Jokowi Minta Maaf, PDIP: Tunjukkan Kualitas Pemimpin yang Rendah Hati
Senin, 28 Oktober 2019 - 19:32 WIB
Jokowi Minta Maaf, PDIP: Tunjukkan Kualitas Pemimpin yang Rendah Hati
A
A
A
JAKARTA - Presiden Jokowi sempat menyampaikan permohonan maaf karena tak bisa mengakomodir seluruh kepentingan politik yang pernah mendukungnya dalam Pilpres 2019 lalu. Jokowi menyatakan, ada 300-an kandidat calon menteri, namun dirinya hanya diberikan kewenangan menyusun 34 menteri.
Menanggapi hal ini, Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengatakan, apa yang disampaikan Jokowi menunjukkan kualitas seorang pemimpin yang rendah hati.
"Sehingga beliau menunjukkan presiden punya hak prerogatif tapi dalam hal menyusun tidak bisa kita lihat menyenangkan semua pihak," kata Hasto usai menghadiri peringatan Sumpah Pemuda di GOR Bulungan, Jakarta, Senin (28/10/2019).
Bagi PDIP, kata Hasto, tugas pemimpin itu membawa perjuangan bagi bangsanya. Sehingga, seperti yang dikatakan Steve Jobs, bahwa pemimpin itu bukan penjual es krim yang membuat semua orang senang.
Salain itu, Hasto mengatakan, pemimpin itu memegang tanggung jawab bagi kemajuan bangsa. Karenanya, tolok ukurnya pada keputusan yang bisa dinikmati oleh semua masyarakat yang dipimpinnya.
"Jadi bukan pada kemampuan menyenangkan semua pihak. Tapi pak Jokowi menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa sehingga beliau meminta maaf," ujarnya.
Menanggapi hal ini, Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto mengatakan, apa yang disampaikan Jokowi menunjukkan kualitas seorang pemimpin yang rendah hati.
"Sehingga beliau menunjukkan presiden punya hak prerogatif tapi dalam hal menyusun tidak bisa kita lihat menyenangkan semua pihak," kata Hasto usai menghadiri peringatan Sumpah Pemuda di GOR Bulungan, Jakarta, Senin (28/10/2019).
Bagi PDIP, kata Hasto, tugas pemimpin itu membawa perjuangan bagi bangsanya. Sehingga, seperti yang dikatakan Steve Jobs, bahwa pemimpin itu bukan penjual es krim yang membuat semua orang senang.
Salain itu, Hasto mengatakan, pemimpin itu memegang tanggung jawab bagi kemajuan bangsa. Karenanya, tolok ukurnya pada keputusan yang bisa dinikmati oleh semua masyarakat yang dipimpinnya.
"Jadi bukan pada kemampuan menyenangkan semua pihak. Tapi pak Jokowi menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa sehingga beliau meminta maaf," ujarnya.
(pur)