Kunjungi Museum Gajah, Hasto Kenang Pengabdian Megawati Saat Jadi Relawan

Sabtu, 23 November 2019 - 18:55 WIB
Kunjungi Museum Gajah,...
Kunjungi Museum Gajah, Hasto Kenang Pengabdian Megawati Saat Jadi Relawan
A A A
JAKARTA - Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto dan rombongan partai mengunjungi Museum Gajah di Menteng, Jakarta, Sabtu (23/11/2019). Kunjungan Hasto ke Museum yang bersejarah itu dilakukan sepulang dari konsolidasi sekaligus meresmikan Kantor DPC PDIP di Kabupaten Purwakarta.

Museum yang terletak bersebelahan dengan kantor Kementerian Pertahanan itu memiliki kenangan sendiri bagi PDIP. Sebab, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri pernah mengabdi di museum tersebut sebagai relawan.

Hasto mengawali kunjungannya itu dengan melihat sejumlah ornamen dan arca di lantai satu museum. Politikus asal Yogyakarta ini datang ke museum bersama awak media yang mengikuti sejak pagi dalam rangka peresmian Kantor DPC PDIP Purwakarta, mengunjungi Pengrajin Simping Home Industri dan santap siang di Rumah Makan Sate Maranggi Haji Yetty.

Tiba di museum, Hasto langsung disambut oleh pemandu Aep Saefullah. Hasto kemudian diajak berkeliling di lantai dasar yang mayoritas benda bersejarah berupa prasasti, arca dan patung.

Sejumlah objek sejarah dikenalkan kepada Hasto, di antaranya Prasasti Cane yang berisi tulisan prasejarah. Kemudian Prasasti Muara Kaman VI. Menurut Aep, prasasti ini membuktikan manusia Indonesia sejak awal abad kelima sudah memiliki seni tulis-menulis. "Ini aksara pallawa bahasa sanskerta. Ini diperkirakan dari Kerajaan Kutai," kata dia.

Selain itu, Hasto juga diajak melihat Arca Dewa-Dewi. Arca itu sendiri memperlihatkan sejoli yang mana sang pria menggandeng wanitanya. Keduanya mengenakan aksesoris kemewahan bak keturunan raja. Hasto sendiri yang melihat Arca itu menilai budaya Indonesia sudah tumbuh dengan detail dan mewah sejak lama.

Di lantai satu itu juga Hasto bersama rombongan diperlihatkan kerangka manusia purba. Aep menunjukkan tengkorak dan salah satu tulang paha yang ditemukan oleh ahli anatomi asal Belanda Eugene Dubois yang dinamakannya sebagai Pithecantropus Erectus di Desa Trinil, Solo pada sekitar 1891. "Penemuan itu membuat geger dunia," kata Aep.

Setelah itu, Hasto pun diajak ke lantai empat. Di tempat ini sejumlah perhiasan purbakala dan artefak yang memiliki detail yang tinggi disimpan. Di lantai ini pula semua pengunjung tidak boleh memotret, berbeda dengan lantai lainnya di museum itu.

Sejumlah artefak dari emas murni tampak menghiasi dinding dan meja utama di lantai empat museum itu. Bahkan ada juga emas berukuran kancing baju yang dianggap sebagai alat transaksi pada masa purbakala. Selain itu, ada juga arca dewi yang bentuknya sangat detail.

Misalnya Mangkuk Ramayana yang diperkirakan dibuat oleh Kerajaan Mataram Kuno sekitar awal abad kesepuluh. Mangkuk yang terbuat dari emas murni itu ditemukan di Desa Wonoboyo, Klaten pada 1990. Menurut Aep, pembuatan mangkuk ini menggunakan teknik yang sangat sulit dan sangat detail. Tanpak mangkuk itu berlekuk enam, berhiaskan relief Ramayana.

"Pembuatannya sangat halus dan indah sehingga mangkuk ini merupakan benda paling indah. Relief ini dibuat dengan teknik solder dan teknik tempa mengambil sistem tempa dari sisi dalam," kata Aep.

Menutup kunjungannya, Hasto mengaku sengaja datang ke Museum Gajah sebagai pengingat keberadaan Indonesia bisa sampai saat ini. Selain itu, yang utama yaitu merefleksi perjalanan Megawati Soekarnoputri yang pernah menjadi sukarelawan di museum ini. Megawati di museum ini pernah menjaga benda-benda bersejarah itu sampai mengepel museum.

"Ketika Ibu Megawati menjadi relawan di museum ini, khusus merawat keramik dan ibu bercerita bahwa inilah akar sejarah peradaban kita. Begitu banyak bukti-bukti arkeologis yang menunjukkan kejayaan bangsa ini pada abad tujuh, delapan hingga 14, sebelum kolonialisme datang dan kemudian merusak seluruh tatanan kebudayaan kita," kata Hasto.

Hasto juga menegaskan bahwa PDIP mengutamakan sejarah dan kebudayaan dalam menjalankan haluan negara. Rekam jejak negara selalu menjadi acuan utama agar Indonesia kembali jaya seperti masa lalu.

"Kita bangsa pada abad ketujuh dengan teknologi yang begitu maju dengan filsafat darma yang menunjukkan inilah keindonesiaan kita yang seharusnya kita bangga. Sebagai bangsa besar dan bersama Pak Jokowi kami meyakini kita bisa mencapai kejayaan Indonesia Raya," pungkasnya.
(pur)
Berita Terkait
Aturan Keluarga Satu...
Aturan Keluarga Satu Partai Dinilai Beri Dampak Positif bagi PDIP
Jadi Partai Modern,...
Jadi Partai Modern, PDIP Dinilai Tak Tinggalkan Elan Kerakyatan
PDIP Akan Ekspose Prestasi...
PDIP Akan Ekspose Prestasi Kepemimpinan 3 Pilar Partai ke Publik
Romo Benny Sebut PDIP...
Romo Benny Sebut PDIP Partai Modern yang Kekuatannya pada Struktur Organisasi
PDIP Gelar Banteng Ride...
PDIP Gelar Banteng Ride and Night Run, 500 Orang Daftar
PDIP Akan Serap Aspirasi...
PDIP Akan Serap Aspirasi Rakyat Sebelum Bertemu Parpol Lain
Berita Terkini
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Penampakan Andri Mulyono...
Penampakan Andri Mulyono Pakai Rompi Tahanan usai Jadi Tersangka Baru Pengadaan Motor Listrik BGN
Kejagung: Tersangka...
Kejagung: Tersangka Andri Mulyono Mark up Pengadaan Motor Listrik BGN
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Refly Harun Pertanyakan...
Refly Harun Pertanyakan Nasib Kasus Roy Suryo Cs: Sudah 30 Kali Wajib Lapor, Kasus Belum Jelas
Infografis
Megawati Hangestri Gabung...
Megawati Hangestri Gabung Hyundai Hillstate di Liga Voli Korea Selatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved