Mimpi mobil listrik, Dis, dan putra petir
Jum'at, 27 Juli 2012 - 08:40 WIB
Mimpi mobil listrik, Dis, dan putra petir
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah tengah membangun asa menjadikan mobil listrik sebagai mobil nasional (mobnas). Untuk mengonkretkan ambisi tersebut, pemerintah mulai menyiapkan Pusat Pengembangan Teknologi dan Industri Otomotif (PPTI-O).
Di sinilah nantinya segala daya dan potensi bangsa yang berserakan di BUMN,perguruan tinggi hingga swasta akan disatupadukan. Selain itu, pemerintah mulai menggodok insentif dan disinsentif untuk mendorong terwujudnya mobil listrik. Saking optimistisnya akan program tersebut, pemerintah berani mematok mobil listrik sudah mulai diproduksi massal pada 2014 nanti dengan target produksinya 10.000 unit.
Sekilas, program tersebut bukan sekadar ambisius, tapi juga seperti mimpi di siang bolong. Bagaimana tidak, pada satu sisi Indonesia yang belum mampu melahirkan mobnas yang berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM) ternyata sudah mematok cita-cita untuk menggarap jenis mobil listrik yang notabene teknologinya mahal, pasar masih kecil, dan belum banyak negara yang memikirkannya.
Tapi, jika ditilik lebih mendalam, di balik tantangan tersebut,terbentang luas pula peluang yang bisa diambil pada masa mendatang. Selain mobil hibrida, mobil listrik adalah jawaban tepat terhadap kebutuhan akan efisiensi akibat semakin tipisnya cadangan bahan bakar fosil serta kebutuhan akan green energy. Lebih jauh, Indonesia berpeluang mengisi ceruk pangsa pasar yang belum digarap negara lain maupun pabrikan automotif dunia.
Apakah mimpi itu bisa menjadi kenyataan? Jawabannya tergantung pada sejauh mana pemerintah konsisten dan mau bekerja keras untuk mewujudkan harapan tersebut. Jangan sampai pembentukan lembaga baru dan dukungan insentif yang diberikan tidak benar-benar dimanfaatkan untuk mengembangkan mobil listrik. Pesimisme akan program tersebut sebagai hal wajar karena selama ini pemerintah sering
“hangat-hangat tahi ayam”, sering mengobral tekat tapi belakangan lenyap tanpa ada kabar beritanya lagi.
Untuk mobil misalnya, Indonesia pernah menggagas mobil murah (low cost), tapi ternyata tidak berlanjut karena suatu sebab. Begitu pun gagasan rusunami hilang begitu saja setelah implementasinya menemui berbagai hambatan di lapangan. Akankah hal tersebut kembali terjadi? Tentu kita semua berharap tidak.
Karena itu pemerintah hendaknya menancapkan program mobil listrik menjadi tonggak point no return, jadikan manuver Dahlan Iskan (sering menggunakan kode wartawan Dis) sebagai pendobrak kesadaran akan perlunya mobil masa depan. Indonesia juga harus yakin mampu mewujudkan program tersebut karena mempunyai banyak putra petir seperti pencipta mobil elektrik yang sekarang dibawa wira-wiri Dahlan Iskan, Dasep Ahmadi, atau perancang mobil listrik asal Yogyakarta yang karyanya disebut-sebut akan sekelas Ferrari, Danet Suryatama.
Selain modal komitmen dan keyakinan, yang perlu dilakukan pemerintah adalah bagaimana memanajemeni putra-putra petir yang berserakan di berbagai tempat dan memberinya stimulus agar mereka bisa menghasilkan state of the art mobil listrik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, syukur-syukur bisa mewarnai kompetisi automotif dunia. Sekali lagi itu masih mimpi.
Tapi bukan berarti mimpi tidak bisa menjadi kenyataan. Tidak ada yang menyangka Yolanda Gail Devers,atlet Amerika Serikat yang pernah didiagnosis menderita grave’s disease––sebuah penyakit kelainan kelenjar tiroid––dan beberapa penyakit serius lainnya mampu menjadi kampiun pada olimpiade dan kejuaraan dunia era 1992–2004.
Kata dia,kuncinya adalah,“Keep your dreams alive.Understand to achieve anything requires faith and belief in yourself, vision, hard work, determination, and dedication. Remember all things are possible for those who believe.”
Di sinilah nantinya segala daya dan potensi bangsa yang berserakan di BUMN,perguruan tinggi hingga swasta akan disatupadukan. Selain itu, pemerintah mulai menggodok insentif dan disinsentif untuk mendorong terwujudnya mobil listrik. Saking optimistisnya akan program tersebut, pemerintah berani mematok mobil listrik sudah mulai diproduksi massal pada 2014 nanti dengan target produksinya 10.000 unit.
Sekilas, program tersebut bukan sekadar ambisius, tapi juga seperti mimpi di siang bolong. Bagaimana tidak, pada satu sisi Indonesia yang belum mampu melahirkan mobnas yang berbasis Bahan Bakar Minyak (BBM) ternyata sudah mematok cita-cita untuk menggarap jenis mobil listrik yang notabene teknologinya mahal, pasar masih kecil, dan belum banyak negara yang memikirkannya.
Tapi, jika ditilik lebih mendalam, di balik tantangan tersebut,terbentang luas pula peluang yang bisa diambil pada masa mendatang. Selain mobil hibrida, mobil listrik adalah jawaban tepat terhadap kebutuhan akan efisiensi akibat semakin tipisnya cadangan bahan bakar fosil serta kebutuhan akan green energy. Lebih jauh, Indonesia berpeluang mengisi ceruk pangsa pasar yang belum digarap negara lain maupun pabrikan automotif dunia.
Apakah mimpi itu bisa menjadi kenyataan? Jawabannya tergantung pada sejauh mana pemerintah konsisten dan mau bekerja keras untuk mewujudkan harapan tersebut. Jangan sampai pembentukan lembaga baru dan dukungan insentif yang diberikan tidak benar-benar dimanfaatkan untuk mengembangkan mobil listrik. Pesimisme akan program tersebut sebagai hal wajar karena selama ini pemerintah sering
“hangat-hangat tahi ayam”, sering mengobral tekat tapi belakangan lenyap tanpa ada kabar beritanya lagi.
Untuk mobil misalnya, Indonesia pernah menggagas mobil murah (low cost), tapi ternyata tidak berlanjut karena suatu sebab. Begitu pun gagasan rusunami hilang begitu saja setelah implementasinya menemui berbagai hambatan di lapangan. Akankah hal tersebut kembali terjadi? Tentu kita semua berharap tidak.
Karena itu pemerintah hendaknya menancapkan program mobil listrik menjadi tonggak point no return, jadikan manuver Dahlan Iskan (sering menggunakan kode wartawan Dis) sebagai pendobrak kesadaran akan perlunya mobil masa depan. Indonesia juga harus yakin mampu mewujudkan program tersebut karena mempunyai banyak putra petir seperti pencipta mobil elektrik yang sekarang dibawa wira-wiri Dahlan Iskan, Dasep Ahmadi, atau perancang mobil listrik asal Yogyakarta yang karyanya disebut-sebut akan sekelas Ferrari, Danet Suryatama.
Selain modal komitmen dan keyakinan, yang perlu dilakukan pemerintah adalah bagaimana memanajemeni putra-putra petir yang berserakan di berbagai tempat dan memberinya stimulus agar mereka bisa menghasilkan state of the art mobil listrik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, syukur-syukur bisa mewarnai kompetisi automotif dunia. Sekali lagi itu masih mimpi.
Tapi bukan berarti mimpi tidak bisa menjadi kenyataan. Tidak ada yang menyangka Yolanda Gail Devers,atlet Amerika Serikat yang pernah didiagnosis menderita grave’s disease––sebuah penyakit kelainan kelenjar tiroid––dan beberapa penyakit serius lainnya mampu menjadi kampiun pada olimpiade dan kejuaraan dunia era 1992–2004.
Kata dia,kuncinya adalah,“Keep your dreams alive.Understand to achieve anything requires faith and belief in yourself, vision, hard work, determination, and dedication. Remember all things are possible for those who believe.”
(azh)