuan modernitas.

Setelah disibukkan dengan pekerjaan, mencari nafkah, peruntungan, serta berbagai kegiatan lain yang menunjukkan adanya upaya memenuhi libidonomik, mudik menjadi pembebasan terhadap belenggu struktur ekonomi, budaya, dan politik yang menghalanginya untuk menemukan keaslian diri sebagai manusia.

Kearifan yang terkandung dalam mudik seharusnya mampu menumbuhkan hubunganhubungan sosial yang lebih jernih. Makna kesucian dalam Idul Fitri bukanlah terletak dalam amalan yang terlihat secara zahir, tetapi seberapa jernih hati seseorang dalam memilah dan memilih antara yang benar dan salah dalam garis demarkasi yang jelas.

Aktualisasi manusia yang fitri tercermin dalam perilaku yang lebih memanusiakan orang lain, dengan meninggalkan berbagai tindakan culas dan merugikan orang lain.

Prosesi mudik adalah manifestasi dari perenungan dan penelusuran asal muasal diri yang dibarengi dengan kesadaran akan jati dirinya kemanusiaannya. Kampung halaman menyimpan berhampar makna simbolis bagi setiap orang yang hendak mencari dan menemukan kembali jejak-jejak awal sejarah dirinya.

Mudik tidak ubahnya laku ziarah atas ruang dan waktu, kembali pada roh masa lalu demi menemukan kesadaran tentang kesejatian diri manusia yang hakikatnya terbebas dari segala kejahatan dan kekotoran.

Spiritualitas mudik mengingatkan bahwa keluhuran manusia dapat tergapai dengan mewujudkan nilai-nilai transenden dalam kehidupan sehari- hari. Mudik ke kampung rohani merupakan perjalanan spiritual agar pemudik kembali menimba semangat religiositasnya di arena sosial yang dikepung aneka kesulitan.

Kebermaknaan manusia diukur dari seberapa dalam kemampuan dirinya melakukan olah rohani untuk berhubungan dengan Tuhannya secara vertikal, serta jalinan kasih yang harmonis dengan sesama manusia secara horizontal.

Yang harus mudik bukan semata bersifat jasad-biologis, tetapi juga memudikkan rohani ke asal sifatnya yang segar, jernih,dan manusiawi. Selama perjalanan menuju dan berdiam di kampung rohani ada-lah kesempatanuntukmerenung dan meneguhkan komitmen keilahian bagi kemanusiaan universal.

Sebuah momentum melakukan introspeksi terhadap pengalaman hidup yang telah dilaluinya, sembari menyemaikan ragam kearifan untuk bekal hidup periode setelahnya.

Makna mudik inilah yang sesungguhnya menjadi jalan pencerahan batin seseorang setelah menjalankan puasa satu bulan penuh.Tradisi mudik yang terkait dengan Idul Fitri adalah pulang ke kampung halaman rohani yang bersih dari berbagai cercaan.

Kesucian ini selain terpancarkan secara individual dalam peningkatan ketaatan dalam menjalankan ritual keagamaan, juga harus tercermin dalam pergaulan sehari-hari dalam kepribadian yang selalu mengekspresikan keteduhan, kedamaian, dan kejernihan. Allah a’lam bi al-shawab.

MUH KHOLID AS
Pemred Majalah MATAN Surabaya
(kur)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
KPK Sita Uang-Perhiasan...
KPK Sita Uang-Perhiasan usai Geledah Rumah Dinas Bupati dan Kantor Dinas Kabupaten Sukoharjo
TKBM Pelabuhan Ungkap...
TKBM Pelabuhan Ungkap Platform Digital Dermaga Atasi Masalah Bongkar Muat
Pemerintah Bakal Batasi...
Pemerintah Bakal Batasi Konten LGBT, Aturan Teknis Masih Disiapkan
Prabowo Kumpulkan Menteri...
Prabowo Kumpulkan Menteri hingga Kepala Lembaga ke Istana, Ada Apa?
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Wakaf, BWI Dorong Sertifikasi Nazir secara Masif
Program Mandatori B50...
Program Mandatori B50 Wujudkan Swasembada Energi
Infografis
Jadwal One Way, Contra...
Jadwal One Way, Contra Flow, dan Ganjil-Genap Mudik Lebaran 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved