Opini SINDO

Alquran dan Larangan Rasisme

loading...
Alquran dan Larangan Rasisme
Alquran dan Larangan Rasisme
A+ A-
Faisal Ismail
Guru Besar Pascasarjana FIAI
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Saat ini di Tanah Air isu tentang rasisme dan rasialisme mencuat ke permukaan dan menjadi sorotan hangat di berbagai media massa. Peristiwanya bermula dari dugaan ucapan rasis dan rasialis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Masyarakat Papua sangat tersinggung dan marah mendengar ucapan semacam itu. Akibatnya, meletus demonstrasi massa secara besar-besaran yang diikuti perusakan dan pembakaran yang menyebabkan kericuhan, kekacauan, dan kerusuhan di beberapa kota di Papua, misalnya di Sorong.

Tulisan ini tidak akan membicarakan siapa orang atau pemantik ucapan rasis dan rasialis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya itu. Biarlah petugas kepolisian yang menangani dan membawa kasusnya ke pengadilan jika memang ada bukti-bukti kuat tentang rasisme itu. Tulisan ini lebih memfokuskan perhatian dan pembahasannya bahwa Alquran sudah sejak 14,5 abad silam melarang keras rasisme dan rasialisme. Untuk membahas poin ini lebih detail, perlu terlebih dulu dikemukakan definisi rasisme/rasialisme.

Patrick Hans, dalam kamus akademiknya yang terkenal, Encyclopedic World Dictionary (terbitan Librairie du Liban, Beirut, 1974, hlm 1289), secara tepat dan akurat mengartikan kata racism/racialism sebagai: (1) kepercayaan bahwa sekelompok ras manusia mempunyai karakteristik khas yang menentukan kebudayaan mereka, biasanya melibatkan ide bahwa kebudayaan mereka lebih super dan memiliki hak untuk memerintah atau menguasai kebudayaan lain; (2) perilaku ofensif atau agresif terhadap kelompok ras lain yang ditimbulkan oleh kepercayaan seperti itu; (3) suatu kebijakan atau sistem pemerintahan dan masyarakat yang didasarkan pada kepercayaan seperti itu.



Larangan Rasisme
Dapat disimpulkan bahwa rasisme dan rasialisme adalah paham, cara berpikir, dan pandangan dari seseorang/sekelompok orang (ras, etnis, atau suku) yang merasa dan mengklaim dirinya lebih super, lebih bermartabat, lebih terhormat, dan lebih mulia dari orang/kelompok orang lain. Kelompok orang yang berpandangan seperti ini bersifat arogan dan mencibir, mengolok-olok, mencemooh, melecehkan, dan merendahkan orang-orang dari suku, etnis, dan ras lain.

Sudah 14,5 abad silam Alqur'an memperingatkan dan melarang ucapan, perilaku, dan perbuatan rasis dan rasialis ini. Secara gamblang Allah dalam Alquran mengingatkan dan menyadarkan manusia bahwa manusia itu diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku dengan tujuan agar manusia saling mengenal (QS Al-Hujurat ayat 13): "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu kenal mengenal."

Jadi perbedaan kebangsaan, etnis, dan suku yang ditandai dengan perbedaan warna kulit dan rambut sebenarnya bukan merupakan lambang supremasi dan superioritas, tetapi sebagai identitas untuk saling mengenal.



Setelah mengingatkan dan menyadarkan manusia tentang ide kesamaan dan prinsip persamaan derajat manusia di hadapan-Nya, Allah melarang manusia berbuat rasis dan bertindak rasialis: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (kaum yang diperolok-olok itu) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan yang diperolok-olok itu lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan janganlah memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman (QS Al-Hujurat: 11).
halaman ke-1 dari 2
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video
Top