Soal Kordamentha, Kubu Jokowi Nilai Sudirman Said Penuh Intrik Politik
Minggu, 24 Februari 2019 - 11:29 WIB
Soal Kordamentha, Kubu Jokowi Nilai Sudirman Said Penuh Intrik Politik
A
A
A
JAKARTA - Juru Materi Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang juga mantan Menteri ESDM Sudirman Said menyebut bahwa ada seseorang yang meminta dirinya untuk tidak melaporkan hasil audit forensik Kordamentha, kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat itu.
Menanggapi hal itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Inas Nasrullah Zubir mengatakan pernyataan Sudirman Said penuh dengan intrik politik sesat. “Dia menduga itu sengaja disusun oleh Prabowo Subianto dalam kontestasi pilpres 2019 untuk merebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai,” ujarnya melalui rilis yang diterima SINDOnews, Sabtu (23/2/2019).
Padahal yang terjadi sebenarnya adalah KPK berkirim surat kepada Pertamina pada tanggal 13 November 2015 lalu meminta hasil audit forensik Kordamentha. Selanjutnya pada tanggal 17 November 2015, Pertamina mengirim laporan audit forensik Kordamentha kepada KPK.
“Sedangkan pada saat itu Sudirman Said sedang sibuk dengan dirinya sendiri yang berupaya mencuci tangan akibat menyebarluaskan rekaman papa minta saham di mana kemudian di melapor ke MKD pada tanggal 16 November 2015,” jelasnya.
Sehingga Ketua DPP Partai Hanura ini mengaku tidak percaya apabila Sudirman Said mengatakan bahwa ada seorang staf Istana yang melarang dia untuk melaporkan hasil audit forensik Kordamentha kepada KPK. Pasalnya, KPK sendirilah yang secara aktif meminta laporan hasil audit forensik Kordamentha tersebut.
Selain itu, menurutnya tidak mungkin Presiden Jokowi mau mengambil risiko hukum maupun politik yang akan terjadi dengan cara meminta Sudirman Said menolak permintaan KPK. “Sehingga yang meminta Pertamina untuk menyerahkan bukti adanya dugaan tindak pidana korupsi yang tercantum dalam laporan audit forensik Kordamentha,” jelasnya.
Inas mengaku saat dirinya masih di Komisi VII DPR dan Sudirman Said masih Menteri ESDM, dia memang sering sekali berkeluh kesah baik secara pribadi maupun pada saat rapat kerja.
"Sehingga tidak heran kalau Sudirman Said takut berhadapan dengan saya yang sebenarnya juga diundang oleh sebuah media, tapi akhirnya undangan kepada saya tersebut dibatalkan atas permintaan Sudirman Said, dimana kemudian posisi saya digantikan oleh Fahmi Rady," pungkasnya.
Menanggapi hal itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Inas Nasrullah Zubir mengatakan pernyataan Sudirman Said penuh dengan intrik politik sesat. “Dia menduga itu sengaja disusun oleh Prabowo Subianto dalam kontestasi pilpres 2019 untuk merebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai,” ujarnya melalui rilis yang diterima SINDOnews, Sabtu (23/2/2019).
Padahal yang terjadi sebenarnya adalah KPK berkirim surat kepada Pertamina pada tanggal 13 November 2015 lalu meminta hasil audit forensik Kordamentha. Selanjutnya pada tanggal 17 November 2015, Pertamina mengirim laporan audit forensik Kordamentha kepada KPK.
“Sedangkan pada saat itu Sudirman Said sedang sibuk dengan dirinya sendiri yang berupaya mencuci tangan akibat menyebarluaskan rekaman papa minta saham di mana kemudian di melapor ke MKD pada tanggal 16 November 2015,” jelasnya.
Sehingga Ketua DPP Partai Hanura ini mengaku tidak percaya apabila Sudirman Said mengatakan bahwa ada seorang staf Istana yang melarang dia untuk melaporkan hasil audit forensik Kordamentha kepada KPK. Pasalnya, KPK sendirilah yang secara aktif meminta laporan hasil audit forensik Kordamentha tersebut.
Selain itu, menurutnya tidak mungkin Presiden Jokowi mau mengambil risiko hukum maupun politik yang akan terjadi dengan cara meminta Sudirman Said menolak permintaan KPK. “Sehingga yang meminta Pertamina untuk menyerahkan bukti adanya dugaan tindak pidana korupsi yang tercantum dalam laporan audit forensik Kordamentha,” jelasnya.
Inas mengaku saat dirinya masih di Komisi VII DPR dan Sudirman Said masih Menteri ESDM, dia memang sering sekali berkeluh kesah baik secara pribadi maupun pada saat rapat kerja.
"Sehingga tidak heran kalau Sudirman Said takut berhadapan dengan saya yang sebenarnya juga diundang oleh sebuah media, tapi akhirnya undangan kepada saya tersebut dibatalkan atas permintaan Sudirman Said, dimana kemudian posisi saya digantikan oleh Fahmi Rady," pungkasnya.
(kri)