Kembalikan kejayaan bulu tangkis
Sabtu, 04 Agustus 2012 - 13:13 WIB
Kembalikan kejayaan bulu tangkis
A
A
A
UNGKAPAN bahwa mempertahankan selalu lebih sulit daripada mendapatkan, ternyata ada benarnya. Paling tidak itu yang dialami tim bulu tangkis Indonesia dalam ajang pesta olahraga paling akbar sejagat Olimpiade London 2012.
Tradisi meraih medali emas dari cabang olahraga kebanggaan rakyat Indonesia, gagal dipertahankan oleh wakil-wakil Merah Putih di London. Taufik Hidayat, Simon Santoso, Adrianti Firdasari, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dan Mohammad Ahsan/Bona Septano tak mampu menandingi keperkasaan lawan-lawan mereka. Indonesia yang namanya pernah harum sebagai gudang para juara bulu tangkis tingkat dunia, tinggal kenangan.
Sudah bertahun-tahun Merah Putih tak meraih gelar dalam ajang internasional. Ini yang membuat kita sedih. Ada apa dengan bulu tangkis kita? Siapa yang paling bertanggung jawab atas keterpurukan ini? Bagaimana cara kita bisa bangkit mengembalikan kejayaan yang hilang itu? Bulu tangkis Indonesia memang sedang terpuruk.
Banyak masalah yang disinyalir menjadi penyebab keterpurukan itu. Bisa soal pembinaan, regenerasi, manajemen, hingga soal-soal strategis dan teknis lain yang memicu keterpurukan itu. Ibarat komputer yang sedang hang, semua harus diinstal ulang agar semua kembali segar. Publik memang kecewa karena putra-putri terbaik negara gagal mengharumkan nama bangsa.
Ini bukan murni kesalahan atlet, melainkan juga pelatih, PBSI, pemerintah, dan bisa jadi kita semua masyarakat Indonesia. Kenapa regenerasi tidak berjalan baik? Bagaimanapun, PBSI dan pemerintah punya kewajiban untuk mengurai persoalan, merumuskan solusi, dan mengeksekusinya sehingga ke depan kejayaan itu bisa kita rebut kembali.
Kita tahu swasta juga memiliki komitmen kuat dalam usaha pencarian bibit-bibit baru, pelatihan, dan penggemblengan kader-kader muda yang diharapkan bisa mengimbangi dominasi China, Korea Selatan, Jepang, dan sejumlah negara Eropa yang sudah mulai paham kelemahan tim Merah Putih. Mengalahkan Merah Putih sekarang bukanlah hal sulit.
Sebaliknya, ketika berhadapan dengan para pemain China, atlet kita seperti tidak berdaya membentur tembok raksasa. Dulu Malaysia belajar banyak dari kita, bahkan merekrut pelatih dari Indonesia untuk mencuri ilmunya. Namun, kita terlena dan menganggap hal itu biasa-biasa saja. Kini mereka telah meraih buah manis dari kerja keras itu dan Malaysia bisa mengimbangi bahkan melebihi kita. Tidak ada gunanya menyesali diri.
Kekalahan demi kekalahan harus segera direspons cepat agar bulu tangkis kita segar kembali. Jika perlu, dibentuk tim khusus yang terdiri atas para pihak yang kompeten dan profesional untuk mengemban misi mulia mengembalikan kejayaan bulu tangkis. Bulu tangkis tidak bisa lagi dianggap sebagai olahraga biasa, tapi kebanggaan nasional yang mengandung unsur promosi dan simbol kejayaan nasional di kancah internasional.
Jujur, apalagi prestasi olahraga yang bisa kita banggakan? Tanpa harus mengecilkan peran atlet angkat besi dan atlet lain yang memberikan prestasi membanggakan di Olimpiade, bulu tangkis adalah sumber emas yang wajib kita kembalikan pada porsinya. Kita tunggu apa yang akan dilakukan PBSI dan pemerintah.
Apakah mereka segera berbenah diri atau malah saling menutupi kesalahan. Prestasi dunia adalah proses panjang yang tidak bisa dibuat instan. Tapi perlu kerja keras, kesamaan visi-misi, mental juara yang tak bisa ditawar dan spirit mempertahankan kebanggaan nasional. Pertanyaannya, apakah kita masih memiliki itu semua? Mudah-mudahan optimisme masih belum hilang dari sanubari setiap anak bangsa.
Tradisi meraih medali emas dari cabang olahraga kebanggaan rakyat Indonesia, gagal dipertahankan oleh wakil-wakil Merah Putih di London. Taufik Hidayat, Simon Santoso, Adrianti Firdasari, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dan Mohammad Ahsan/Bona Septano tak mampu menandingi keperkasaan lawan-lawan mereka. Indonesia yang namanya pernah harum sebagai gudang para juara bulu tangkis tingkat dunia, tinggal kenangan.
Sudah bertahun-tahun Merah Putih tak meraih gelar dalam ajang internasional. Ini yang membuat kita sedih. Ada apa dengan bulu tangkis kita? Siapa yang paling bertanggung jawab atas keterpurukan ini? Bagaimana cara kita bisa bangkit mengembalikan kejayaan yang hilang itu? Bulu tangkis Indonesia memang sedang terpuruk.
Banyak masalah yang disinyalir menjadi penyebab keterpurukan itu. Bisa soal pembinaan, regenerasi, manajemen, hingga soal-soal strategis dan teknis lain yang memicu keterpurukan itu. Ibarat komputer yang sedang hang, semua harus diinstal ulang agar semua kembali segar. Publik memang kecewa karena putra-putri terbaik negara gagal mengharumkan nama bangsa.
Ini bukan murni kesalahan atlet, melainkan juga pelatih, PBSI, pemerintah, dan bisa jadi kita semua masyarakat Indonesia. Kenapa regenerasi tidak berjalan baik? Bagaimanapun, PBSI dan pemerintah punya kewajiban untuk mengurai persoalan, merumuskan solusi, dan mengeksekusinya sehingga ke depan kejayaan itu bisa kita rebut kembali.
Kita tahu swasta juga memiliki komitmen kuat dalam usaha pencarian bibit-bibit baru, pelatihan, dan penggemblengan kader-kader muda yang diharapkan bisa mengimbangi dominasi China, Korea Selatan, Jepang, dan sejumlah negara Eropa yang sudah mulai paham kelemahan tim Merah Putih. Mengalahkan Merah Putih sekarang bukanlah hal sulit.
Sebaliknya, ketika berhadapan dengan para pemain China, atlet kita seperti tidak berdaya membentur tembok raksasa. Dulu Malaysia belajar banyak dari kita, bahkan merekrut pelatih dari Indonesia untuk mencuri ilmunya. Namun, kita terlena dan menganggap hal itu biasa-biasa saja. Kini mereka telah meraih buah manis dari kerja keras itu dan Malaysia bisa mengimbangi bahkan melebihi kita. Tidak ada gunanya menyesali diri.
Kekalahan demi kekalahan harus segera direspons cepat agar bulu tangkis kita segar kembali. Jika perlu, dibentuk tim khusus yang terdiri atas para pihak yang kompeten dan profesional untuk mengemban misi mulia mengembalikan kejayaan bulu tangkis. Bulu tangkis tidak bisa lagi dianggap sebagai olahraga biasa, tapi kebanggaan nasional yang mengandung unsur promosi dan simbol kejayaan nasional di kancah internasional.
Jujur, apalagi prestasi olahraga yang bisa kita banggakan? Tanpa harus mengecilkan peran atlet angkat besi dan atlet lain yang memberikan prestasi membanggakan di Olimpiade, bulu tangkis adalah sumber emas yang wajib kita kembalikan pada porsinya. Kita tunggu apa yang akan dilakukan PBSI dan pemerintah.
Apakah mereka segera berbenah diri atau malah saling menutupi kesalahan. Prestasi dunia adalah proses panjang yang tidak bisa dibuat instan. Tapi perlu kerja keras, kesamaan visi-misi, mental juara yang tak bisa ditawar dan spirit mempertahankan kebanggaan nasional. Pertanyaannya, apakah kita masih memiliki itu semua? Mudah-mudahan optimisme masih belum hilang dari sanubari setiap anak bangsa.
(hyk)